Perjalanan masuk ITB

Hallo teman-teman, apa kabar? Semoga kalian dalam keadaan yang berbahagia.
Sebelumnya aku menjelaskan terlebih dahulu kenapa aku membuat tulisan ini.
Aku hanya ingin berbagi pengalamanku pada kalian. Bukan untuk memotivasi ataupun menginspirasi, bukan untuk memaparkan informasi, bukan pula untuk memberi tips ataupun trik untuk masuk kesini, aku hanya ingin berbagi cerita saja. Kalaupun ada motivasi, inspirasi, pelajaran, ataupun hikmah yang dalam tulisan yang biasa ini, mungkin itu hanyalah sebuah kebetulan belaka.
Atau kesengajaan.
Oke teman-teman, begini kisahnya.
(Saya sarankan untuk tidak perlu membuang-buang waktu baca bagian ini, lewati saja!)
          Pada zaman dahulu, ada seorang siswa yang berubah menjadi mahasiswa. Dia adalah aku. Setelah menjadi mahasiswa, ia pun berubah kembali, hanya saja bukan menjadi mahamahasiswa melainkan berubah menjadi individu yang lebih baik dari dirinya yang sebelumnya. Mulai dari cara berpikir, bertindak, belajar, bersosialisasi, berorganisasi, hingga bagaimana cara melihat ataupun memaknai kehidupan ini pun berubah. Mungkin ada yang berubah sedikit, sedang, atau banyak. Namun, dia benar-benar telah berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Ingin mengetahui kelanjutan kisahnya? Sayang sekali...
Bersambung
(Apakah kamu menyesal? Kuharap begitu. Hehe bercanda kok!)
Oke teman-teman, begini kisahnya.
          Dulu aku itu anak yang bisa dibilang menyedihkan. Hidup dalam dunia yang terdiri dari dua warna saja. Ultraviolet dan Infrared. Atau hitam putih ya? Terserah kalian deh..
Aku ga akan bercerita tentang kehidupanku, aku cuma mau menceritakan tiga sendok makan  kehidupanku dimasa lalu. Secara umum, aku tidak serius dalam belajar ataupun dalam hal lainnya dalam masalah pendidikan. Aku menjalani masa sekolahku dengan hampa, hanya pulang ke rumahlah yang membuat aku bersemangat. Kenapa? Karena disana aku bisa bersantai-santai. Boleh dibilang, sehari-hari aku dijajah oleh game. Batalion Play Station ketika aku SD, dan Batalion Komputer ketika aku SMP. Ya, aku dijajah untuk main PS dan game PC, khususnya game online. Bukan hanya itu, ternyata Batalion komputer memiliki aliansi dengan Batalion HP, jadi saat SMP aku dijajah oleh dua tentara yang berbeda namun sama, sama maksudnya sama-sama penjajah. Namun, ketika SMA aku berubah. Game penjajah itu ditaklukkan oleh seorang pahlawan.. eh bukan! dia sebenarnya penjajah baru sih.. namanya laptop. Ia menjajahku dengan film dan anime. Sungguh masa lalu yang kelam.
[Menurut salah seorang ahli sejarah, sebenarnya ada cahaya yang entah silau atau redup yang disembunyikan penulis. Jadi, kala itu tidak lah segelap ketika memejamkan mata sambil memakai kaca mata yang lensanya dilapisi cat hitam di dasar palung Meriana]
          Nah suatu saat ada seorang pahlawan yang menyelamatkan negara tersebut (baca: tiga sendok makan kehidupanku), yakni sang ksatria Kuliah. Pada masa ini, penjajahan telah diberantas habis, atau masih ada puing-puing penjajahannya :D . Yang pasti sinar matahari harapan berhasil menembus awan kegelapan yang menyerap energi cahaya yang hendak menyinari bumi manusia.
Intinya kehidupanku berubah menjadi lebih cerah.
*Intrupsi! Kok jadi OOT sih? Kan judulnya perjalanan masuk ITB, kok jadi cerita yang kaya gini.
Btw kamu apa benar kamu mahasiswa ITB?
Eh iya ya.. Tehee