Kore wa Nihon desu (6)


Tibalah hari terakhir di Jepang. Hari itu hari Jum’at. Kami masih di Tokyo, dan karena pesawat untuk pulang ada di Narita, makanya kami perlu ke Narita.

Dimulai dengan pagi yang cerah. Kami check out, lalu jalan ke tempat perbelanjaan buat beli oleh-oleh. Tujuannya tuh Daiso, soalnya jual benda-benda yang terhitung relatif murah kaya yang udah aku jelasin di bab awal-awal (iya kan? Atau ngga ya?), sebenernya ga bener-bener murah juga sih kalau di bandingkan dengan di Indonesia, tapi di sana tuh jual barang serba 100 yen, lumayan murah kan. Di sekitar tempat kaki ini menapak, tak begitu jauh ada Daiso (berdasarkan Google maps). Kami masuk ke supermarket yang besar, dan Daiso ada di lantai atasnya. Pas di supermarket aku beli beberapa makanan dan minuman dulu buat sarapan, kalau ga salah aku beli roti tawar, pisang, air mineral, dan onigiri tuna. Nah, awalnya aku keliling-keliling nyari makanan halal, cuma pada akhirnya aku nanya ke bapak-bapak yang ada di dekat sana, aku nanya onigiri yang mana yang rasa ikan pake bahasa Jepang, bisa lah ya yang sederhana mah, terus dicariin dan ketemu deh. Setelah itu aku ke kasir, aku bayar pakai uang yen (uang Jepang), bukan rupiah karena ga bisa dipakai. Setelah itu ke lantai atas, ke Daiso. Cuma Daiso yang ini tuh ga lengkap, jualnya alat-alat sehari-hari aja, ga ada suvenir-suvenir yang beraneka ragam kaya yang pernah kami lihat di Daiso yang ada di AON mall. Akibatnya kami memutuskan untuk ke Daiso yang ada di Aon mall.

Oh iya, sehabis belanja, tepat di depan supermarket besar itu, aku dan temanku duduk dulu sambil minum dan sambil ngamatin sekeliling. Aku sebenernya pengen sarapan di sana, di pinggir jalan itu, tapi jangankan makan, orang Jepang yang duduk aja ga ada, jadinya ya aku tunda dulu sarapannya. Aneh soalnya ngelakuin sesuatu yang mana ga ada seorang pun yang ngelakuin hal itu. Padahal di negara sendiri mah ngelakuin hal gitu tuh biasa aja, yak an? Dan karena hari itu tuh hari Jum’at, kami sempat bingung mau jum’atan di mana. Soalnya ga ada masjid yang dekat dari situ sementara jam sudah hampir jam 12. Dan adapun yang terdekat dari sana ukurannya kecil. Jadi di Jepang tuh hanya masjid-masjid tertentu aja yang ukurannya besar yang nyelenggarain shalat Jum’at (bener ga gini? Aku taunya dari internet sih). Dan setelah baca-baca referensi terkait status dan hukum shalat Jum’at bagi musafir, ternyata ga diwajibkan untuk musafir kaya kami, apalagi waktunya juga mepet karena nanti sore pesawatnya berangkat dan kami masih di kota yang berbeda, di Tokyo bukan Narita. Jadinya kami menggantinya dengan shalat dzuhur.

Dari sana kami ke stasiun terdekat. Awalnya kami mau naik shinkansen, kereta cepat itu loh, dan kami nanya ke petugas yang ada di semacam pusat informasi di stasiun buat dapetin info terkait itu. Di sini ada pengalaman menarik dan berkesan lagi loh, yakni pas kami nanya informasi tentang shinkansen, apakah dari stasiun itu ada shinkansen atau ngga. Jadi kan petugasnya tuh mba-mba, dia tuh ga jago bahasa Inggris, dan kami ga jago bahasa Jepang. Temanku nanya pake bahasa Inggris jadinya mba itu tuh kurang ngerti gitu. Dan aku sebenernya bisa dikit-dikit bahasa Jepang, tapi pas dengerin jawabannya kewalahan, ya ga begitu guna juga akhirnya. Untungnya aku punya Google translator, jadinya aku translate si kalimat-kalimatnya. Dan akhirnya si mbanya ngerti dan inisiatif ambil semacam tablet terus ngaktifin voice translator. Akhirnya jadi nyambung pembicaraannya. Hasilnya kami dapat info bahwa ga ada shinkansen di sana, adanya kereta biasa sama kereta express. Kami akhirnya pesen kereta express yang meskipun lebih mahal tapi lebih nyaman. Oh iya, yang menariknya tuh pas mba itu lagi nyariin jadwalnya. Pas dia lagi mikir keluar tuh nada-nada yang suka aku denger daric hara-chara anime, etto... etto.. etto.., lucu deh pokonya. Kirain di anime aja yang pake nada kaya gitu, taunya orang aslinya juga ada hehe. Contoh lainnya tuh kaya eng, ano, eh, are, dsb. Ya, ekspresi kaya gitu, entah apa istilahnya aku juga ga au.

Setelah itu kami pun naik keretanya yang jauh lebih nyaman daripada kereta-kereta biasa yang kami naiki sebelumnya. Di kereta ini udah disediain kursi khusus, yang udah ada nomernya, terus ada buat nyimpen makannya lagi di kursinya. Oh iya, awalnya kami salah masuk gerbong. Ya tentu saja karena kami ga ngerti tulisan Jepang yang ada di tiketnya. Awalnya kami masuk sesuai yang tertera, dan pas nemu kursinya eh Taunya udah ada yang isi bapak-bapak, terus kami nanya sambil ngasih liat tiket kami ke bapak itu. Eh taunya nomer yang sama ada juga di bagian belakang kereta, jadi semacam gerbong A gerbong B gitu kayana. Jadinya kamu jalan ke gerbong belakang ngelewatin beberapa gerbong. Hebatnya sambil gusur koper ditengah kereta yang lagi melaju, dan kami pun melaju kearah yang berlawanan. Wow, cape. Ok, seperti pepatah, setelah berlelah-lelah saatnya bersenang-senang. Setelah menemukan tempat duduk kami, kami pun duduk. Selama dikereta aku makan dan minum, sambil liat ke jendela, pemandangan-pemandangan yang indah. Hingga suatu saat kami pun tiba di Bandara Internasional Narita (Narita International Airport). Kami shalat dulu disana, shalat bertiga sama orang lain ga tau siapa udah ada di sana dari tadi. Dia yang jadi imamnya, keliatan kaya orang timur tengah, tapi pakaiannya pakaian biasa. Ga pake gamis maksudnya.

Terus karena masih ada waktu yang ga begitu lama, kami ke Daiso dulu. Kami ke Stasiun Narita (Narita Station) dulu terus naik bis ke AON mall. Kami ke Daisonya. Di sana aku beli suvenir-suvenir, gantungan anime, dsb khususnya untuk oleh-oleh buat adik-adikku. Setelah itu kami naik bis menuju Stasiun Narita (Narita Station). Ada momen yang cukup menegangkan loh. Jadi, waktu yang tersisa tinggal beberapa puluh menit lagi (kaya di game aja ya), sekitar setengah jam kalau ga salah, kami masih di bis menuju Stasiun Narita (Narita Station), dan pesawat yang akan kami naiki ga lama lagi akan dimulai prosesnya, check in dsb. Intinya bakalan sempat ga ya tiba di bandara tepat waktu, kalau ga sempat gimana? Pokoknya kepikiran deh sama hal-hal yang bikin khawatir. Kaya gimana kalau terlambat? Gimana kalau ketinggalan pesawat? Dan lain-lain. Ditambah entah kenapa bis ini sempet berhenti dulu, jalannya kaya tiba-tiba padat gitu. Wow wow wow. Untungnya bisa tiba di stasiun. Dan setelah tiba di sana kami langsung turun bis buru-buru dan langsung masuk ke dalem stasiun, agak lari jalannya. Kami buru-buru naik kereta. Dan eh entah kenapa si keretanya juga kaya nyantai gitu majunya. Apalagi pas lagi berpapasan dengan kereta lain dari arah berlawanan, majunya perlahan. Ini sengaja atau gimana ngelama-lamain wkwkw. Pokonya aku kaya tokoh dalam novel gitulah yang selalu mendapat rintagan untuk dihadapi, soalnya kan kalau ga ada rintangan g arame juga kan kalau novel tuh? Dan untungnya, kami bisa tiba di bandara tanpa terlambat dan bisa check in tepat waktu. Alhamdulillah sempet. Dan bahkan masih ada waktu beberapa menit setelah check in, jadinya kami bisa tuker kartu pasmo kami dulu ke dalam uang yen. Bisa beli minuman dulu juga.

Oh iya, pas lagi di kereta, ada bapak-bapak dengan ramahnya ngomong ke aku dan bertanya pada aku yang tengah berdiri di atas kereta itu. Apakah aku mau ke bandara, terus apakah aku dari Jakarta, dsb. Ko bisa tahu? Sharingan? Byakugan? Atau Rinnegan kah? Ternyata ia tahu dari tempelan bagasi di koperku, ia bilang gitu.

Ada satu momen yang sangat berkesan lagi yang aku dapatkan sebelum meninggalkan Narita ini, khususnya stasiun ini. Jadi sebenernya, ga begitu saja setelah tiba di stasiun kami langsung naik kereta, ada jeda waktu untuk nunggu kedatangan si kereta. Nah, pas lagi nunggu aku melihat puluhan manusia-manusia berseragam hitam sedang berdiri berjajar di seberang aku berdiri, kami dipisahkan oleh rel yang terletak 1 atau 1,5 m dibawah kami. Manusia-manusia itu adalah orang-orang Jepang. Mungkin anak sekolah, mahasiswa, atau mungkin pekerja kantoran yang sedang menunggu kereta. Saat itu sore hari, jadi mungkin mereka akan pulang ke rumahnya masing-masing. Saat itu aku melihat satu persatu wajah mereka, ternyata mirip-mirip hehe, dan gadis-gadis remajanya, SMP atau SMA entah apalah kayanya sih SMA, mereka terlihat berwajah imut-imut, kawaii, hehe.. Ya itu aja sih hehe. Momen penutup perjalananku di negeri Sakura ini. Entah kenapa aku suka ngamatin orang, mungkin ini peluang buat belajar tentang manusia dan budayanya ya jadinya suka aja gitu. Liat penampilannya, apa yang mereka lakukan, dan sebagainya. Khususnya selama di kereta, selain mengamati pemandangan-pemandangan kota, aku juga mengamati orang-orangnya. Anak-anak, remaja, dewasa, hingga lansia. Ya aku penasaran dengan mereka, aku memang penasaran dengan yang namanya manusia, apalagi yang berbeda dari kita.

Ok kembali ke kisah utama. Kami naik pesawat JAL menuju Jakarta. Tentunya ga tiba-tiba ada di dalam pesawat, ada prosesnya menuju ke sana, tapi ga aku ceritain. Paling mau ngasih tau aja kalau proses seleksi masuk pesawat di sini tuh jauh lebih mudah, cepet, dan sederhana dibanding pas di Jakarta, jadi enak lah pokonya. Terus terkait suasana pesawatnya, ya ga jauh beda sih sama pesawat yang aku naikin pas berangkat, maskapainya kan sama-sama JAL ya harusnya ga terlalu beda lah. Paling makanan, minuman, tempat duduk, dan pramugarinya aja sih yang beda, sama apa lagi ya? Oh iya, karena pesawatnya berangkatnya maghrib, makanya sebagian besar perjalanannya terjadi di malam hari, sehingga kebanyakan aku tidur deh pas pesawat lagi di langit. Jadinya maaf ya aku ga bisa cerita apa yang terjadi karena aku tidur waktu itu tuh. Oh iya, entah kenapa pesawatnya lama lepas landasnya, beberapa menit hanya bergerak di daratan. Tapi akhirnya terbang juga sih. Yey/Yaah.

Kami pun tiba di ibu kota negara Indonesia pada tengah malam. Di sana kami pesen tiket bis, ngembaliin wifi router yang kami sewa, lalu berangkat ke Bandung naik bis. Perjalanan lumayan macet, bukan lumayan lagi sih tapi bener-bener macet di suatu lokasi yang ga bisa aku sebutin karena aku tidur, pokonya perjalanannya jauh lebih lama karena ga sesuai waktu seharusnya kami nyampe di Bandung. Kami tiba di Bandung sekitar jam 7 atau 8 pagi. Di sana kami disambut ayahku sama temennya yang nyetirnya. Kami naik mobil ke kostan temanku dulu, nganterin dia dulu, terus selanjutnya ke rumahku. Ketika di mobil aku secara otomatis ngamatin lingkungan sekitar dan berpikir kenapa beda jauh ya?

Semoga kedepannya tempat-tempat yang aku lihat ini bisa serapi dan sebersih Jepang hehe. Karena selain orang-orangnya, jalan cepatnya, budaya disiplin dan taat aturannya, teknologi-teknologinya, aku suka sama kebersihan dan keindahan tempat-tempatnya, seperti jalannya yang bersih dan tampak bagus, aku suka itu.

Itulah kisahku selama 6 hari di sana. Menyenangkan dan berkesan. Sebuah pengalaman tak disangka-sangka yang luar biasa bagiku. Cuma sayangnya, aku ga bertemu shinobi ataupun samurai. Apalagi shogun ataupun kaisar. Ga apa-apa sih, yang penting ketemu …

Oh iya, uang yen nya masih nyisa loh, sengaja ga aku tukerin ke rupiah. Biar bisa ke sana lagi nanti hehe.. Do’akan saja ya.

Terakhir, aku ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada kedua orang tuaku yang mendukungku khususnya dukungan finansial sehingga aku bisa mendaftar dan mengikuti IYIS 2018 ini, kepada pihak-pihak kampus yang membantuku dalam berbagai hal sehingga aku bisa mengikuti program ini (ITB, TU, dosen, teman-teman lainnya yang memberiku bantuan, dan lainnya yang tak aku sebutkan), kepada teman setimku yang telah berjuang bersama-sama hingga terbang bersama (hampir tiap saat bareng terus, makasih ya bro), kepada panitia penyelenggara IYIS 2018 yang telah memberikan kami kesempatan padaku untuk mengikuti program ini, juga kepada teman-teman peserta-peserta IYIS 2018 yang telah menemaniku selama acara ini berlangsung.

Dan yang terpenting, aku ucapkan terima kasih kepada Allah SWT, karena hal ini terjadi atas kehendakNya.

Tak lupa, aku ucapkan juga terima kasih kepada pembaca sekalian yang mau meluangkan waktu untuk membaca tulisan-tulisanku ini.


Inilah Jepang. Kore wa Nihon desu. 

---

Tempat paling berkesan sebelum kembali ke tanah air, 
Stasiun Narita, tempat aku bertemu orang-orang Jepang yang sedang berjajar menunggu kereta
(Ini foto ketika awal tiba di sini di hari pertama)


Sedang di kereta menuju Bandara Internasional Narita


-------------------------------------

Tulisan ini dibuat sejak tanggal 22 Oktober 2018 dan selesai tanggal 6 Januari 2019.

Penulis : Rafiq-san