Di sana kami bikin pasmo dulu
biar kehidupan kami kedepannya mudah, selama di sini maksudnya. Kalau belum
tau, pasmo tuh semacam kartu yang bisa dipake buat bayar kereta dan bis tanpa perlu
ngasihin uang tunai secara langsung, jadi tinggal ditempel tuh kartu di tempat
nempel kartu yang ada di gerbang stasiun kereta atau di dekat supir bis. Nanti
pintunya otomatis kebuka buat yang di gerbang stasiun kereta, kalau yang di bis
cuma ngasilin info bahwa biayanya udah terbayar. Nah setelah selesai bikin
pasmo, kami ke langsung berangkat ke Stasiun Bandara Internasional Narita (Narita Int. Airport station) yang ada di
bandara buat pergi ke Stasiun Narita (Narita
station), kami pergi ke sana karena kami sudah pesen hostel (Daruma Guesthouse Narita) lewat internet
di sana, jadinya kami ke sana.
Setibanya di Stasiun Narita (Narita station) kami langsung jalan ke
lokasi hostel. Jaraknya ga terlalu jauh, tapi karena jalan kaki, terus jalannya
sambil narik koper, dan juga sambil ngeliatin aplikasi Google Maps yang sering
kali ga bener, kaya tiba-tiba pindah posisi akunya, jadinya perjalanannya kerasa
jauh dan lama.
Selama di perjalanan itu, aku
dapet kesan terkait Narita ini. Kesan pertama yang aku dapatin dari Narita tuh adalah
aku kagum, dalam hati ngerasa wah keren. Entah kenapa rasanya mengagumkan gitu,
mungkin karena pertama kali ke tempat kaya gitu kayanya. Dan di Narita tuh,
khususnya Narita yang aku lihat saat itu bukan seluruh Narita, meskipun terlihat
kaya kota karena banyak bangunan yang besar dan tinggi, anehnya jalanannya tuh
baik jalan tempat mobil dan motor lewat maupun pinggir jalan tempat pejalan
kaki lewat sepi banget. Dikit banget mobil yang lewat, apalagi motor, ga liat
tuh ada motor yang lewat. Dan pejalan kaki pun cuma beberapa orang saja yang aku
temui. Intinya suasananya sepi, padahal itu tuh baru sekitar jam 18, masih
maghrib lah ya. Cuma meskipun masih jam segitu, langitnya sudah gelap, jadi
kerasa seperti jam 19an kalau di Indonesia.
Nah setelah beberapa lama kami
tiba di lokasi. Setibanya di hostel Daruma, ternyata kami ga bisa masuk ke
dalam. Ke dalam hostelnya maksudnya, kalau ke dalam gedungnya mah bisa.
Hostelnya ada di lantai atas, lantai dua atau tiga kalau ga salah. Kalau nanya
kenapa bisa begitu? Jadi, ternyata pemesanan hostelnya tuh dibatalkan oleh
aplikasi buat pesennya gara-gara kartu debit atau kartu kredit ya? Aku lupa
kartu apa, pokoknya antara itu lah, intinya kartunya tuh ga valid. Entah karena
salah nomor atau karena pas waktu itu kartunya kartuku tapi yang pesannya
temanku pake akun temanku sehingga nama akun pemesan dan kartu beda, entahlah aku
juga ga tau. Akibatnya, kami jadi ga punya tempat nginep dan jadi kebingungan harus
nginep di mana malam itu. Kami nunggu lumayan lama di sana hingga kemudian kami
keluar karena buat apa nunggu juga ga ada gunanya, soalnya udah ga bisa lagi.
Oh iya, mau ngasih tau aja, hostelnya tuh ga ada penjaganya ataupun
pelayanannya, jadi di sana kami berinteraksi dengan entah si pemilik atau
penjaga lewat internet, di sana ada semacam tablet untuk ngehubungi pihak
hostelnya. Dan kalau lancar nanti dikasih tau kunci/password pintunya. Cuma
sayangnya ga lancar.
Kami pun keluar. Dan karena
sudah lapar, kami pergi ke sebuah toko yang lumayan besar (market) yang terletak di
dekat hostel itu. Waktu itu aku yang belanja, aku belanja sendirian, temanku nitip
makanan yang sama denganku. Nah, pas aku lagi belanja, aku kebingungan, ga ngerti
sama huruf-huruf Jepang yang nempel di kemasan-kemasan makanan ataupun yang ada
di sekitar ruangan. Memang aku pernah belajar bahasa Jepang pas SMA dan bisa bicara
pake bahasa Jepang dikit-dikit, cuma buat ngedengerin apa yang mereka ucapkan
masih belum lancar, dan tulisan yang aku bisa baca cuma hiragana aja, itupun
sebagian udah remang-remang, sedangkan katakana apalagi kanji masih belum bisa,
katakana pernah bisa cuma hampir 100% lupa wkwk. Dan juga, untuk bertanya pun
aku masih malu-malu, ini karena sifatku yang memang agak pemalu untuk nanya ke
orang, akibatnya ya aku keliling-keliling cari roti rasa buah-buahan biar
halal, meskipun belum tentu juga sih halal atau ngga, tapi kalau dibandingin
sama rasa coklat atau daging ya sepertinya lebih aman. Dan pada akhirnya aku beli
roti rasa apel, beli dua.
Ada pengalaman yang cukup
berkesan juga loh di sana. Pas aku bayar di kasir, mba-mba kasirnya tuh ngomong
sesuatu ke aku, tapi aku sama sekali ga gerti dia ngomong apa, bicaranya cepet
soalnya. Aku hanya ngebayangin kalau dia nanya punya kartu ga kaya di
supermarket di Indonesia wkwk. jadinya aku hanya berkata iie (ngga) beberapa
kali. Ga jelas kan? Oh iya, FYI mbanya wajahnya imut ala gadis Jepang gitu lah,
terus pas lagi ngomong ada nadanya, ditambah pas udah ngomong dianya senyum ke
aku, kyaa..
Belanja pun selesai. Setelah
itu aku keluar dan makan roti yang aku beli tadi bersama temanku di sebuah
bangku di depan market tersebut. Sambil
makan roti kami nyari alternatif tempat tinggal untuk istirahat malam ini.
Setelah beberapa lama mencari,
pilihan yang didapat tuh masjid, warnet, dan hotel/hostel. Cuma hotel/hostel
tentunya lumayan mahal dan bayarnya mesti pake uang yen, ga bisa transfer pake
rupiah. Dan karena masjid jaraknya jauh, warnet tidak ada yang terdeteksi, maka
akhirnya kami milih pesen hostel yang namanya tuh Caravan Hub. 3500 yen untuk semalam,
lumayan. Akibatnya uang yen kami pun berkurang cukup banyak untuk sesuatu yang
tak terduga. Oh iya kami cuma bawa sekitar 22500 yen, jadi minus 3500 yen ya
udah lumayan lah ya.
Setelah energi kami terisi
kembali kami mulai melakukan perjalan menuju Caravan Hub, tentunya dipandu oleh
Google Maps sang tour guide andalan
kami. Sebenernya karena ga ada lagi yang bisa diandalkan hehe. Dan suatu
ketika, kami pun tiba, tiba di sana, di hostel tercinta, eh. Itu cuma nyamain
rima aja hehe. Dan tau ga, di hostel tersebut aku dapat hal baru yang berkesan lagi,
bahkan sejak awal masuk ke sana. Jadi, aku terkesan sama gaya si penjaga hostel
itu, menurutku keren lah. Logat dan cara bicaranya bernada dengan dibagian
akhirnya dipanjangkan, entah berapa harakat. Di tambah ekspresi wajah dan
gerakannya tuh ekspresif banget, jadinya meninggalkan suatu kesan bagiku. Selain
dengan orangnya, terkait tempatnya aku mau ngasih gambaran, ukurannya ga
terlalu besar, bahkan bisa dikatakan kecil. Tapi nyaman dan lumayan estetik.
Dan setelah selesai registrasi check in,
kami pun tidur di sana malam itu. Di kasurnya maksudnya.
Besoknya kami bangun, setelah
sebelumnya tidur. Jadi, kami tuh bangun, tidur, terus bangun. Apa sih? Nah,
setelah bangun, terus dilanjutkan mandi, shalat, dan sarapan. Oh iya, terkait tempat
mandinya, meskipun ukurannya kecil namun enak dipakai. Aku suka desainnya,
khususnya untuk ruangan yang kecil dan terbatas. Kecil tapi nyaman dan bersih. Selanjutnya,
terkait sarapannya, kami makan sereal pakai susu cair yang disediakan disana
secara gratis untuk yang menginap di sana, rasanya juga lumayan enak meskipun
mengenyangkan tidaknya patut dipertanyakan.
Dan ketika di sana juga, di
hostel itu, aku dan temanku bertemu salah seorang peserta IYIS 2018 loh yang
kebetulan juga nginep di sana. Kami pun kenalan dengannya. Ia perempuan asal
Zimbabwe yang kuliah di Turki. Jadinya yang semula rencananya aku mau
jalan-jalan berdua sama temanku, jadinya bertiga dengan dia. Hari itu pun kami
bertiga jalan-jalan Bersama menjelajahi Narita.
Kami awali perjalanan ini
dengan jalan kaki tanpa tujuan, tapi masih di sekitar Narita. Namun, karena ga
jelas jalan tanpa tujuan, akhirnya kami diam dulu bentar sambal nentuin ke mana
arah pergerakan ini akan menuju. Kami pun memutuskan untuk ke museum penerbangan.
Kami bergegas ke tempat di mana bis berada. Jadi, kami naik bis untuk pergi ke
sananya. Kami naik, dan duduk, dan menunggu sampai binya berhenti. Tapi bisnya tuh
malah berhenti di mal, di AON Mall, entah kenapa sepertinya kami salah naik bis
atau gimana aku juga ga tau. Akibatnya kami malah keliling-keliling di mall
tersebut. Oh iya, di sana juga pas udah dari dalam mall kami ngeliat DAISO,
toko tempat jual oleh-oleh yang serba 100 yen. Kami bertiga masuk ke sana, tapi
kami ga beli apa-apa. Intinya cuma buat dapetin informasi, aku dapat informasi
yakni isi toko tersebut tuh barang-barang untuk keperluan sehari-hari, ga
terlalu aneh, tapi ada suvenir-suvenir juga ternyata. Dan tepat disamping
ruangan DAISO, tanpa dinding yang membatasi, ada toko yang menjual benda-benda
berbau anime. Di sana di jual gantungan, figur anime, manga, DVD, dsb.
Setelah puas atau mungkin udah
lelah atau udah bosen berada di sana, kami naik bis lagi ke arah Stasiun Narita
(Narita station), tempat kami naik di
awal. Diperjalanan ini kami melewati tempat yang unik. Itu tuh jalan yang agak
miring, yang di kiri kanannya ada toko-toko yang menjual barang-barang atau
makanan, kayanya itu pasar deh. Tempatnya bercorak tradisional gitu. Kami
ngerasa energi budaya Jepangnya memancar di sini. Kami ingin turun tapi ga tahu
boleh atau ngga turun di tempat yang bukan tempat pemberhentiannya. Dan kalaupun
bisa turun kami ga tau di mana kami bisa naik bis buat kembali ke hostel. Akibatnya
kami turunnya di Stasiun Narita (Narita
station, kembali ke awal). Kalau di fisika berarti kami ga ngelakuin usaha
sama sekali. Jadi kami ngapain atuh? Hehe
Dari sana kami milih ngunjungin
tempat-tempat lain yang terdekat dari sana, dengan mengandalkan Google Maps lagi
kali ini sebagai travel guide bukan tour guide, kami berhasil tiba di sebuah
museum tradisional dan selanjutnya di pasar tradisional tadi, ternyata ga jauh
dari kuil, dan sebuah kuil yang mungkin jadi tujuan utama kami, Naritasan
shinshoji temple.
Museumnya cuma berisi
benda-benda dan foto-foto berbau sejarah tradisional Jepang, jadinya kami ga
lama di sana. Di pasar cuma numpang lewat aja, sambal liat-liat sekeliling.
Banyak makanan aneh-aneh dan benda aneh. Tapi keren sih menurutku. Dan paling lama
tuh kami ngisi waktu di kuil. Kami foto-foto dan ngeliat-liat suasana sekitar.
Di sana banyak orang yang berkunjung, udaranya pun juga terasa berbeda. Selain
itu, pas di sana aku ngeliat ada beberapa orang Jepang lagi berdo’a, lalu ada
juga yang lagi ngelempar koin ke kolam yang di dalamnya ada batu dan banyak
kura-kura. Entah apa tujuan dan maksudnya. Kami pun berjalan-jalan di sekitar
kuil, hingga suatu saat kami bertemu kata selesai, dalam arti lain kamu sudah
merasa cukup untuk berada di sana dan ingin pindah mengunjungi tempat
berikutnya.
Nah, kesan yang aku dapetin
selama jalan-jalan di Narita, ialah bahwa Narita tuh terkesan tradisional.
Sehingga budaya-budaya Jepangnya terasa. Entah ini kota atau desa, aku lebih
merasa seperti desa sebab di Narita masih ada lahan-lahan berisi
pepohonan-pepohonan. Tapi meskipun begitu, bangunan-bangunan besar khas kota
ada di sini. Jadi bingung aku juga, ini desa atau kota. Tapi kalau kenyataannya
ini kota, rasanya beda jauh dengan Tokyo yang akan aku ceritakan nanti. Pokonya
di Narita ini suasana Jepangnya terasa banget. Oh iya, sama terkait cuacanya, cuacanya
sedikit dingin dan berangin, khususnya di pagi hari. Dan satu lagi, terkait
tempat dan infrastrukturnya, aku suka sama jalan-jalannya, bukan kata kerja ya
tapi kata benda. Jalan-jalannya tuh rapi dan bersih, warnanya abu-abu, dan ga
ada yang namanya macet di sini. Relatif sepi. Tapi, tetep aja ada juga
orang-orang yang berlalu-lalang di siang harinya, lebih banyak dibandingkan
ketika malam.




