Kore wa Nihon desu (1)

Narita menyambutku. Aku dan temanku mendarat di Bandara Internasional Narita (Narita International Airport).

Di sana kami bikin pasmo dulu biar kehidupan kami kedepannya mudah, selama di sini maksudnya. Kalau belum tau, pasmo tuh semacam kartu yang bisa dipake buat bayar kereta dan bis tanpa perlu ngasihin uang tunai secara langsung, jadi tinggal ditempel tuh kartu di tempat nempel kartu yang ada di gerbang stasiun kereta atau di dekat supir bis. Nanti pintunya otomatis kebuka buat yang di gerbang stasiun kereta, kalau yang di bis cuma ngasilin info bahwa biayanya udah terbayar. Nah setelah selesai bikin pasmo, kami ke langsung berangkat ke Stasiun Bandara Internasional Narita (Narita Int. Airport station) yang ada di bandara buat pergi ke Stasiun Narita (Narita station), kami pergi ke sana karena kami sudah pesen hostel (Daruma Guesthouse Narita) lewat internet di sana, jadinya kami ke sana.

Setibanya di Stasiun Narita (Narita station) kami langsung jalan ke lokasi hostel. Jaraknya ga terlalu jauh, tapi karena jalan kaki, terus jalannya sambil narik koper, dan juga sambil ngeliatin aplikasi Google Maps yang sering kali ga bener, kaya tiba-tiba pindah posisi akunya, jadinya perjalanannya kerasa jauh dan lama.

Selama di perjalanan itu, aku dapet kesan terkait Narita ini. Kesan pertama yang aku dapatin dari Narita tuh adalah aku kagum, dalam hati ngerasa wah keren. Entah kenapa rasanya mengagumkan gitu, mungkin karena pertama kali ke tempat kaya gitu kayanya. Dan di Narita tuh, khususnya Narita yang aku lihat saat itu bukan seluruh Narita, meskipun terlihat kaya kota karena banyak bangunan yang besar dan tinggi, anehnya jalanannya tuh baik jalan tempat mobil dan motor lewat maupun pinggir jalan tempat pejalan kaki lewat sepi banget. Dikit banget mobil yang lewat, apalagi motor, ga liat tuh ada motor yang lewat. Dan pejalan kaki pun cuma beberapa orang saja yang aku temui. Intinya suasananya sepi, padahal itu tuh baru sekitar jam 18, masih maghrib lah ya. Cuma meskipun masih jam segitu, langitnya sudah gelap, jadi kerasa seperti jam 19an kalau di Indonesia.

Nah setelah beberapa lama kami tiba di lokasi. Setibanya di hostel Daruma, ternyata kami ga bisa masuk ke dalam. Ke dalam hostelnya maksudnya, kalau ke dalam gedungnya mah bisa. Hostelnya ada di lantai atas, lantai dua atau tiga kalau ga salah. Kalau nanya kenapa bisa begitu? Jadi, ternyata pemesanan hostelnya tuh dibatalkan oleh aplikasi buat pesennya gara-gara kartu debit atau kartu kredit ya? Aku lupa kartu apa, pokoknya antara itu lah, intinya kartunya tuh ga valid. Entah karena salah nomor atau karena pas waktu itu kartunya kartuku tapi yang pesannya temanku pake akun temanku sehingga nama akun pemesan dan kartu beda, entahlah aku juga ga tau. Akibatnya, kami jadi ga punya tempat nginep dan jadi kebingungan harus nginep di mana malam itu. Kami nunggu lumayan lama di sana hingga kemudian kami keluar karena buat apa nunggu juga ga ada gunanya, soalnya udah ga bisa lagi. Oh iya, mau ngasih tau aja, hostelnya tuh ga ada penjaganya ataupun pelayanannya, jadi di sana kami berinteraksi dengan entah si pemilik atau penjaga lewat internet, di sana ada semacam tablet untuk ngehubungi pihak hostelnya. Dan kalau lancar nanti dikasih tau kunci/password pintunya. Cuma sayangnya ga lancar.

Kami pun keluar. Dan karena sudah lapar, kami pergi ke sebuah toko yang lumayan besar (market) yang terletak di dekat hostel itu. Waktu itu aku yang belanja, aku belanja sendirian, temanku nitip makanan yang sama denganku. Nah, pas aku lagi belanja, aku kebingungan, ga ngerti sama huruf-huruf Jepang yang nempel di kemasan-kemasan makanan ataupun yang ada di sekitar ruangan. Memang aku pernah belajar bahasa Jepang pas SMA dan bisa bicara pake bahasa Jepang dikit-dikit, cuma buat ngedengerin apa yang mereka ucapkan masih belum lancar, dan tulisan yang aku bisa baca cuma hiragana aja, itupun sebagian udah remang-remang, sedangkan katakana apalagi kanji masih belum bisa, katakana pernah bisa cuma hampir 100% lupa wkwk. Dan juga, untuk bertanya pun aku masih malu-malu, ini karena sifatku yang memang agak pemalu untuk nanya ke orang, akibatnya ya aku keliling-keliling cari roti rasa buah-buahan biar halal, meskipun belum tentu juga sih halal atau ngga, tapi kalau dibandingin sama rasa coklat atau daging ya sepertinya lebih aman. Dan pada akhirnya aku beli roti rasa apel, beli dua.

Ada pengalaman yang cukup berkesan juga loh di sana. Pas aku bayar di kasir, mba-mba kasirnya tuh ngomong sesuatu ke aku, tapi aku sama sekali ga gerti dia ngomong apa, bicaranya cepet soalnya. Aku hanya ngebayangin kalau dia nanya punya kartu ga kaya di supermarket di Indonesia wkwk. jadinya aku hanya berkata iie (ngga) beberapa kali. Ga jelas kan? Oh iya, FYI mbanya wajahnya imut ala gadis Jepang gitu lah, terus pas lagi ngomong ada nadanya, ditambah pas udah ngomong dianya senyum ke aku, kyaa..

Belanja pun selesai. Setelah itu aku keluar dan makan roti yang aku beli tadi bersama temanku di sebuah bangku di depan market tersebut. Sambil makan roti kami nyari alternatif tempat tinggal untuk istirahat malam ini.
Setelah beberapa lama mencari, pilihan yang didapat tuh masjid, warnet, dan hotel/hostel. Cuma hotel/hostel tentunya lumayan mahal dan bayarnya mesti pake uang yen, ga bisa transfer pake rupiah. Dan karena masjid jaraknya jauh, warnet tidak ada yang terdeteksi, maka akhirnya kami milih pesen hostel yang namanya tuh Caravan Hub. 3500 yen untuk semalam, lumayan. Akibatnya uang yen kami pun berkurang cukup banyak untuk sesuatu yang tak terduga. Oh iya kami cuma bawa sekitar 22500 yen, jadi minus 3500 yen ya udah lumayan lah ya.

Setelah energi kami terisi kembali kami mulai melakukan perjalan menuju Caravan Hub, tentunya dipandu oleh Google Maps sang tour guide andalan kami. Sebenernya karena ga ada lagi yang bisa diandalkan hehe. Dan suatu ketika, kami pun tiba, tiba di sana, di hostel tercinta, eh. Itu cuma nyamain rima aja hehe. Dan tau ga, di hostel tersebut aku dapat hal baru yang berkesan lagi, bahkan sejak awal masuk ke sana. Jadi, aku terkesan sama gaya si penjaga hostel itu, menurutku keren lah. Logat dan cara bicaranya bernada dengan dibagian akhirnya dipanjangkan, entah berapa harakat. Di tambah ekspresi wajah dan gerakannya tuh ekspresif banget, jadinya meninggalkan suatu kesan bagiku. Selain dengan orangnya, terkait tempatnya aku mau ngasih gambaran, ukurannya ga terlalu besar, bahkan bisa dikatakan kecil. Tapi nyaman dan lumayan estetik. Dan setelah selesai registrasi check in, kami pun tidur di sana malam itu. Di kasurnya maksudnya.

Besoknya kami bangun, setelah sebelumnya tidur. Jadi, kami tuh bangun, tidur, terus bangun. Apa sih? Nah, setelah bangun, terus dilanjutkan mandi, shalat, dan sarapan. Oh iya, terkait tempat mandinya, meskipun ukurannya kecil namun enak dipakai. Aku suka desainnya, khususnya untuk ruangan yang kecil dan terbatas. Kecil tapi nyaman dan bersih. Selanjutnya, terkait sarapannya, kami makan sereal pakai susu cair yang disediakan disana secara gratis untuk yang menginap di sana, rasanya juga lumayan enak meskipun mengenyangkan tidaknya patut dipertanyakan.
Dan ketika di sana juga, di hostel itu, aku dan temanku bertemu salah seorang peserta IYIS 2018 loh yang kebetulan juga nginep di sana. Kami pun kenalan dengannya. Ia perempuan asal Zimbabwe yang kuliah di Turki. Jadinya yang semula rencananya aku mau jalan-jalan berdua sama temanku, jadinya bertiga dengan dia. Hari itu pun kami bertiga jalan-jalan Bersama menjelajahi Narita.

Kami awali perjalanan ini dengan jalan kaki tanpa tujuan, tapi masih di sekitar Narita. Namun, karena ga jelas jalan tanpa tujuan, akhirnya kami diam dulu bentar sambal nentuin ke mana arah pergerakan ini akan menuju. Kami pun memutuskan untuk ke museum penerbangan. Kami bergegas ke tempat di mana bis berada. Jadi, kami naik bis untuk pergi ke sananya. Kami naik, dan duduk, dan menunggu sampai binya berhenti. Tapi bisnya tuh malah berhenti di mal, di AON Mall, entah kenapa sepertinya kami salah naik bis atau gimana aku juga ga tau. Akibatnya kami malah keliling-keliling di mall tersebut. Oh iya, di sana juga pas udah dari dalam mall kami ngeliat DAISO, toko tempat jual oleh-oleh yang serba 100 yen. Kami bertiga masuk ke sana, tapi kami ga beli apa-apa. Intinya cuma buat dapetin informasi, aku dapat informasi yakni isi toko tersebut tuh barang-barang untuk keperluan sehari-hari, ga terlalu aneh, tapi ada suvenir-suvenir juga ternyata. Dan tepat disamping ruangan DAISO, tanpa dinding yang membatasi, ada toko yang menjual benda-benda berbau anime. Di sana di jual gantungan, figur anime, manga, DVD, dsb.

Setelah puas atau mungkin udah lelah atau udah bosen berada di sana, kami naik bis lagi ke arah Stasiun Narita (Narita station), tempat kami naik di awal. Diperjalanan ini kami melewati tempat yang unik. Itu tuh jalan yang agak miring, yang di kiri kanannya ada toko-toko yang menjual barang-barang atau makanan, kayanya itu pasar deh. Tempatnya bercorak tradisional gitu. Kami ngerasa energi budaya Jepangnya memancar di sini. Kami ingin turun tapi ga tahu boleh atau ngga turun di tempat yang bukan tempat pemberhentiannya. Dan kalaupun bisa turun kami ga tau di mana kami bisa naik bis buat kembali ke hostel. Akibatnya kami turunnya di Stasiun Narita (Narita station, kembali ke awal). Kalau di fisika berarti kami ga ngelakuin usaha sama sekali. Jadi kami ngapain atuh? Hehe

Dari sana kami milih ngunjungin tempat-tempat lain yang terdekat dari sana, dengan mengandalkan Google Maps lagi kali ini sebagai travel guide bukan tour guide, kami berhasil tiba di sebuah museum tradisional dan selanjutnya di pasar tradisional tadi, ternyata ga jauh dari kuil, dan sebuah kuil yang mungkin jadi tujuan utama kami, Naritasan shinshoji temple.

Museumnya cuma berisi benda-benda dan foto-foto berbau sejarah tradisional Jepang, jadinya kami ga lama di sana. Di pasar cuma numpang lewat aja, sambal liat-liat sekeliling. Banyak makanan aneh-aneh dan benda aneh. Tapi keren sih menurutku. Dan paling lama tuh kami ngisi waktu di kuil. Kami foto-foto dan ngeliat-liat suasana sekitar. Di sana banyak orang yang berkunjung, udaranya pun juga terasa berbeda. Selain itu, pas di sana aku ngeliat ada beberapa orang Jepang lagi berdo’a, lalu ada juga yang lagi ngelempar koin ke kolam yang di dalamnya ada batu dan banyak kura-kura. Entah apa tujuan dan maksudnya. Kami pun berjalan-jalan di sekitar kuil, hingga suatu saat kami bertemu kata selesai, dalam arti lain kamu sudah merasa cukup untuk berada di sana dan ingin pindah mengunjungi tempat berikutnya.

Nah, kesan yang aku dapetin selama jalan-jalan di Narita, ialah bahwa Narita tuh terkesan tradisional. Sehingga budaya-budaya Jepangnya terasa. Entah ini kota atau desa, aku lebih merasa seperti desa sebab di Narita masih ada lahan-lahan berisi pepohonan-pepohonan. Tapi meskipun begitu, bangunan-bangunan besar khas kota ada di sini. Jadi bingung aku juga, ini desa atau kota. Tapi kalau kenyataannya ini kota, rasanya beda jauh dengan Tokyo yang akan aku ceritakan nanti. Pokonya di Narita ini suasana Jepangnya terasa banget. Oh iya, sama terkait cuacanya, cuacanya sedikit dingin dan berangin, khususnya di pagi hari. Dan satu lagi, terkait tempat dan infrastrukturnya, aku suka sama jalan-jalannya, bukan kata kerja ya tapi kata benda. Jalan-jalannya tuh rapi dan bersih, warnanya abu-abu, dan ga ada yang namanya macet di sini. Relatif sepi. Tapi, tetep aja ada juga orang-orang yang berlalu-lalang di siang harinya, lebih banyak dibandingkan ketika malam.

---
Jalan pas lagi jalan-jalan

Rel pas lagi jalan-jalan

Pasar ?

Kuil (Naritasan Shinshoji Temple)

Kuil (Naritasan Shinshoji Temple)