Trilogi : Kenapa aku bodoh? (3)

 

Bodoh?


Mari istirahat sejenak. Barangkali kamu pusing membaca tulisanku diatas, aku akan menuliskan intinya spesial untukmu, ya untuk kamu. Jadi sederhananya adalah aku bisa selalu mendapat ranking 1 dari SD sampai SMA bukan karena aku itu pintar, punya banyak ilmu dan pengetahuan mengenai pelajaran-pelajaran yang diajarkan, tapi lebih disebabkan oleh strategi, motivasi, dan kerja keras. Mungkin faktor kecerdasan berperan, tapi aku tidak tahu juga apakah aku orang yang cerdas, punya kecerdasan yang lebih dari orang lain. Mungkin hasil tes IQ berkata demikian, meski ga lebih dari hasil Sidis, Tao, Kim, dkk. Tapi apalah itu, menurutku itu hanya alat yang mengukur sebagian kecil kecerdasan, tidak menunjukkan kecerdasan yang sebenarnya lebih luas. 

Karena pola pikirku yang masih sempit saat itu, maka aku bilang bahwa saat itu aku bodoh. Bodoh yang aku maksud bukan karena tidak bisa memahami suatu hal, tapi karena aku tenggelam dalam pemikiran yang kecil dan sempit. Aku terlalu fokus pada keinginan, salah satunya mendapat ranking 1. Kebodohanku ialah tidak fokus pada ilmu, pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman selama sekolah. Aku bahkan belum tahu kenapa aku sekolah? Apa sebenarnya sekolah itu? Apa itu pendidikan? Apa itu belajar? Apa pentingnya ilmu, pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman? Jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu baru aku temukan saat ini, setelah keluar dari zona tersebut, meskipun belum lengkap sebenarnya. Selain itu, kebodohanku yang lain adalah terlalu berlebihan dalam mencari kesenangan, ya sederhananya lebih banyak waktu yang aku habiskan untuk bersenang-senang daripada belajar yang pada akhirnya aku menyesal karena itu hanyalah kebahagiaan semu sesaat dan aku benar-benar kurang belajar akibatnya. Kebodohan yang lain adalah menyianyiakan kesempatan mengembangkan softskill. Jujur, aku menjauhi organisasi-organisasi. Bahkan aku menolak dengan tegas ketika aku akan dituliskan jadi calon OSIS oleh kakak kelas pas SMP. Ketika SMA pun, aku sempat ikut ekskul jurnalistik bernama Just Magazine (JUST), dulu aku menyianyiakannya, padahal sekarang aku sadar bahwa dunia literasi sangat menarik bagiku, mungkin saja suatu hari nanti aku menjadi seseorang di bidang ini hehe. Dulu aku malah sering bolos ekskul ini karena sifatku yang pemalu yang nanti akan dijelaskan lebih lengkap dan juga karena aku menginginkan waktu luang lebih banyak untuk hiburan sepulang sekolah. Aku bergabung dari kelas X dan aktif pada waktu itu saja, pas kelas XI lebih rajin bolosnya karena penyebab baru mulai muncul, sulitnya bergaul dengan adik kelas. Aku menyesal tidak serius di ekskul tersebut padahal suasananya enak, teman-teman dan kakak-kakak kelasnya baik, begitupun adik kelasnya, kalau bisa aku ingin pergi ke masa lalu membuat banyak cerita, puisi, dan tulisan lainnya serta bisa bersosialisasi dengan yang lainnya. Btw, entah kenapa ya aku masuk ekskul/unit bidang kepenulisan baik SMA maupun kuliah, padahal awalnya ga sengaja loh, karena salah anggapan aja? Mungkin ini yang membuat aku tertarik dengan tulisan-tulisan, walaupun baru mulai tertarik nulis pas tingkat 2 kuliah. Ekskul lainnya adalah ROHIS, aku bergabung ketika kelas XII atau kelas XI ya? aku lupa, nah karena tidak dari awal jadinya kurang bener juga berorganisasinya dan tentu saja ekskul ini juga menyenangkan, mungkin karena teman-teman yang aku kenal atau yang dekat denganku lebih banyak. Oh iya, sedikit informasi, aku tuh sepertinya lebih gampang akrab dengan teman laki-laki. Tapi bukan berarti aku tidak tertarik pada teman perempuan, aku tertarik kok. Cuma ya mau gimana lagi, aku kan pemalu dan mungkin hasil didikan dari kecil juga untuk menjaga pergaulan agar tidak terjerumus ke pergaulan bebas. Sepertinya inilah yang membuat aku berkata di ROHIS lebih banyak teman dekat dibanding di JUST, karena di JUST kebanyakan teman-teman seangkatanku perempuan, jadi akunya malu-malu gitu. Padalah aku pengen punya temen-temen dengan rasio laki-laki dan perempuan yang lebih seimbang. Kebodohan lainnya adalah, eh tunggu aku rasa ini bukan kebodohan, tapi kalau dipikir-pikir memang kebodohan sih, tapi kebodohan yang aku lakukan satu ini adalah kebodohan suatu generasi menurutku, kebodohan yang dilakukan banyak manusia dari berbagai belahan dunia, yakni penggunakaan teknologi diluar batas wajar. Yah, jujur saja aku memang bodoh waktu dulu. Ketika SD aku kecanduan PS, SMP medsos dan game online, dan SMA anime. Parah, benar-benar parah, sungguh masa-masa yang kelam. Akibat buruknya, aku bermasalah secara sosial meskipun ada faktor lain juga sih yang berpengaruh. Jujur saja aku sulit bergaul, penyendiri dan pemalu. Bahkan ada aja yang bilang aku sombong, sedih, padahal bukan begitu sebenarnya, bukan karena aku tidak ingin menyapa atau berbincang-bincang, malahan sebaliknya, aku ingin bermain, bercanda tawa, dan membicarakan banyak hal dengan orang lain, tapi sulit untuk seorang introvert yang bermasalah secara sosial untuk melakukannya. Tapi, seiring berjalannya waktu sifat-sifat itu bisa berkurang, tapi tetap saja bahkan saat ini setelah kuliah pun aku masih sulit bergaul, bahkan memulai pembicaraan, apalagi memperoleh banyak teman. Perlu orang lain yang mendekatiku duluan, dengan begitu aku akan lebih terbuka. Bagusnya, saat ini aku sedang berusaha untuk lebih berjiwa sosial, tapi jujur saja susah. Meskipun begitu, kalau sudah akrab denganku tidak jarang aku dianggap orang yang ngeselin, aneh, bahkan positifnya menjadi friendly. Tapi hingga saat ini baru segelintir orang saja yang berhasil.
Untungnya, saat kelas XI SMA hidupku terselamatkan. Aku mengalami suatu hal yang menciptakan perubahan besar bagi hidupku yang membuatku menjadi lebih baik dan menuntunku untuk bisa berpikir. Salah satu hasilnya adalah tulisan ini. Memang saat kelas XI telah terjadi perubahan dalam hal memandang akademik. Aku pernah berpikiran bodo amat dengan nilai-nilaiku. Penyebabnya karena pergantian kurikulum yang ga jelas, menurutku kurikulum baru ini lebih banyak tugas-tugasnya daripada materinya, jadi aku lebih banyak bersantai tidak banyak belajar karena waktu luang lebih banyak rasanya. Di tahun ini pas kelas XI maksudnya, tingkat menonton animeku meningkat drastis bahkan tiap hari aku menonton anime, ini jadi kebiasaanku sampai kelas XII, sekarang juga masih hehe.Jujur saja aku menyukai hal-hal yang krearif dan imajinatif, meskipun agak kekanak-kanakan sih, tapi bisa kan diseimbangkan dengan berpikir secara dewasa, bahkan merenung laksana kakek bijak yang mencari makna hehe.. Tapi, hal yang membuatku berubah menjadi lebih baik bukan karena kebiasaan nonton ini ataupun karena menurunnya tingkat kepedulianku pada akademik, tapi lebih karena aku memperjuangkan sesuatu yang lebih mulia. Kalau nilai-nilai turun karena belajar agama ga apa-apa lah ya pikirku, ini demi sesuatu yang lebih mulia kan? Ya, mungkin karena orang-orang disekitar juga berpengaruh, kalau orang-orang sekitarku jago-jago akademik ya aku berjuang disana, kalau di bidang olah raga atau seni ya aku ikut-ikutan kesana, tapi untungnya saat itu ada temanku yang jago di bidang agama, akhirnya sekarang aku berjuang disana. Lebih banyak belajar agama, meskipun dari kelas X aku sudah tertarik dengan mata kuliah eh mata pelajaran agama dan lucunya pas psikotes di kampus zaman penerimaan maba, aku menjawab PAI sebagai pelajaran favorit, anehkan? Aku kuliah di sebuah Institut yang terkenal dengan tekniknya, malah mengisi pelajaran agama sebagai pelajaran favorit bukannya matematika atau sains.

Sebenarnya... selain cerita tentang diriku semasa SMA, aku juga menyisipkan pemikiran-pemikiran kecilku mengenai sekolah, khusunya mengenai ranking loh, tapi tenang aja ini tidak seperti penyisipan ideologi-ideologi pada anak-anak muda kok, santai aja. Saat ini aku memiliki pola pikir, cara pandang, pengetahuan, dan wawasan yang lebih luas dan lebih terbuka sehingga ketika aku memikirkan masa laluku aku ingin tertawa, tapi sebenarnya kalau bisa aku ingin kembali ke masa lalu dan melakukan hal yang lebih berguna khususnya ketika bersekolah. Inikah yang bernama penyesalan?
Sekarang, tahukah kamu kenapa aku membuat cerita seperti yang kamu baca diatas?
Setelah sejauh ini, aku punya tujuan baru, ingat perkataanku sebelumnya kan? Sebagaimana zaman yang berubah maka tidaklah mengeherankan jika tujuanku juga berubah hoho. Sekarang aku ingin mengajak siapapun yang membaca tulisan ini untuk berpikir lebih luas dan terbuka, juga ingin membeli sedikit pelajaran agar kalian tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti yang aku lakukan. Aku ingin berbagi motivasi dan inspirasi bagi semua orang, eh terlalu luas ya? Buat kamu deh, yang lagi baca tulisan ini. Tapi serius, aku ingin jadi motivator dan inspirator, tapi bukan dengan cara berbicara di depan orang-orang kaya motivator-motivator pada umumnya, dengan caraku tentunya.

Sebelum penutupan, eh ditutup, aku ingin memberikan suatu pelajaran dari pengalaman. Ingatkan istilah sebaik-baiknya guru adalah pengalaman? Siapa ya yang bilangnya, aku lupa. Dan sebagai hadiah untuk kamu yang telah membaca tulisanku yang entah berfaedah atau tidak ini. Sepucuk surat yang sebenernya cuma tulisan yang di kasih efek sastra sih.

Sebagai nasihat saja, bagi engkau yang terlalu terlelap dalam perkara akademik dan engkau yang terlena dengan indahnya dunia luar, sesungguhnya ada hal yang jauh lebih penting untuk diperhatikan, terkerucutnya di masa-masa sekolah yang tengah atau telah kau jalani. Peringkat akademi, prestasi, sertifikat, medali, dan sesuatu yang serumpi. Memanglah sesuatu yang membanggakan dan penting bagi sebagian orang, namun ketika engkau memikirkan makna dari pendidikan dan pembelajaran maupun makna dari sekolah itu sendiri, terdapat sesuatu yang lebih beresensi. Bagiku, ilmu pengetahuan yang terkuasai, keterampilan yang mumpuni, dan pengalaman yang terukir dalam memori, hal-hal seperti itulah yang kau butuhkan di masa depan nanti. Andaikan aku kembali, kembali ke masa lalu tuk memperbaiki. Aku ingin mengejar ketiga hal itu. Ketika aku memikirkan mengenai pembelajaran, yang esensinya adalah belajar. Aku teringat akan untaian kata-kata yang pernah kucerna, hakikat belajar itu ialah menciptakan perubahan, perubahan dalam pemikiran, yang merubah tindakan. Lalu ketika ku memikirkan pendidikan, terpikirlah olehku bahwasannya kita sekolah bukan hanya diajari apa yang tidak diketahui, tapi juga dididik, untuk menjadi insan yang lebih baik.

Intinya, tidak mengapa jika kita ingin mengikuti sistem, sistem pendidikan yang ada di negara ini, meskipun kita memiliki pola pikir bahwa ada sistem pendidikan yang lebih baik diluar sana. Tapi coba bayangkan, kita memiliki ilmu yang sangat tinggi apakah ada yang peduli? Bandingkan dengan mereka yang memiliki ijazah dan gelar yang tinggi, siapa yang lebih dihargai? Meskipun begitu, dari hasil aku belajar, tentunya bukan belajar mengenai pelajaran yang diajarkan disekolah, melainkan belajar mengenai kehidupan yang aku dapatkan dari membaca berbagai tulisan. Ilmu dan pengetahuanlah kuncinya. Itulah kunci yang dimiliki orang-orang hebat, orang-orang sukses. Mereka memilikinya, itu adalah hal dasar dan fundamental. Jika itu sulit, minimal kamu memiliki suatu kemampuan. Karena kemampuan tidak kalah penting dari pengetahuan. Tidak masalah, dalam hal olahraga, seni, agama, organisasi, atau bahkan hiburan. Asalkan kita punya suatu kemampuan, suatu keahlian, aku rasa suatu saat nanti hal tersebut akan sangat dibutuhkan. Apalagi jika dipadukan dengan pengetahuan. Jadi, jangan sampai kamu punya ijazah dan gelar yang tinggi, tapi ilmu dan pengetahuan dan kemampuan atau keterampilan tidak kamu miliki. Sungguh sangat disayangkan kalau begitu.

Terakhir, sebagai akibat tidak serius dan bersungguh-sungguh dalam belajar dan dalam menempuh pendidikan, dampaknya itu terasa di kemudian hari. Misalnya untuk saat ini, aku telah menempuh 1 tahun kuliah dan sekarang aku akan menempuh semester 3, aku merasakan tertinggal dan terbelakang, meskipun aku tidak terlalu peduli sih, kan ilmu pengetahuan lebih penting, atau imajinasi ya? Kalau kata Einstein si imajinasi lebih penting dari pengetahuan. Tapi, kata Rafiq gimana? Apakah dia setuju? Menurut Rafiq di masa depan, iman/keyakinan lah yang lebih penting. Rafiq pada saat akan menempuh semester 6. Mungkin jika dibandingkan dengan teman-teman di negara yang sama aku bisa bersaing bahkan menyusulnya, tapi jika dibandingkan negara lain yang lebih maju, aku sadar, dibutuhkannya kerja yang sangat keras dan semangat yang sangat tinggi untuk bisa bersaing dan mengalahkan mereka.
Meskipun begitu, aku bersyukur karena menemukan sesuatu hal yang luar biasa, yang aku temukan ketika kelas XI SMA itu loh, yang aku singgung sebelumnya. Itulah yang membuat aku lebih baik. apakah itu?

Buku.

Aku mulai membaca buku.

Dan sekarang aku menjadi semakin bodoh. Semakin banyak aku mencari tahu semakin kurasa betapa bodohnya aku. Di banding ‘mereka’, aku bukanlah siapa-siapa. Namun, karena kebodohan ini, aku tersadar. Aku perlu belajar. Bukan belajar seperti yang kita lakukan di sekolah-sekolah, tapi belajar tentang sesuatu yang lebih besar. Melainkan belajar tentang kehidupan itu sendiri.

Aku belajar, bahwasannya kehidupan itu luas, banyak sekali bidang yang bisa kita masuki. Kesuksesan misalnya, sekarang aku menjadi mengerti kalau sukses itu relatif, maksudnya apa arti sukses menurut tiap orang berbeda-beda. Ada yang menganggap sukses adalah tercapainya cita-cita, sukses itu punya banyak harta, sukses itu menjadi seseorang, atau bla..bla..bla..  Dan satu hal yang cukup penting untuk dipahami, sukses itu tidaklah hanya pada suatu bidang. Contohnya, pendidikan. Dulu aku menganggap sukses itu ada pada pendidikan, menjadi yang terbaik disini lah jalan yang tepat untuk menuju kesuksesan, mungkin itu karena aku tidak berpikir dan mengikuti kebanyakan orang saja. Meskipun tidak sepenuhnya salah bahwa unggul dalam pendidikan banyak yang sukses. Tapi, setelah kupikir-pikir, kita bisa sukses di bidang apa saja. Yang baik tentunya. Misal seni. Tak perlu menjadi orang No.1 di sekolah, asalkan memiliki karya-karya seni yang bernilai tinggi maka bisa menuntunmu pada kesuksesan. Atau olah raga, menjadi ahli dalam suatu bidang olah raga pun bisa membuatmu sukses. Bukan hanya itu, hal lainnya pun mulai dari Agama hingga hiburan sekalipun bisa menuntunmu pada kesuksesan, Untuk hiburan, misalkan game, komik, musik, dan sebagainya. Bisa saja membuatmu sukses. Intinya, kita semua memiliki kemampuan yang berbeda. Ada yang jago di hal ini, tapi tidak di hal itu. Tak apa, fokus dan kembangkan keahlianmu meskipun itu bidang yang disepelekan orang. Misalkan kamu jago menggambar, corat-coret di buku tulis. Mungkin orang lain menganggapnya itu hal yang buang-buang waktu. Tapi kalau kita kembangkan, misal pada pembuatan komik, ilustrasi, desain, animasi, dsb. Itu bisa membuatmu menjadi orang yang bisa sukses. Coba cari di internet, berapa banyak komikus, ilustrator, desainer, ataupun animtor yang sukses, bahkan terkenal ke berbagai penjuru dunia!

Tapi, tetap saja ada satu hal yang tak boleh kita lupakan. Sengaja tidak aku tuliskan sebelum-sebelumnya, karena tulisan ini lebih dikhususkan di segi tertentu, dan juga agar aku tidak dipandang sebagai orang tertentu. Aku rasa kalian semua tahu apa ini, sehingga tak perlu aku jelaskan. Hal ini bisa kamu temukan dalam agama. Tahukan, kekuatan apa itu? Kekuatan yang begitu besar itu?

Eh iya, aku lupa perkenalan.
Kenalkan aku Rafiq Naufal Shidiq, alumni SMAN Tanjungsari. Sekarang lagi kuliah di ITB. 

Terakhir, aku mengutip sebuah quotes dari tiga orang hebat (tapi yang satu, anggap aja hebat lah ya buat yang satu ini aja), yakni seorang penulis (penulis tulisan ini maksudnya atau pengennya seorang penulis hebat yang sungguhan? mungkin suatu saat nanti hehe..), seorang pebisnis yang luar biasa, dan seorang filsuf yang bijaksana.

"Stay hungry, stay foolish." Steve Jobs

Salah eorang jenius visioner berkata untuk tetap bodoh.

“Jika aku harus menjadi bodoh, aku ingin menjadi orang bodoh yang jenius.” Rafiq NS

Maksudnya, aku mengombinasikan bodoh (kurangnya pengetahuan) dengan jenius (berlebihnya keingintahuan).

Bagiku...

"Menjadi orang bodoh karena banyak ketidaktahuannya namun selalu mencari tahu lebih baik dari orang pintar yang menganggap tahu segalanya namun tidak ingin mencari tahu." Rafiq NS

Jadi, tidaklah salah untuk mengakui bahwa aku ini bodoh, tidak tahu apa-apa.

Karena...

“Satu-satunya kebijaksanaan sejati adalah mengetahui bahwa Anda tidak tahu apa- apa.“ Socrates
...

The End

Di buat tanggal 7 Juli 2017.
Di revisi tanggal 2 Januari 2019
(Hanya perbaikan kesalahan penulisan dan penambahan 2 kalimat)

Trilogi : Kenapa aku bodoh? (2)

 

Aku


Kita mulai dari..
Ranking 1.
Apa yang kamu pikirkan mengenai hal itu?
Jujur saja, aku sering mendengar banyak orang yang mengerjar posisi ini, khususnya mereka yang terjerat atau menyukai dunia yang bernama akademi ini. Bahkan banyak orang tua yang mendorong anak-anaknya untuk meraih ranking 1. Tidak sedikit juga pertanyaan-pertanyaan dari keluarga ataupun orang lain mengenai ranking kita di sekolah sehingga rangking 1 menjadi sebuah jawaban yang diharapkan. Orang yang mendapat ranking 1 pun seringkali dipandang sebagai orang yang pintar, bahkan anehnya ada yang mengatakan cerdas atau jenius. Meskipun pastinya memang ada sih siswa peraih ranking 1 yang benar-benar pintar, cerdas, bahkan jenius.
Lalu bangaimana denganku?
Mungkin aku hanyalah butiran debu dipojokkan kelas dibanding mereka.. (sambal terdengar iringan piano bernada sedih). Apaan sih?
Begini, aku ingin menjelaskan dari awal supaya jelas. Marilah kita mulai dengan proses penciptaan alam semesta. Eh.. ga mau ya? Jujur aja kamu pasti ga mau kan denger eh baca penjelasan tentang bagaimana alam semesta ini terbentuk kan? Yaudah kalau begitu, terpaksa aku akan menjelaskan proses meraih ranking 1 dari sudut pandangku saja.
Pertanyaannya, untuk meraih ranking 1 apakah kita harus menjadi pintar, cerdas, atau jenius?
Tentu saja tidak. Tidak perlu menjadi pintar yakni memahami pelajaran dengan sangat baik. Tidak perlu jadi cerdas dengan memiliki wawasan yang luas. Tidak perlu menjadi jenius dengan menguasai suatu ilmu pengetahuan hingga tidak ada yang bisa menandingi. Untuk menjadi ranking 1, yang kita perlukan hanyalah menjadi lebih baik dari siswa lain dalam hal akademik, khususnya dalam memperoleh nilai. Untuk mendapat ranking 1, yang kita perlukan adalah nilai raport lebih tinggi dari siswa lain. intinya cuma itu meskipun ada aspek lain seperti perilaku atau keterampilan yang mungkin dinilai juga. Tapi itu hal kecil, hal utamanya adalah nilai raport yang tersusun atas nilai-nilai mata pelajaran yang diajarkan, bukan yang tidak diajarkan. Lalu, gimana caranya mendapat nilai-nilai yang tinggi? Apakah satu-satunya cara ialah dengan menguasai setiap mata pelajaran? Tidak juga. Menurut saya, yang paling penting adalah mendapat nilai yang baik di ujian dan tugas-tugas. Lalu untuk dapat nilai yang tinggi di ujian atau tugas apakah perlu menjadi pintar? Tidak juga, yang kita perlukan adalah menjawab ujian dengan benar dan mengerjakan tugas dengan baik. Dan tentu saja, kita tidak harus benar-benar menguasai suatu mata pelajaran, kita hanya perlu memahami subjek yang diujiankan saja. Bahkan dengan mengandalkan hafalan tanpa memahami juga sebenarnya bisa. Sebenarnya aku tidak terlalu suka sistem seperti itu meskipun aku tidak dirugikan. Aku lebih suka sistem pendidikan yang fokus pada bakat dan minat siswanya, tidak mengurung kreativitas, dan akan terlihat bahwa siswa terpintar dan terbodoh tidak ada bedanya karena masing-masing punya keunggulan di bidang yang berbeda. Dan inilah adalah salah satu kesalahan besar yang aku lakukan selama SD, SMP, SMA. Aku cenderung menggunakan hafalan, menghafal setiap kata demi kata, bahkan aku pernah karena tidak paham aku jawab saja soal-soal itu dengan kata-kata yang sama persis dengan buku meskipun tidak tahu maksudnya apa. Aku juga terjerumus untuk mencari tahu cara menguatkan hafalan, otak kiri otak kanan, tips-tips apalah gitu yang sebenarnya dari sudut pandangku saat itu, hal-hal seperti itu tidak terlalu penting, maksudku banyak hal yang jauh lebih penting dari hal tersebut dan lebih menantang secara intelektual, misalnya permasalahan dunia kaya bahaya teknologi yang lebih cerdas dari manusia, perang nuklir, wabah penyakit yang menyebar ke seluruh negara, perubahan iklim, krisi energi, eh terlalu jauh ya? Hehe.. Slow refreshing dulu. Nah, selain hafalan rupanya ada faktor-faktor lain seperti strategi, motivasi dan kerja keras yang aku pikir lebih berpengaruh, khususnya bagiku. Aku tidak tahu bagaimana siswa lain yang mendapatkan ranking 1 meraih peringkat tersebut. Tapi inilah caraku. Punya cara sendiri ga apa-apa kan ya?
Asal kalian tahu, aku mendapatkan nilai-nilai yang tinggi atau sempurna bukan karena aku mengerti setiap pelajaran yang diajarkan padaku. Jujur saja banyak yang materi pelajaran yang belum aku mengerti, banyak yang membuatku bingung. Bahkan hingga saat ini pun sebenarnya aku masih belum menguasai satupun mata pelajaran. Ini karena aku belum belajar dengan serius dan sungguh-sungguh atau karena aku tidak begitu tertarik pada mata pelajaran yang diajarkan di sekolah. Aku lebih tertarik pada menjadi yang terbaik selama bersekolah dulu. 
Mungkin beberapa temanku akan tidak setuju dengan ini, aku tahu orang lain melihatku sebagai anak yang rajin. Tapi apakah benar demikian? Dalam beberapa hal memang benar. Salah satu hal yang membuatku dapat ranking 1 adalah karena rajin ini. Aku secara khusus rajin dalam mencatat dan mengerjakan tugas. Meskipun aku lebih sering terlihat sedang belajar, sesungguhnya aku tidaklah belajar. Kenapa begitu? Karena yang aku lakukan pada saat itu kebanyakan menghafal saja, menghafal semuanya agar mendapatkan nilai yang tinggi, bukan memahami setiap materi dan mencari pelajaran apa yang berguna bagi kehidupan nyata. Tapi, bukan berarti aku setuju dengan istilah jangan menghafal, tapi memahai. Bagiku menghafal juga penting kok, sejarah membuktikan orang-orang dengan ingatan yang kuat adalah orang-orang hebat, coba baca kisah-kisah ulama-ulama atau imam-imam Islam zaman dahulu. Aku mungkin bisa hafal lebih banyak mengenai subjek yang akan diujiankan, ini juga yang membuatku bisa mendapat nilai yang baik. Tapi ini tidak berarti aku tidak paham sama sekali, aku paham sedikit hanya saja secara otomatis. Mungkin ini penyebab aku belum menguasai satupun mata pelajaran dan parahnya banyak yang kemudian terlupakan di kemudian hari.
Seperti yang aku bilang sebelumnya, strategi, motivasi dan kerja keras sih yang sebenarnya sangat berpengaruh, bukan karena daya hafal. Jujur saja, terkadang aku bisa mengingat dengan baik tapi terkadang aku mudah lupa, bahkan aku telah menghilangkan beberapa hal penting, seperti kunci motor beberapa kali atau mengingat nama orang, mungkin itu adalah salah satu hal yang sulit bagiku. Dalam hal strategi, sebelum ujian aku membuat jadwal, metode-metode, langkah-langkah, poin-poin, dan sebagainya. Memanglah telihat seperti sebuah strategi dan aku memang suka membuat strategi serta bereksperimen mengenai cara belajar yang lebih baik. Tapi sesungguhnya aku belum belajar. Karena belajar itu harus ada hasilnya, dan apakah yang aku dapatkan? Ilmu? Pengetahuan? Hanya sedikit, serius hanya sedikit. Mungkin aku memang bisa memahami, tapi dulu aku tidak mencoba memahami, aku belum menganggap ilmu dan pengetahuan itu penting. Jadi, aku hanya menggunakannya untuk mencapai tujuan saja. Aku merasa hampa jadinya. Selanjutnya, mengenai motivasi, karena motivasi ingin menjadi lebih baik dan menjadi yang terbaik lah yang mendorongku untuk mewujudkan keinginanku, ya aku memang sedikit perfeksionis karena itulah aku bisa mewujudkan hal itu walaupun faktanya aku telah gagal berkali-kali. Serius, perfeksionis ini membuatku gagal lebih banyak. Bahkan diakhir SMA ku aku mengalami dua kegagalan yang besar. Aku gagal dalam UN, SNMPTN, dan SBMPTN. Yang terbesar ialah kegagalanku masuk jurusan perkuliahan yang diinginkan, meskipun kegagalanku yang terakhir itu ada rasa manis-manisnya juga hehehe...Jadi bisa mencicipi kuliah disini.  Terakhir, kerja keraslah salah satu pembeda antara aku dengan siswa pemalas yang tidak kerja keras. Ya, meskipun namanya kerja keras, tapi kerja kerasku ini tidak seperti kerja keras orang-orang sukses, anggap saja kerja keras level bawah yang bangkit pada waktu dan keadaan tertentu saja dalam durasi yang tidak cukup lama.
Jadi, kesimpulannya adalah aku mendapatkan ranking 1 bukan karena aku pintar. Aku hanya sedikit menggunakan akal untuk meraihnya saja, mencari suatu cara untuk mewujudkan tujuanku itu. Bukan karena memiliki banyak ilmu dan pengetahuan seperti yang beberapa orang pikirkan.
...

Berikutnya : Bodoh?

Trilogi : Kenapa aku bodoh? (1)

 

Kenapa


Entah mengapa, semakin lama waktu melaju, semakin sadar bodohnya aku.
Mungkin ini berbeda atau berkebalikan dengan pandangan orang lain terhadapku.
Sebelum dimulai aku ingin menekankan terlebih dahulu bahwa besar kemungkinan kita melihat kata bodoh ini dengan cara yang berbeda. Sehingga bisa saja ini aneh bagi beberapa orang, namun sebenarnya cukup masuk akal.
Pernahkah kamu mendengar orang yang selalu memperoleh ranking 1 dari SD hingga SMA menyatakan bahwa dirinya bodoh?
Kalau belum pernah, selamat! Mungkin suatu saat nanti pernah.
Kurasa saat ini aku akan menceritakan beberapa hal yang berkaitan dengan cara kita memandang sesuatu.
Tapi alangkah baiknya aku memberitahumu bahwa aku yang dulu berbeda dengan sekarang, tidak benar-benar berbeda sih, inti dan hakikatnya sama aja, hanya beberapa hal dariku yang berubah sebagaimana zaman yang selalu berubah. Hehehe.. Ya, begitulah. Aku telah berubah, khususnya dalam hal yang berkaitan dengan kecerdasan, pemikiran, intelektualitas, dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Wajar saja, sekarang aku sudah bukan anak SMA lagi, apalagi TK, sekarang aku sudah menjadi mahasiswa jadi tidaklah aneh lah ya kalau ada perubahan hohoho. Hanya saja aku tidak tahu apakah hal lainnya seperti kepribadian atau yang lainnya juga berubah.

Selama aku SD hingga SMA, eh TK sampai SMA aku merasa bahwa aku begitu polos. Ya, dalam hal pemikiran khususnya. Pemikiran dan cara pandangku akan dunia begitu sempit pada waktu itu.
Oh iya, sebenarnya aku masih bingung, lawannya bodoh itu apa ya? Apakah pintar, cerdas, jenius, atau apa? Mungkin kebanyakan dari kita terbiasa menggunakan istilah pintar sebagai lawan dari bodoh, jadi untuk kali ini aku cenderung akan menggunakan kata ini. Tapi aku ingin mendefinisikan terlebih dahulu supaya jelas, sebenarnya pintar itu apa sih? Menurut pemahamanku saat ini, pintar itu berarti memahami suatu ilmu atau pengetahuan akibat hasil suatu pembelajaran. Maksudnya pintar itu berarti kamu jago dalam pelajaran. Terus, pintar itu dihasilkan dari belajar dan setiap orang tentunya bisa menjadi pintar. Ini berbeda dengan cerdas atau jenius. Sebenarnya perlu bahasan yang lumayan panjang lebar untuk membedakan pintar, cerdas, dan jenius. Tapi untuk mempermudah, dalam hal ini aku menggunakan cerdas sebagai punya kemampuan yang lebih dari yang lain dalam melakukan sesuatu dan dalam memecahkan masalah. Orang yang cerdas akan terlihat dari cara berpikir, berbicara, atau bertindaknya yang lebih baik dari orang lain. Dan untuk jenius sendiri, secara sempit anggap saja memiliki kemampuan luar biasa dalam suatu hal. Secara sempit aja ya, karena kalau secara luas banyak definisi yang beda-beda, baik dari segi psikologi, bahasa, sejarah, dan sebagainya. Orang-orang jenius ini benar-benar berbeda dari orang biasa, bahkan orang pintar dan cerdas sekalipun. Kamu akan melihat bahwa orang itu benar-benar berada di level yang berbeda, punya keahlian luar biasa, ide-ide luar biasa. FYI sesungguhnya tidak menutup kemungkinan bahwa bisa saja orang jenius itu bodoh. Serius, tidak sedikit orang jenius yang bodoh. Aku punya bukunya tentang kebodohan-kebodohan mereka.
Nah kebanyakan orang bilang kalau aku pintar. Tapi jujur saja aku lebih suka menjadi orang jenius atau paling tidak cerdaslah, eh super cerdas kalau boleh. Tapi kebanyakan umat tidak membedakan antara pintar, cerdas, dan jenius. Bahkan banyak istilah-istilah lain yang biasanya susah untuk dibedakan dengan pintar, cerdas, dan jenius oleh orang awam, sebut saja berbakat, prodigy, savant, dsb. Nah FYI lagi, berbakat, prodigy, dan savant paling sulit dibedakan dengan yang namanya jenius, tapi setelah diteliti lebih jauh oleh diriku, jangan bayangkan penelitian, ternyata beda banget.

Sekarang aku akan menjelaskan kenapa meskipun aku bisa memperoleh ranking 1 terus aku merasa bahwa aku tidak pintar bahkan bodoh. Tapi sebelum aku mulai menjelaskannya aku pengen bilang bahwa tujuanku menulis tulisan ini cuma ingin berbagi cerita saja. Mungkin terdapat pelajaran ataupun sudut pandang baru mengenai beberapa hal, tapi bukan itu tujuanku saat ini.

Baiklah, kamu siap?
...

Berikutnya : Aku