Kenapa
Entah mengapa, semakin lama waktu melaju, semakin sadar bodohnya aku.
Mungkin ini berbeda atau berkebalikan dengan pandangan orang
lain terhadapku.
Sebelum dimulai aku ingin menekankan terlebih dahulu bahwa
besar kemungkinan kita melihat kata bodoh ini dengan cara yang berbeda.
Sehingga bisa saja ini aneh bagi beberapa orang, namun sebenarnya cukup masuk
akal.
Pernahkah kamu mendengar orang yang selalu memperoleh
ranking 1 dari SD hingga SMA menyatakan bahwa dirinya bodoh?
Kalau belum pernah, selamat! Mungkin suatu saat nanti
pernah.
Kurasa saat ini aku akan menceritakan beberapa hal yang
berkaitan dengan cara kita memandang sesuatu.
Tapi alangkah baiknya aku memberitahumu bahwa aku yang dulu berbeda
dengan sekarang, tidak benar-benar berbeda sih, inti dan hakikatnya sama aja, hanya
beberapa hal dariku yang berubah sebagaimana zaman yang selalu berubah.
Hehehe.. Ya, begitulah. Aku telah berubah, khususnya dalam hal yang berkaitan
dengan kecerdasan, pemikiran, intelektualitas, dan hal-hal yang berkaitan
dengannya. Wajar saja, sekarang aku sudah bukan anak SMA lagi, apalagi TK,
sekarang aku sudah menjadi mahasiswa jadi tidaklah aneh lah ya kalau ada
perubahan hohoho. Hanya saja aku tidak tahu apakah hal lainnya seperti
kepribadian atau yang lainnya juga berubah.
Selama aku SD hingga SMA, eh TK sampai SMA aku merasa bahwa
aku begitu polos. Ya, dalam hal pemikiran khususnya. Pemikiran dan cara
pandangku akan dunia begitu sempit pada waktu itu.
Oh iya, sebenarnya aku masih bingung, lawannya bodoh itu apa
ya? Apakah pintar, cerdas, jenius, atau apa? Mungkin kebanyakan dari kita
terbiasa menggunakan istilah pintar sebagai lawan dari bodoh, jadi untuk kali
ini aku cenderung akan menggunakan kata ini. Tapi aku ingin mendefinisikan
terlebih dahulu supaya jelas, sebenarnya pintar itu apa sih? Menurut
pemahamanku saat ini, pintar itu berarti memahami suatu ilmu atau pengetahuan akibat
hasil suatu pembelajaran. Maksudnya pintar itu berarti kamu jago dalam pelajaran. Terus, pintar itu
dihasilkan dari belajar dan setiap orang tentunya bisa menjadi pintar. Ini berbeda dengan cerdas atau jenius. Sebenarnya perlu bahasan yang lumayan panjang lebar untuk
membedakan pintar, cerdas, dan jenius. Tapi untuk mempermudah, dalam hal ini
aku menggunakan cerdas sebagai punya kemampuan yang lebih dari yang lain dalam
melakukan sesuatu dan dalam memecahkan masalah. Orang yang cerdas akan terlihat
dari cara berpikir, berbicara, atau bertindaknya yang lebih baik dari orang
lain. Dan untuk jenius sendiri, secara sempit anggap saja memiliki kemampuan
luar biasa dalam suatu hal. Secara sempit aja ya, karena kalau secara luas
banyak definisi yang beda-beda, baik dari segi psikologi, bahasa, sejarah, dan
sebagainya. Orang-orang jenius ini benar-benar berbeda dari orang biasa, bahkan
orang pintar dan cerdas sekalipun. Kamu akan melihat bahwa orang itu
benar-benar berada di level yang berbeda, punya keahlian luar biasa, ide-ide
luar biasa. FYI sesungguhnya tidak menutup kemungkinan bahwa bisa saja orang
jenius itu bodoh. Serius, tidak sedikit orang jenius yang bodoh. Aku punya
bukunya tentang kebodohan-kebodohan mereka.
Nah kebanyakan orang bilang kalau aku pintar. Tapi jujur
saja aku lebih suka menjadi orang jenius atau paling tidak cerdaslah, eh super
cerdas kalau boleh. Tapi kebanyakan umat tidak membedakan antara pintar,
cerdas, dan jenius. Bahkan banyak istilah-istilah lain yang biasanya susah untuk dibedakan dengan pintar, cerdas, dan jenius oleh orang awam, sebut
saja berbakat, prodigy, savant, dsb. Nah FYI lagi, berbakat, prodigy, dan
savant paling sulit dibedakan dengan yang namanya jenius, tapi setelah diteliti
lebih jauh oleh diriku, jangan bayangkan penelitian, ternyata beda banget.
Sekarang aku akan menjelaskan kenapa meskipun aku bisa
memperoleh ranking 1 terus aku merasa bahwa aku tidak pintar bahkan bodoh. Tapi
sebelum aku mulai menjelaskannya aku pengen bilang bahwa tujuanku menulis
tulisan ini cuma ingin berbagi cerita saja. Mungkin terdapat pelajaran ataupun
sudut pandang baru mengenai beberapa hal, tapi bukan itu tujuanku saat ini.
Baiklah, kamu siap?
...
Berikutnya : Aku
...
Berikutnya : Aku