Trilogi : Kenapa aku bodoh? (1)

 

Kenapa


Entah mengapa, semakin lama waktu melaju, semakin sadar bodohnya aku.
Mungkin ini berbeda atau berkebalikan dengan pandangan orang lain terhadapku.
Sebelum dimulai aku ingin menekankan terlebih dahulu bahwa besar kemungkinan kita melihat kata bodoh ini dengan cara yang berbeda. Sehingga bisa saja ini aneh bagi beberapa orang, namun sebenarnya cukup masuk akal.
Pernahkah kamu mendengar orang yang selalu memperoleh ranking 1 dari SD hingga SMA menyatakan bahwa dirinya bodoh?
Kalau belum pernah, selamat! Mungkin suatu saat nanti pernah.
Kurasa saat ini aku akan menceritakan beberapa hal yang berkaitan dengan cara kita memandang sesuatu.
Tapi alangkah baiknya aku memberitahumu bahwa aku yang dulu berbeda dengan sekarang, tidak benar-benar berbeda sih, inti dan hakikatnya sama aja, hanya beberapa hal dariku yang berubah sebagaimana zaman yang selalu berubah. Hehehe.. Ya, begitulah. Aku telah berubah, khususnya dalam hal yang berkaitan dengan kecerdasan, pemikiran, intelektualitas, dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Wajar saja, sekarang aku sudah bukan anak SMA lagi, apalagi TK, sekarang aku sudah menjadi mahasiswa jadi tidaklah aneh lah ya kalau ada perubahan hohoho. Hanya saja aku tidak tahu apakah hal lainnya seperti kepribadian atau yang lainnya juga berubah.

Selama aku SD hingga SMA, eh TK sampai SMA aku merasa bahwa aku begitu polos. Ya, dalam hal pemikiran khususnya. Pemikiran dan cara pandangku akan dunia begitu sempit pada waktu itu.
Oh iya, sebenarnya aku masih bingung, lawannya bodoh itu apa ya? Apakah pintar, cerdas, jenius, atau apa? Mungkin kebanyakan dari kita terbiasa menggunakan istilah pintar sebagai lawan dari bodoh, jadi untuk kali ini aku cenderung akan menggunakan kata ini. Tapi aku ingin mendefinisikan terlebih dahulu supaya jelas, sebenarnya pintar itu apa sih? Menurut pemahamanku saat ini, pintar itu berarti memahami suatu ilmu atau pengetahuan akibat hasil suatu pembelajaran. Maksudnya pintar itu berarti kamu jago dalam pelajaran. Terus, pintar itu dihasilkan dari belajar dan setiap orang tentunya bisa menjadi pintar. Ini berbeda dengan cerdas atau jenius. Sebenarnya perlu bahasan yang lumayan panjang lebar untuk membedakan pintar, cerdas, dan jenius. Tapi untuk mempermudah, dalam hal ini aku menggunakan cerdas sebagai punya kemampuan yang lebih dari yang lain dalam melakukan sesuatu dan dalam memecahkan masalah. Orang yang cerdas akan terlihat dari cara berpikir, berbicara, atau bertindaknya yang lebih baik dari orang lain. Dan untuk jenius sendiri, secara sempit anggap saja memiliki kemampuan luar biasa dalam suatu hal. Secara sempit aja ya, karena kalau secara luas banyak definisi yang beda-beda, baik dari segi psikologi, bahasa, sejarah, dan sebagainya. Orang-orang jenius ini benar-benar berbeda dari orang biasa, bahkan orang pintar dan cerdas sekalipun. Kamu akan melihat bahwa orang itu benar-benar berada di level yang berbeda, punya keahlian luar biasa, ide-ide luar biasa. FYI sesungguhnya tidak menutup kemungkinan bahwa bisa saja orang jenius itu bodoh. Serius, tidak sedikit orang jenius yang bodoh. Aku punya bukunya tentang kebodohan-kebodohan mereka.
Nah kebanyakan orang bilang kalau aku pintar. Tapi jujur saja aku lebih suka menjadi orang jenius atau paling tidak cerdaslah, eh super cerdas kalau boleh. Tapi kebanyakan umat tidak membedakan antara pintar, cerdas, dan jenius. Bahkan banyak istilah-istilah lain yang biasanya susah untuk dibedakan dengan pintar, cerdas, dan jenius oleh orang awam, sebut saja berbakat, prodigy, savant, dsb. Nah FYI lagi, berbakat, prodigy, dan savant paling sulit dibedakan dengan yang namanya jenius, tapi setelah diteliti lebih jauh oleh diriku, jangan bayangkan penelitian, ternyata beda banget.

Sekarang aku akan menjelaskan kenapa meskipun aku bisa memperoleh ranking 1 terus aku merasa bahwa aku tidak pintar bahkan bodoh. Tapi sebelum aku mulai menjelaskannya aku pengen bilang bahwa tujuanku menulis tulisan ini cuma ingin berbagi cerita saja. Mungkin terdapat pelajaran ataupun sudut pandang baru mengenai beberapa hal, tapi bukan itu tujuanku saat ini.

Baiklah, kamu siap?
...

Berikutnya : Aku