Mungkin terdengar sedikit kasar tapi tak apalah karena yang ingin aku ceritakan adalah mengenai sedikit kisahku sendiri yang terjadi di masa lalu.
Masa SMA adalah masa yang paling indah.
Sebuah kalimat yang pernah aku dengar dari seseorang yang
sangat dekat denganku. Tapi, benarkah demikian?
Mungkin SMA (atau sederajat) adalah masa-masa yang paling
berkesan, khususnya bagi siswa-siswi yang mengalaminya. Aku tidak tahu
bagaimana kesan SMA bagi mereka yang tidak menempuh jenjang ini, baik karena
pendidikan terakhirnya SMP/sederajat, homeschooling, tidak sekolah sama sekali
ataupun langsung kuliah sejak usia dini.
Tapi, menurutku banyak kenangan-kenangan yang bertebaran di
garis waktu SMA ini. Meskipun pas TK, SD, SMP pun lumayan banyak
kenangan-kenangan yang bersembunyi malu-malu di memoriku ini. Hanya saja, aku
menduga jika dibandingkan dengan kenangan yang diproduksi orang-orang normal
pada umumnya, mungkin kenangan-kenanganku sebatas genangan air di sebuah
cekungan, sedangkan mereka ibarat air di lautan. Jangan langsung berasumsi bahwa
kenangan-kenanganku sangat sedikit dengan membayangkan cekungan berdiameter 1 meter ya! Karena mungkin saja ukuran cekungan itu besarnya kira-kira
sebesar kawah hasil hantaman sebuah meteorit terbesar. Hehe..
Intinya, aku merasa kenangan-kenangan masa muda yang aku
miliki lebih sedikit dibanding remaja lain pada umumnya.
Kenapa begitu?
Kalau kamu ingin tahu, sepertinya aku tak keberatan berbagi
seoles selai pengalamanku yang rasanya manis, asam, asin, atau pahit ini.
Tapi kali ini aku akan lebih fokus bercerita tentang zaman
SMA. Namun, jangan khawatir aku juga memberikan sedikit ruang tempat
kemungkinan munculnya kisah zaman SMP dalam tulisanku kali ini, suatu
ruangan seperti awan elektron gitu lah, sebuah tempat probabilitas. Kira-kira
kemungkinan munculnya 0% lah ya.
Oke, yuk kita mulai.. Siap-siap ya! Kita akan masuk lubang
waktu yang akan membawamu ke masa lalu seseorang atau bisa juga kamu
membayangkan menjelajahi ingatan seseorang daripada berkelana melewati waktu.
Begini ceritanya..
Sore itu, langit begitu cerah. Tak ada awan, tak ada angin.
Sinar mentari senja berwarna jingga itu sedang menyinari halaman sekolahku. Ia datang dengan membawa kerinduan dan kenangan. Cahaya yang menyentuh kulitku itu, begitu lembut dan hangat. Apalagi ketika dipadukan dengan sebuah pemandangan yang
takkan pernah ku lupakan. Tentang gadis cantik yang sering
berkunjung ke pikiranku tiap waktu. Tersenyum manis padaku. Memanggil namaku dengan syahdu. Berjalan dengan anggun menghampiriku. Dari sebuah lapangan upacara dihadapanku. Aku
yang sedang duduk di atas tribun sekolahku sambil membaca buku, hanya bisa terdiam dengan
gugup dalam kalbu. Bersama warna merah muda yang mewarnai pipiku itu, jantungku berdetak
lebih kencang tak tentu. Sore itu, hari itu. “Apa yang harus kulakukan, oh diriku?” Ucapku.
Apa ya? Terserah, mau ngelakuin apapun bodo amat, aku ga peduli. Cuma tokoh imajinasi aja lebay banget huh.
Hahahahaha.. Kira-kira kalau aku saat ini lagi nulis cerita berbau sastra dan bergenre romance
mungkin aku akan mulai seperti itu. Tapi sans, itu cuma fiksi ko wkwkwk.. Dan sayang sekali sekarang aku pengen cerita
tentang masa SMAku. Kuharap kalian yang membaca tulisan ini tidak kecewa dengan sesuatu yang telah terjadi di masa lalu, btw beberapa detik yang lalu boleh disebut masa lalu kan? Eh..
Maafkan aku wahai pembaca..
Oke, langsung ke lokasi ya atau biasanya orang-orang
nyebutnya tkp yang aku sebenernya bingung, itu tuh singkatan dari tempat
kejadian peristiwa atau to ke poin yang berasal dari to the point? Hmmh..
Udah ah.. aku kan ga suka basa-basi, langsung aja ke intinya
ya..
Jadi intinya adalah..
Eh maaf banget! Aku udah lelah menulis, nanti aku tulis deh
di postingan selanjutnya tentang cerita-ceritaku sewaktu SMA sama curhatan-curhatanku
sebagai bonus karena kamu udah baca tulisan yang pada akhirnya ga jadi ini
hoho.. (Itupun kalau aku punya hehe..)
Nanti aku bikin trilogi deh..
1. Kenapa
2. Aku
3. Bodoh?
1. Kenapa
2. Aku
3. Bodoh?