Aku
Kita mulai dari..
Ranking 1.
Apa yang kamu pikirkan mengenai hal itu?
Jujur saja, aku sering mendengar banyak orang yang mengerjar
posisi ini, khususnya mereka yang terjerat atau menyukai dunia yang bernama
akademi ini. Bahkan banyak orang tua yang mendorong anak-anaknya untuk meraih
ranking 1. Tidak sedikit juga pertanyaan-pertanyaan dari keluarga ataupun orang
lain mengenai ranking kita di sekolah sehingga rangking 1 menjadi sebuah jawaban
yang diharapkan. Orang yang mendapat ranking 1 pun seringkali dipandang sebagai
orang yang pintar, bahkan anehnya ada yang mengatakan cerdas atau jenius.
Meskipun pastinya memang ada sih siswa peraih ranking 1 yang benar-benar
pintar, cerdas, bahkan jenius.
Lalu bangaimana denganku?
Mungkin aku hanyalah butiran debu dipojokkan kelas dibanding
mereka.. (sambal terdengar iringan piano bernada sedih). Apaan sih?
Begini, aku ingin menjelaskan dari awal supaya jelas.
Marilah kita mulai dengan proses penciptaan alam semesta. Eh.. ga mau ya? Jujur aja kamu pasti ga mau kan denger eh baca penjelasan tentang bagaimana alam semesta ini terbentuk kan? Yaudah kalau
begitu, terpaksa aku akan menjelaskan proses meraih ranking 1 dari sudut pandangku saja.
Pertanyaannya, untuk meraih ranking 1 apakah kita harus
menjadi pintar, cerdas, atau jenius?
Tentu saja tidak. Tidak perlu menjadi pintar yakni memahami
pelajaran dengan sangat baik. Tidak perlu jadi cerdas dengan memiliki wawasan
yang luas. Tidak perlu menjadi jenius dengan menguasai suatu ilmu pengetahuan
hingga tidak ada yang bisa menandingi. Untuk menjadi ranking 1, yang kita
perlukan hanyalah menjadi lebih baik dari siswa lain dalam hal akademik,
khususnya dalam memperoleh nilai. Untuk mendapat ranking 1, yang kita perlukan
adalah nilai raport lebih tinggi dari siswa lain. intinya cuma itu meskipun ada
aspek lain seperti perilaku atau keterampilan yang mungkin dinilai juga. Tapi
itu hal kecil, hal utamanya adalah nilai raport yang tersusun atas nilai-nilai
mata pelajaran yang diajarkan, bukan yang tidak diajarkan. Lalu, gimana
caranya mendapat nilai-nilai yang tinggi? Apakah satu-satunya cara ialah dengan
menguasai setiap mata pelajaran? Tidak juga. Menurut saya, yang paling penting adalah
mendapat nilai yang baik di ujian dan tugas-tugas. Lalu untuk dapat nilai yang
tinggi di ujian atau tugas apakah perlu menjadi pintar? Tidak juga, yang kita
perlukan adalah menjawab ujian dengan benar dan mengerjakan tugas dengan baik.
Dan tentu saja, kita tidak harus benar-benar menguasai suatu mata pelajaran,
kita hanya perlu memahami subjek yang diujiankan saja. Bahkan dengan
mengandalkan hafalan tanpa memahami juga sebenarnya bisa. Sebenarnya aku tidak terlalu suka sistem seperti itu meskipun aku tidak dirugikan. Aku lebih suka sistem pendidikan yang fokus pada bakat dan minat siswanya, tidak mengurung kreativitas, dan akan terlihat bahwa siswa terpintar dan terbodoh tidak ada bedanya karena masing-masing punya keunggulan di bidang yang berbeda. Dan inilah adalah salah satu
kesalahan besar yang aku lakukan selama SD, SMP, SMA. Aku cenderung menggunakan
hafalan, menghafal setiap kata demi kata, bahkan aku pernah karena tidak paham
aku jawab saja soal-soal itu dengan kata-kata yang sama persis dengan buku
meskipun tidak tahu maksudnya apa. Aku juga terjerumus untuk mencari tahu cara
menguatkan hafalan, otak kiri otak kanan, tips-tips apalah gitu yang sebenarnya dari
sudut pandangku saat itu, hal-hal seperti itu tidak terlalu penting, maksudku
banyak hal yang jauh lebih penting dari hal tersebut dan lebih menantang secara intelektual, misalnya permasalahan dunia kaya bahaya teknologi yang lebih cerdas dari manusia, perang nuklir, wabah penyakit yang menyebar ke seluruh negara, perubahan iklim, krisi energi, eh terlalu jauh ya? Hehe.. Slow refreshing dulu. Nah, selain hafalan
rupanya ada faktor-faktor lain seperti strategi, motivasi dan kerja keras yang aku
pikir lebih berpengaruh, khususnya bagiku. Aku tidak tahu bagaimana siswa lain
yang mendapatkan ranking 1 meraih peringkat tersebut. Tapi inilah caraku. Punya cara sendiri ga apa-apa kan ya?
Asal kalian tahu, aku mendapatkan nilai-nilai yang tinggi
atau sempurna bukan karena aku mengerti setiap pelajaran yang diajarkan padaku.
Jujur saja banyak yang materi pelajaran yang belum aku mengerti, banyak yang
membuatku bingung. Bahkan hingga saat ini pun sebenarnya aku masih belum
menguasai satupun mata pelajaran. Ini karena aku belum belajar dengan serius dan
sungguh-sungguh atau karena aku tidak begitu tertarik pada mata pelajaran yang
diajarkan di sekolah. Aku lebih tertarik pada menjadi yang terbaik selama bersekolah dulu.
Mungkin beberapa temanku akan tidak setuju dengan ini, aku
tahu orang lain melihatku sebagai anak yang rajin. Tapi apakah benar demikian?
Dalam beberapa hal memang benar. Salah satu hal yang membuatku dapat ranking 1
adalah karena rajin ini. Aku secara khusus rajin dalam mencatat dan mengerjakan
tugas. Meskipun aku lebih sering terlihat sedang belajar, sesungguhnya aku
tidaklah belajar. Kenapa begitu? Karena yang aku lakukan pada saat itu
kebanyakan menghafal saja, menghafal semuanya agar mendapatkan nilai yang tinggi,
bukan memahami setiap materi dan mencari pelajaran apa yang berguna bagi
kehidupan nyata. Tapi, bukan berarti aku setuju dengan istilah jangan menghafal, tapi memahai. Bagiku menghafal juga penting kok, sejarah membuktikan orang-orang dengan ingatan yang kuat adalah orang-orang hebat, coba baca kisah-kisah ulama-ulama atau imam-imam Islam zaman dahulu. Aku mungkin bisa hafal lebih banyak mengenai subjek yang akan
diujiankan, ini juga yang membuatku bisa mendapat nilai yang baik. Tapi ini
tidak berarti aku tidak paham sama sekali, aku paham sedikit hanya saja secara
otomatis. Mungkin ini penyebab aku belum menguasai satupun mata pelajaran dan
parahnya banyak yang kemudian terlupakan di kemudian hari.
Seperti yang aku bilang sebelumnya, strategi, motivasi dan
kerja keras sih yang sebenarnya sangat berpengaruh, bukan karena daya hafal.
Jujur saja, terkadang aku bisa mengingat dengan baik tapi terkadang aku mudah
lupa, bahkan aku telah menghilangkan beberapa hal penting, seperti kunci motor
beberapa kali atau mengingat nama orang, mungkin itu adalah salah satu hal yang
sulit bagiku. Dalam hal strategi, sebelum ujian aku membuat jadwal, metode-metode,
langkah-langkah, poin-poin, dan sebagainya. Memanglah telihat seperti sebuah
strategi dan aku memang suka membuat strategi serta bereksperimen mengenai cara
belajar yang lebih baik. Tapi sesungguhnya aku belum belajar. Karena belajar
itu harus ada hasilnya, dan apakah yang aku dapatkan? Ilmu? Pengetahuan? Hanya
sedikit, serius hanya sedikit. Mungkin aku memang bisa memahami, tapi dulu aku
tidak mencoba memahami, aku belum menganggap ilmu dan pengetahuan itu penting.
Jadi, aku hanya menggunakannya untuk mencapai tujuan saja. Aku merasa hampa
jadinya. Selanjutnya, mengenai motivasi, karena motivasi ingin menjadi lebih
baik dan menjadi yang terbaik lah yang mendorongku untuk mewujudkan keinginanku,
ya aku memang sedikit perfeksionis karena itulah aku bisa mewujudkan hal itu
walaupun faktanya aku telah gagal berkali-kali. Serius, perfeksionis ini
membuatku gagal lebih banyak. Bahkan diakhir SMA ku aku mengalami dua kegagalan
yang besar. Aku gagal dalam UN, SNMPTN, dan SBMPTN. Yang terbesar ialah
kegagalanku masuk jurusan perkuliahan yang diinginkan, meskipun kegagalanku
yang terakhir itu ada rasa manis-manisnya juga hehehe...Jadi bisa mencicipi
kuliah disini. Terakhir, kerja keraslah
salah satu pembeda antara aku dengan siswa pemalas yang tidak kerja keras. Ya,
meskipun namanya kerja keras, tapi kerja kerasku ini tidak seperti kerja keras
orang-orang sukses, anggap saja kerja keras level bawah yang bangkit pada waktu
dan keadaan tertentu saja dalam durasi yang tidak cukup lama.
Jadi, kesimpulannya adalah aku mendapatkan ranking 1 bukan
karena aku pintar. Aku hanya sedikit menggunakan akal untuk meraihnya saja,
mencari suatu cara untuk mewujudkan tujuanku itu. Bukan karena memiliki banyak
ilmu dan pengetahuan seperti yang beberapa orang pikirkan.
...
Berikutnya : Bodoh?
Berikutnya : Bodoh?