Kore wa Nihon desu (6)


Tibalah hari terakhir di Jepang. Hari itu hari Jum’at. Kami masih di Tokyo, dan karena pesawat untuk pulang ada di Narita, makanya kami perlu ke Narita.

Dimulai dengan pagi yang cerah. Kami check out, lalu jalan ke tempat perbelanjaan buat beli oleh-oleh. Tujuannya tuh Daiso, soalnya jual benda-benda yang terhitung relatif murah kaya yang udah aku jelasin di bab awal-awal (iya kan? Atau ngga ya?), sebenernya ga bener-bener murah juga sih kalau di bandingkan dengan di Indonesia, tapi di sana tuh jual barang serba 100 yen, lumayan murah kan. Di sekitar tempat kaki ini menapak, tak begitu jauh ada Daiso (berdasarkan Google maps). Kami masuk ke supermarket yang besar, dan Daiso ada di lantai atasnya. Pas di supermarket aku beli beberapa makanan dan minuman dulu buat sarapan, kalau ga salah aku beli roti tawar, pisang, air mineral, dan onigiri tuna. Nah, awalnya aku keliling-keliling nyari makanan halal, cuma pada akhirnya aku nanya ke bapak-bapak yang ada di dekat sana, aku nanya onigiri yang mana yang rasa ikan pake bahasa Jepang, bisa lah ya yang sederhana mah, terus dicariin dan ketemu deh. Setelah itu aku ke kasir, aku bayar pakai uang yen (uang Jepang), bukan rupiah karena ga bisa dipakai. Setelah itu ke lantai atas, ke Daiso. Cuma Daiso yang ini tuh ga lengkap, jualnya alat-alat sehari-hari aja, ga ada suvenir-suvenir yang beraneka ragam kaya yang pernah kami lihat di Daiso yang ada di AON mall. Akibatnya kami memutuskan untuk ke Daiso yang ada di Aon mall.

Oh iya, sehabis belanja, tepat di depan supermarket besar itu, aku dan temanku duduk dulu sambil minum dan sambil ngamatin sekeliling. Aku sebenernya pengen sarapan di sana, di pinggir jalan itu, tapi jangankan makan, orang Jepang yang duduk aja ga ada, jadinya ya aku tunda dulu sarapannya. Aneh soalnya ngelakuin sesuatu yang mana ga ada seorang pun yang ngelakuin hal itu. Padahal di negara sendiri mah ngelakuin hal gitu tuh biasa aja, yak an? Dan karena hari itu tuh hari Jum’at, kami sempat bingung mau jum’atan di mana. Soalnya ga ada masjid yang dekat dari situ sementara jam sudah hampir jam 12. Dan adapun yang terdekat dari sana ukurannya kecil. Jadi di Jepang tuh hanya masjid-masjid tertentu aja yang ukurannya besar yang nyelenggarain shalat Jum’at (bener ga gini? Aku taunya dari internet sih). Dan setelah baca-baca referensi terkait status dan hukum shalat Jum’at bagi musafir, ternyata ga diwajibkan untuk musafir kaya kami, apalagi waktunya juga mepet karena nanti sore pesawatnya berangkat dan kami masih di kota yang berbeda, di Tokyo bukan Narita. Jadinya kami menggantinya dengan shalat dzuhur.

Dari sana kami ke stasiun terdekat. Awalnya kami mau naik shinkansen, kereta cepat itu loh, dan kami nanya ke petugas yang ada di semacam pusat informasi di stasiun buat dapetin info terkait itu. Di sini ada pengalaman menarik dan berkesan lagi loh, yakni pas kami nanya informasi tentang shinkansen, apakah dari stasiun itu ada shinkansen atau ngga. Jadi kan petugasnya tuh mba-mba, dia tuh ga jago bahasa Inggris, dan kami ga jago bahasa Jepang. Temanku nanya pake bahasa Inggris jadinya mba itu tuh kurang ngerti gitu. Dan aku sebenernya bisa dikit-dikit bahasa Jepang, tapi pas dengerin jawabannya kewalahan, ya ga begitu guna juga akhirnya. Untungnya aku punya Google translator, jadinya aku translate si kalimat-kalimatnya. Dan akhirnya si mbanya ngerti dan inisiatif ambil semacam tablet terus ngaktifin voice translator. Akhirnya jadi nyambung pembicaraannya. Hasilnya kami dapat info bahwa ga ada shinkansen di sana, adanya kereta biasa sama kereta express. Kami akhirnya pesen kereta express yang meskipun lebih mahal tapi lebih nyaman. Oh iya, yang menariknya tuh pas mba itu lagi nyariin jadwalnya. Pas dia lagi mikir keluar tuh nada-nada yang suka aku denger daric hara-chara anime, etto... etto.. etto.., lucu deh pokonya. Kirain di anime aja yang pake nada kaya gitu, taunya orang aslinya juga ada hehe. Contoh lainnya tuh kaya eng, ano, eh, are, dsb. Ya, ekspresi kaya gitu, entah apa istilahnya aku juga ga au.

Setelah itu kami pun naik keretanya yang jauh lebih nyaman daripada kereta-kereta biasa yang kami naiki sebelumnya. Di kereta ini udah disediain kursi khusus, yang udah ada nomernya, terus ada buat nyimpen makannya lagi di kursinya. Oh iya, awalnya kami salah masuk gerbong. Ya tentu saja karena kami ga ngerti tulisan Jepang yang ada di tiketnya. Awalnya kami masuk sesuai yang tertera, dan pas nemu kursinya eh Taunya udah ada yang isi bapak-bapak, terus kami nanya sambil ngasih liat tiket kami ke bapak itu. Eh taunya nomer yang sama ada juga di bagian belakang kereta, jadi semacam gerbong A gerbong B gitu kayana. Jadinya kamu jalan ke gerbong belakang ngelewatin beberapa gerbong. Hebatnya sambil gusur koper ditengah kereta yang lagi melaju, dan kami pun melaju kearah yang berlawanan. Wow, cape. Ok, seperti pepatah, setelah berlelah-lelah saatnya bersenang-senang. Setelah menemukan tempat duduk kami, kami pun duduk. Selama dikereta aku makan dan minum, sambil liat ke jendela, pemandangan-pemandangan yang indah. Hingga suatu saat kami pun tiba di Bandara Internasional Narita (Narita International Airport). Kami shalat dulu disana, shalat bertiga sama orang lain ga tau siapa udah ada di sana dari tadi. Dia yang jadi imamnya, keliatan kaya orang timur tengah, tapi pakaiannya pakaian biasa. Ga pake gamis maksudnya.

Terus karena masih ada waktu yang ga begitu lama, kami ke Daiso dulu. Kami ke Stasiun Narita (Narita Station) dulu terus naik bis ke AON mall. Kami ke Daisonya. Di sana aku beli suvenir-suvenir, gantungan anime, dsb khususnya untuk oleh-oleh buat adik-adikku. Setelah itu kami naik bis menuju Stasiun Narita (Narita Station). Ada momen yang cukup menegangkan loh. Jadi, waktu yang tersisa tinggal beberapa puluh menit lagi (kaya di game aja ya), sekitar setengah jam kalau ga salah, kami masih di bis menuju Stasiun Narita (Narita Station), dan pesawat yang akan kami naiki ga lama lagi akan dimulai prosesnya, check in dsb. Intinya bakalan sempat ga ya tiba di bandara tepat waktu, kalau ga sempat gimana? Pokoknya kepikiran deh sama hal-hal yang bikin khawatir. Kaya gimana kalau terlambat? Gimana kalau ketinggalan pesawat? Dan lain-lain. Ditambah entah kenapa bis ini sempet berhenti dulu, jalannya kaya tiba-tiba padat gitu. Wow wow wow. Untungnya bisa tiba di stasiun. Dan setelah tiba di sana kami langsung turun bis buru-buru dan langsung masuk ke dalem stasiun, agak lari jalannya. Kami buru-buru naik kereta. Dan eh entah kenapa si keretanya juga kaya nyantai gitu majunya. Apalagi pas lagi berpapasan dengan kereta lain dari arah berlawanan, majunya perlahan. Ini sengaja atau gimana ngelama-lamain wkwkw. Pokonya aku kaya tokoh dalam novel gitulah yang selalu mendapat rintagan untuk dihadapi, soalnya kan kalau ga ada rintangan g arame juga kan kalau novel tuh? Dan untungnya, kami bisa tiba di bandara tanpa terlambat dan bisa check in tepat waktu. Alhamdulillah sempet. Dan bahkan masih ada waktu beberapa menit setelah check in, jadinya kami bisa tuker kartu pasmo kami dulu ke dalam uang yen. Bisa beli minuman dulu juga.

Oh iya, pas lagi di kereta, ada bapak-bapak dengan ramahnya ngomong ke aku dan bertanya pada aku yang tengah berdiri di atas kereta itu. Apakah aku mau ke bandara, terus apakah aku dari Jakarta, dsb. Ko bisa tahu? Sharingan? Byakugan? Atau Rinnegan kah? Ternyata ia tahu dari tempelan bagasi di koperku, ia bilang gitu.

Ada satu momen yang sangat berkesan lagi yang aku dapatkan sebelum meninggalkan Narita ini, khususnya stasiun ini. Jadi sebenernya, ga begitu saja setelah tiba di stasiun kami langsung naik kereta, ada jeda waktu untuk nunggu kedatangan si kereta. Nah, pas lagi nunggu aku melihat puluhan manusia-manusia berseragam hitam sedang berdiri berjajar di seberang aku berdiri, kami dipisahkan oleh rel yang terletak 1 atau 1,5 m dibawah kami. Manusia-manusia itu adalah orang-orang Jepang. Mungkin anak sekolah, mahasiswa, atau mungkin pekerja kantoran yang sedang menunggu kereta. Saat itu sore hari, jadi mungkin mereka akan pulang ke rumahnya masing-masing. Saat itu aku melihat satu persatu wajah mereka, ternyata mirip-mirip hehe, dan gadis-gadis remajanya, SMP atau SMA entah apalah kayanya sih SMA, mereka terlihat berwajah imut-imut, kawaii, hehe.. Ya itu aja sih hehe. Momen penutup perjalananku di negeri Sakura ini. Entah kenapa aku suka ngamatin orang, mungkin ini peluang buat belajar tentang manusia dan budayanya ya jadinya suka aja gitu. Liat penampilannya, apa yang mereka lakukan, dan sebagainya. Khususnya selama di kereta, selain mengamati pemandangan-pemandangan kota, aku juga mengamati orang-orangnya. Anak-anak, remaja, dewasa, hingga lansia. Ya aku penasaran dengan mereka, aku memang penasaran dengan yang namanya manusia, apalagi yang berbeda dari kita.

Ok kembali ke kisah utama. Kami naik pesawat JAL menuju Jakarta. Tentunya ga tiba-tiba ada di dalam pesawat, ada prosesnya menuju ke sana, tapi ga aku ceritain. Paling mau ngasih tau aja kalau proses seleksi masuk pesawat di sini tuh jauh lebih mudah, cepet, dan sederhana dibanding pas di Jakarta, jadi enak lah pokonya. Terus terkait suasana pesawatnya, ya ga jauh beda sih sama pesawat yang aku naikin pas berangkat, maskapainya kan sama-sama JAL ya harusnya ga terlalu beda lah. Paling makanan, minuman, tempat duduk, dan pramugarinya aja sih yang beda, sama apa lagi ya? Oh iya, karena pesawatnya berangkatnya maghrib, makanya sebagian besar perjalanannya terjadi di malam hari, sehingga kebanyakan aku tidur deh pas pesawat lagi di langit. Jadinya maaf ya aku ga bisa cerita apa yang terjadi karena aku tidur waktu itu tuh. Oh iya, entah kenapa pesawatnya lama lepas landasnya, beberapa menit hanya bergerak di daratan. Tapi akhirnya terbang juga sih. Yey/Yaah.

Kami pun tiba di ibu kota negara Indonesia pada tengah malam. Di sana kami pesen tiket bis, ngembaliin wifi router yang kami sewa, lalu berangkat ke Bandung naik bis. Perjalanan lumayan macet, bukan lumayan lagi sih tapi bener-bener macet di suatu lokasi yang ga bisa aku sebutin karena aku tidur, pokonya perjalanannya jauh lebih lama karena ga sesuai waktu seharusnya kami nyampe di Bandung. Kami tiba di Bandung sekitar jam 7 atau 8 pagi. Di sana kami disambut ayahku sama temennya yang nyetirnya. Kami naik mobil ke kostan temanku dulu, nganterin dia dulu, terus selanjutnya ke rumahku. Ketika di mobil aku secara otomatis ngamatin lingkungan sekitar dan berpikir kenapa beda jauh ya?

Semoga kedepannya tempat-tempat yang aku lihat ini bisa serapi dan sebersih Jepang hehe. Karena selain orang-orangnya, jalan cepatnya, budaya disiplin dan taat aturannya, teknologi-teknologinya, aku suka sama kebersihan dan keindahan tempat-tempatnya, seperti jalannya yang bersih dan tampak bagus, aku suka itu.

Itulah kisahku selama 6 hari di sana. Menyenangkan dan berkesan. Sebuah pengalaman tak disangka-sangka yang luar biasa bagiku. Cuma sayangnya, aku ga bertemu shinobi ataupun samurai. Apalagi shogun ataupun kaisar. Ga apa-apa sih, yang penting ketemu …

Oh iya, uang yen nya masih nyisa loh, sengaja ga aku tukerin ke rupiah. Biar bisa ke sana lagi nanti hehe.. Do’akan saja ya.

Terakhir, aku ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada kedua orang tuaku yang mendukungku khususnya dukungan finansial sehingga aku bisa mendaftar dan mengikuti IYIS 2018 ini, kepada pihak-pihak kampus yang membantuku dalam berbagai hal sehingga aku bisa mengikuti program ini (ITB, TU, dosen, teman-teman lainnya yang memberiku bantuan, dan lainnya yang tak aku sebutkan), kepada teman setimku yang telah berjuang bersama-sama hingga terbang bersama (hampir tiap saat bareng terus, makasih ya bro), kepada panitia penyelenggara IYIS 2018 yang telah memberikan kami kesempatan padaku untuk mengikuti program ini, juga kepada teman-teman peserta-peserta IYIS 2018 yang telah menemaniku selama acara ini berlangsung.

Dan yang terpenting, aku ucapkan terima kasih kepada Allah SWT, karena hal ini terjadi atas kehendakNya.

Tak lupa, aku ucapkan juga terima kasih kepada pembaca sekalian yang mau meluangkan waktu untuk membaca tulisan-tulisanku ini.


Inilah Jepang. Kore wa Nihon desu. 

---

Tempat paling berkesan sebelum kembali ke tanah air, 
Stasiun Narita, tempat aku bertemu orang-orang Jepang yang sedang berjajar menunggu kereta
(Ini foto ketika awal tiba di sini di hari pertama)


Sedang di kereta menuju Bandara Internasional Narita


-------------------------------------

Tulisan ini dibuat sejak tanggal 22 Oktober 2018 dan selesai tanggal 6 Januari 2019.

Penulis : Rafiq-san


Kore wa Nihon desu (5)


Hari terakhir IYIS pun tiba. Seperti biasa, kami berangkat dari hostel ke suatu tempat. Kali ini aku ga tau tempat apa, kalau di jadwalnya hari ini tuh ke acara minum teh, atau upacara minum teh ya? Pokoknya tentang minum teh.

Kami pun jalan ke sana.

Eh tunggu, sebelum itu karena ini hari terakhir acara makanya kami check out dari hostel. Akibatnya kami jalan kakinya sambil bawa koper. Lumayan ga ringan.

Setelah berjalan lumayan lama, kami tiba di suatu tempat. Di halamannya kami bisa liat ada suatu gerbang kecil ke suatu kebun atau taman yang hijau. Dari sana juga kami liat ada suatu bangunan yang kemudian kami masuki. Dalamnya terlihat kaya hotel, di sana ada kubus besar yang di dalamnya ada pohon, terus ada ornamen ruangan besar berbentuk lingkaran, dan ada mba-mba atau ibu-ibu berseragam hitam yang menyambut dan membantu kami, sama ada juga kursi serta meja, plus karpet.

Kami nunggu beberapa saat, panitianya lagi ngomong sama petugasnya terkait waktu dan tempat buat acara minum teh ini. Dan ternyata, waktu mulai acaranya lumayan siang, mepet ke waktu beres acara, jadinya ga jadi deh, atau dalam arti lain dibatalin. Uangnya pun dikembaliin. Selain itu mungkin juga karena ruangan buat minum tehnya yang ga begitu besar namun pesertanya banyak, ga bisa sekaligus jadinya. Namun, meskipun begitu kami tetap bisa masuk ke kebun atau tamannya, kami diberi kebebasan buat jalan-jalan dan ngelakuin eksplorasi sendiri-sendiri. Aku dan temanku serta satu teman dari Kamboja yang lagi S2 di Korea itu pergi bertiga menjelajahi tempat ini. Kami berfoto bareng-bareng beberapa kali.

Sebelum berakhir, kami dikumpulin dulu. Ada pembagian sertifikat. Setelah selesai dibagiin sertifikatnya terus kami foto Bersama. Habis itu, bagi yang pengen pulang duluan boleh pulang duluan, dan yang mau di sana dulu kaya mau nyoba upacara minum teh juga boleh. Aku dan temanku pulang duluan karena kami dah pesen hostel dan rencananya mau jalan-jalan mengeksplor Tokyo bersama. Tapi entah ke mana hehe, ga direncanain bagian ininya mah.

Kami keluar dari bangunan itu. Ga disangka, di jalan yang belum jauh dari gerbang tempat acara terakhir itu, siapa sangka ada orang Jepang, bapak-bapak bertubuh tinggi dan masih muda, menyapa kami. Pakai bahasa Indonesia lagi. Ya, Indonesia yang terletak diantara dua benua dan dua samudera. Bapak itu ngomong sesuatu. Cuma aku ga begitu inget dengan pasti pembicaraannya apa. Kalau ga salah Ia nanya ke kami, dari Indonesia? atau Jakarta? Entah yang mana. Terus ia juga ngasih tau kami kalau ia tau kami orang Indonesia karena kami pake batik. Kami atau cuma temanku aja ya yang pakai batik? Ga inget juga hehe.

Setelah itu kami jalan ke stasiun. Kami naik kereta. Terus jalan kaki. Dan akhirnya tiba di hostel yang kami pesan. 99 hours namanya, di Kamata lokasinya. Bangunannya ga begitu besar, tapi ada beberapa lantai, 7 atau 8 lantai kalau ga salah, tapi kami cuma pake lantai 4 buat nyimpen barang bawaan di loker sama buat mandi serta lantai 6 buat tidur dan ke toilet. Eh sama lantai 1 buat keluar masuk. Oh iya, di hostel ini kami dikasih kartu yang merupakan kunci loker, ada barkodenya yang nanti discan di pintu loker buat ngebuka pintunya. Selain itu dikasih juga wadah kaya tas jinjing yang isinya handuk, sikat dan pasta gigi, sandal, sama piyama. Kami pun dengan segera menuju ke kamar. Di sana kami shalat, makan cemilan, lalu bikin rencana. Kami bikin rencana tujuan tempat atau daerah apa aja yang mau dikunjungi. Setelah itu berangkat. Oh iya, ukuran tempat tidurnya sama aja kaya 2 tempat sebelumnya, cuma untuk tidur, seukuran 1 orang. Tapi desainnya yang ini lebih modern, terkesan futuristik kaya di kapsul canggih gitu, itu kalau dibandingin sama 2 kamar sebelumnya yang dari terbuat 
kayu berwarna coklat muda hehe.

Ok, ayo kita jalan-jalan!

Seperti biasa kami ke stasiun dan naik kereta. Waktu itu langitnya agak mendung. Udara lumayan dingin. Tempat pertama yang kami kunjungi yaitu Tokyo Skytree di Sumida. Itu tuh menara yang tinggi banget. Sampai nembus awan. Ketinggiannya lumayan tinggi, 634 m! Kami masuk ke sana dan naik ke puncaknya, meskipun jarak pandang terbatas karena lagi berkabut. Ternyata tiket masuknya lumayan relatif mahal, tapi karena udah di sini, mau kapan lagi? Kami pun naik ke puncaknya dan ya, mantap. Di sana kami bisa ngeliat pemandangan kota Tokyo yang gedung-gedungnya terlihat kecil-kecil. Oh iya, tau ga, liftnya tuh cepet banget, jadi kami tiba ke puncaknya ga lama, bentar banget buat jarak sejauh itu, 600 meteran. Selain itu di sana cukup ramai suasananya. Bahkan lagi ada anak-anak SD yang berkunjung ke sana. Kebanyakan dari mereka aktif-aktif, berisik sih sebenernya wkwkw, ya kaya anak kecil pada umumya lah, tapi ada juga yang pendiam. Cuma lucu-lucu aja. Ya, kurang lebih begitulah di Tokyo Skytree.

Berikutnya kami pergi ke Ueno. Di sini kami cuma duduk terus makan. Udah, itu aja, soalnya udah maghrib dan langitnya udah gelap sih. Ya meskipun kami ada di depan Ueno Park, kami ga masuk akibat kegelapan yang telah menyelimuti daerah itu. Paling cuma foto didepan batu tamannya. Nah dari tempat duduk situ udah mulai keliatan suasana kota yang ramai. Udah keliatan banyak orang yang betebaran disekitar jalan. Kebanyakan dewasa sih, kaya bapak-bapak sama ibu-ibu. Anak-anak udah mulai jarang keliatan.

Selanjutnya kami ke Akihabara. Lokasinya ga terlalu jauh dari Ueno, tinggal jalan lurus. Pantesan di Ueno tempat kami duduk sejenak udah mulai ramai, ternyata berdekatan sama kota ini, kota yang ramai. Pengen cerita aja, Akihabara tuh bener-bener ramai, banyak banget orang berlalu-lalang. Dan tentunya orang dewasa. Meskipun disini tuh pusatnya toko-toko yang jual hal-hal terkait game, anime, manga, alat elektronik, dsb. Terus banyak poster-poster anime di toko-tokonya, bahkan dipinggir jalan ada para cosplayernya kaya perempuan yang pakaian maid atau kostum apalah. Orang-orang yang berkeliaran di sini remaja hingga orang dewasa, bukan anak-anak. Ya, beginilah Akihabara. Tapi ga tau juga sih di waktu yang lain atau di hari yang lain gimana, ini di waktu ketika aku melewati jalan itu aja ya, jadi jangan di generalisir.

Oh iya, sebenernya pas SMA aku pernah nulis di sebuah kertas, ke Akihabara, soalnya dulu abis nonton suatu anime yang berlokasi di Akihabara lalu aku nyari info-info tentangnya jadi pengen ke sana deh jadinya, makanya aku tulis di kertas daftar impianku. Eh ternyata ga disangka-sangka terwujud. Ko bisa ya? Aku foto-foto beberapa kali disini. Selain itu aku nyari tempat yang kaya di foto-foto Akihabara dari internet atau IG, ga tau nemu atau ngga, soalnya udah ga inget juga sih fotonya.

Seletah itu kami ke Harajuku naik kereta. Di sana kami hanya berjalan melewati suatu gang hingga tembus ke jalan besar lainnya. Di gang itu ramai banget, banyak orang dan banyak toko-toko. Aku beli Kit Kat di sana buat oleh-oleh.

Selanjutnya, dari Harajuku kami jalan kaki ke Shibuya. Lokasinya ga terlalu jauh. Tujuan pertama ke patung anjing Hachiko, tau kan itu? Yang ngelambangin kesetiaan anjing pada majikan itu loh. Aku di sana cuma foto aja sih, sama istirahat sejenak. Oh iya, aku tuh pernah liat dari gambar dan web di internet kalau di Shibuya tuh ada persimpangan jalan terpadat di dunia (khususnya di Jepang), namanya Shibuya Crossing. Kalau difoto tuh keren-keren, banyak banget orang yang nyebrang lewat situ. Jadinya aku pengen di foto di sana. Dan di dekat patung Hachiko itu ada persimpangan jalan, crossing, yang ramai. Kami nyebrang lewat situ sebelum ke lokasi patung Hachiko. Awalnya aku ga sadar kalau itu adalah persimpangan yang aku cari, soalnya di Google Maps lokasinya bukan di situ. Jadi, pas abis dari sana kami jalan menuju ke lokasi crossing yang ada di Google Maps, taunya ga ada apa-apa. Malah suatu gang yang sepi. Dan ternyata, apa yang terjadi coba? Taunya itu tuh suatu bangunan yang namanya sama kaya nama persimpangan itu, crossing gitu lah. Kalau ga salah tempat radio gitu. Hahaha.. udah cape-cape jalan jauh, eh taunya.. Akibatnya yang tadinya mau naik kereta buat pindah kota malah jadi jalan kaki. Saat itu kakiku benar-benar sudah mengeras, jadi kekar hehe. Seolah-olah ga kuat lagi untuk jalan. Oh iya, selama jalan kaki ke tempat selanjutnya, sempat beberapa kali ketemu lampu lalu lintas buat pejalan kaki. Memang agak aneh juga sekaligus lucu sih, padahal jalan lagi kosong, ga ada kendaraan lewat sama sekali, tapi karena lampunya merah, para pejalan kaki ini tetap aja berhenti. Inikah yang dinamakan budaya taat aturan? Hehe.

Terakhir, kami ke Tokyo Tower lagi yang lokasinya tuh di Minato. Kami jalan kaki lagi ke sininya, maklum belum punya limosin. Kali ini kami naik ke menara tersebut seperti yang aku katakan di awal, tapi cuma nyampe ke tengahnya aja ga sampai ke puncak. Namun, meskipun begitu dari sana pun kami bisa menikmati pemandangan kota Tokyo di malam hari yang indah. Bedanya sama Tokyo Skytree, meskipun lebih rendah tapi disini liftnya tembus pandang, jadi bisa liat ke luar pas naik lift, mantap. Teru di atas sana kami foto-foto, terus liat-liat di tokonya, lalu istirahat sejenak. Oh iya, ketinggian Tokyo Tower tuh hanya 333 m, ya kurang lebih setengahnya ketinggian Tokyo Skytree lah.

Setelah itu kami kembali lagi ke hostel di Kamata. Kami ke supermarket dulu buat beli roti, selanjutnya pulang ke hostel dan makan di sana, di kamar. Kira-kira jam 24 atau lewat kami tiba di sana. Ya meskipun hanya sebentar sebagaimana hakikat dari kehidupan dunia yak tak kekal laksana akhirat, aku menikmatinya. Meskipun lelah, meskipun lapar, meskipun kaki pegal-pegal. Tapi.. Ini sangat sangat sangat berkesan dan memorable banget buat aku, suatu pengalaman yang luar biasa bagiku. Berkunjung ke beberapa tempat dalam waktu yang terbatas, di Jepang lagi. Ya, memang biasa aja sih sebenernya, khususnya buat yang bisa ke luar negeri kapan aja, atau udah ke berbagai negara. Cuma bagi aku sendiri yang hampir ga mungkin buat bisa ke luar negeri (untuk saat itu ya, ga tau kedepannya), ini hal yang patut aku syukuri. Selain itu, karena ini salah satu impianku, jadinya aku semakin bersyukur dan merasa kalau ini suatu nikmat yang besar buat aku. Duh jadi pengen lagi ke negara ini suatu saat nanti, soalnya masih ada yang bikin aku penasaran. Belum ngerasain semua musimnya, belum masuk ke masjidnya, belum punya kenalan orang Jepangnya, dan belum foto bareng sama … loh ko titik titik? Pengennya sih ke sana dalam rangka wisata hehe, tapi kalau ga bisa S2 atau kerja atau bisnis sekaligus wisata juga ga apa-apa sih hehe.

Kalau di recap terkait tempat-tempat yang kami jajah eh kunjungi pada hari itu, aku dan temanku mengunjungi Sumida (Tokyo Skytree), Ueno, Akihabara, Harajuku, Shibuya, Minato (Tokyo Tower).

---

Di taman

Foto bersama peserta IYIS 2018 setelah pembagian sertifikat

Di puncak Tokyo Skytree

Tokyo Tower di foto dari bawah

Kore wa Nihon desu (4)


Sesuatu yang ajaib terjadi, matahari terbit dari Barat. Tapi itu hanya opini sih, aku tidak melihat langsung. Ya intinya waktu yang dulunya disebut sekarang telah berubah menjadi masa lalu dan masa depan berubah menjadi sekarang. Sederhananya, hari ini hari Rabu, sedangkan kemarin hari Selasa. Ya gitulah.

Hari ini adalah hari kunjungan-kunjungan. Benarkah? Ya, benar. Seperti biasa kami mulai dari hostel (karena tidur di sana). Dan seperti biasa nungguin semuanya ngumpul dulu, terus pas udah ngumpul semua baru deh berangkat. Dan seperti biasa juga aku liat orang-orang Jepang jalan dengan cepat dari kanan ke kiri aku. Nah disini aku ngobrol sama peserta lain dari luar negeri yang akhirnya jadi lumayan dekat. Dia mahasiswa S2, asalnya dari Kamboja, sekarang lagi kuliah di Korea. Dia belajar tentang Artificial Intelligence, bagian pengenalan wajah atau suara ya? Kalau ga salah wajah (atau apalah terkait itu, ada recognizernya gitu kalau ga salah, antara face recognizer dan voice recognizer gitu). Dia agak mirip kaya aku selama program berlangsung. Keliatan jarang bicara dan ga terlalu aktif bersosialisasi, kerennya kami baru mulai ngobrol pas saat ini, padahal udah bareng-bareng lumayan lama, tapi ya gitulah ga ada interaksi hehe. Dan setelah bicara sama dia, ternyata pembicaraannya pun nyambung. Jadi enak lah ngobrolnya. Cuma ada satu hal yang menganjal, aku ragu, ini tuh terjadi di hari ini atau besok ya? Terselah aku lah yak an ini pengalaman aku, anggap aja hari ini ya.

Ok, setelah semua berkumpul kami pun berangkat. Lokasi pertama adalah Tokyo Institute of Technology. Dan seperti biasa: Jalan kaki, naik kereta, jalan kaki, sampai. (gini nih algoritmanya, udah ga asing lagi kan? Atau sudah hafal?). Pas udah nyampe, di sana kami langsung ke suatu Gedung, ke sebuah ruangan yang ada kursinya. Di sana ada presentasi. Penyambutan dan pemaparan singkat tentang sejarah TIT dan tentang inovasi-inovasinya. Setelahnya ke museum-museum TIT liat-liat benda-benda. Ada kerajinan, mesin, miniatur bangunan, dan lain sebagainya. Yang lumayan keren tuh hologramnya, jadi ada semacam corong kaca yang didalamnya ada cahaya hologram. Sama satu lagi ada kaca yang kalau diliat dari pinggir cuma kaca yang bening, tapi kalau liatnya dari depan muncul gambar berwarna di kacanya, terus kalau agak miring liatnya warna di kacanya jadi beda (eh itu bukan kepala akunya yang miring ya, maksudnya ada sudut antara garis normal kaca sama mata aku). Oh iya, ada juga yang ga kalah pentingnya. Di sana ada benda berbentuk koin berwarna emas yang ada ukiran Pak Nobel. Ya koin Nobel prize atau apa pun istilahnya, pokoknya yang dikasihin ke Nobel Leaureate / penyair Nobel / Nobel prize winner / Peraih hadiah Nobel. Aku pun selfie di depan koin Nobel itu supaya bisa dapat Nobel juga hehe. Tapi ga terlalu minat juga sih, cuma kalau suatu saat nanti dikasih ya mau gimana lagi, nolak juga ga enak, ya aku terima ajalah mau ga mau, ga ada pilihan lain. Kan udah selfie bareng hehe. Oh iya ada kejadian keren pas di TIT loh. Jadi kan disana tuh ada brosur-brosur gratis. Nah, biasalah peserta-peserta dari Indonesia, mereka  (kami sih, kan termasuk aku) bawa brosurnya ngeborong gitu, alasannya oleh-oleh. Intinya, aneh aja sih ngebawa brosur sebanyak itu. Ok lanjut ya. Setelah dari museum kami menuju ke kantinnya. Diperjalanan kami ngelewatin gedung utama TIT yang ada di Google kalau searching univ ini, eh institute ini. Aku foto dulu di situ biar keren. Nah habis itu ke kantin. Di kantin kami beli makan, makanannya milih sendiri. Untungnya penjaga kantin disini dah ngerti makanan halal, jadi disediain makanan yang halalnya. Jadi mudahlah pokonya. Tapi pas aku mau ambil bumbu semacam saus, aku bingung karena ga ada labelnya, dan itu letaknya lumayan jauh dari penjaga kanti (mereka di dapur dan ada yang dikasir). Tapi ga jauh sampai puluhan meter juga, ya kali. Nah disinilah aku menerapkan kemampuan Bahasa Jepangku hasil belajarku dengan sungguh-sungguh atau dengan tidak bersungguh-sungguh (dari anime hehe), atau karena aku pernah belajar di SMA. Ada mata pelajarannya soalnya di beberapa semester di SMA, jadi ya bicara bahasa Jepang yang dasar mah bisa lah ya, baca dan nulis huruf Jepang juga kayanya bisa, tapi cuma hiragana. Bahkan logat-logat yang kawai pun bisa lah ya hasil belajar dengan tekun dan gigih atau sebaliknya dari makhluk-makhluk 2D itu hehe. Aku nanya ke mba-mba orang Jepang yang jadi pemandunya (dengan gaya normal ya, untuk 3D bukan 2D). Untungnya nyambung. Intinya dia juga kurang tau, keliat agak bingung pas nyari mana yang halal atau ngganya. Keputusan akhirnya aku ga jadi ngeluarin apa yang ada di dalam botol-botol itu. Nah di sini aku makan di meja yang ada kursinya. Aku duduk berlima. Semuanya orang Indonesia (laki-laki) tapi ada satu yang bukan, dia (perempuan) dari luar negeri. Dia dari Kirgiztan kalau ga salah. Kami mengobrol beberapa hal. Dia cerita tentnag negaranya juga, ternyata di sana banyak gunungnya. Terus dia juga cerita kalau dia tuh punya rencana mau ngunjungin perusahaan-perusahaan besar pas acara ini udah berakhir, entah buat apa ya, mungkin karir atau apa. Bagus juga rencananya. Terus, setelah makan, kami minum. Maaf, maksudnya setelah makan kami berangkat menuju tempat berikutnya. Setelah minum tentunya.

Tiba-tiba kami ada di Miraikan (sejujurnya tidak tiba-tiba, ada prosesnya. Ingat tidak ada yang instan di dunia ini bahkan mie.. stop! Jangan diteruskan!. “Oke” balasku.). Eh kamu ngerasa déjà vu ga? Ya intinya kami berkunjung ke Miraikan di Koto, Tokyo. Nama kerennya National Museum of Emerging Science and Innovation, sebuah museum teknologi-teknologi futuristik gitu lah. Di sana aku ngeliat banyak teknologi-teknologi canggih dan futuristik, kaya globe raksasa yang menggantung diatas Gedung yang ada animasi udaranya, ruangan simulator ISS (International Space Station), kerangka roket (bagian apanya ya, mungkin rocket enginenya atau propellernya atau apa ya, terus yang paling keren tuh ada robot yang bisa gerak sendiri, bukan jalan tapi gerak kaya lirik sini lirik sana dsb, kayanya pakai A.I. (Artificial Intelligence). Dan ada dua robot yang bisa gerak sendirinya tuh, yang satu masih kerangka, semacam kerangka orang cuma masih berupa mesin2 gitu, gerakannya lebih aktif. Dan satu lagi rupanya udah mirip banget manusia, mirip wanita, tapi yang ini gerakannya lebih terbatas, cuma ngedip-ngedip sama mulutnya sedikit gerak-gerak kaya ngomong sesuatu, lagi nyanyi kah? Atau manggil aku? “Hai..”, “Hallo”, Oh tidak. Nah, selain itu masih banyak teknologi-teknologi lainnya yang sama-sama bagus. Ada juga kaya hasil-hasil peneitian gitu. Dan ada juga tau ga, ada anak-anak SD yang lucu-lucu loh, bahkan anak SMP juga ada yang lagi berkunjung ke museum itu. Aku jadi kepikiran, anak kecil aja udah liat teknologi-teknologi canggih kaya gini, pantas aja rata-rata mereka pintar dan cerdas (katanya sih, kata tulisan-tulisan). Sayangnya kami di sininya cuma bentar, jadinya aku cuma foto-foto aja, belum nyobain alat-alatnya. Bahkan ada satu lantai belum aku masuki. Sedih. Jadi pengen ke sini lagi. Biarlah, mungkin hikmahnya “Kamu harus ke sini lagi nanti, kamu penasarankan di lantai itu ada apa?”. Oh iya, aku juga ketemu orang Indonesia yang lagi ke sini loh, ada bapak-bapak masih muda dan anaknya, dia nyapa aku sama temanku. Kalau ga salah nanya ke kami, nyapa sih lebih tepatnya, “Dari Indonesia ya?”, ya udah kami jawab iya. Udah ya sampai sini aja. Sama satu lagi informasi deh. Sebelum ke tempat selanjutnya kami foto bersama lagi. Dan tahukah Anda? Kami foto di tempat yang sama dengan tempat foto kemarin, di depan gedung tempat konferensi dan presentasi esai. Cuma bedanya ini siang dan kemarin malam. Kaya bedanya kopi panas dan kopi yang udah dingin.

Berikutnya kami ke Odaiba. Jadi odaiba itu semacam teluk buatan yang ada di Tokyo yang dibuat untuk.. apa ya ga tau aku juga (search aja Odaiba). Nah salah satu daya tarik pengunjungnya tuh ada Robot Gundam raksasa, Unicorn Gundam Statue. Kami foto-foto di sana. Bukan hanya foto pakai HP atau camera, tapi aku ikut juga foto yang difotoin. Jadi ada tempat khusus untuk foto gitu, aku dan beberapa peserta naik ke sana buat difotoin sama yang bikin jasa fotonya. Kalau ga salah 5 orang termasuk aku difoto barengan oleh mba-mba Jepang. Nah disini ada sedikit cerita. Kan kami tuh pengen foto barengan berlima, dan yang dari India tuh bilang ke mba-mbanya pakai bahasa Inggris, tapi mbanya ga ngerti, jadi agak lama buat ngejelasin foto barengannya (soalnya defaultnya perorang, jadi pas foto bareng-bareng perlu request gitu). Untungnya aku sadar kalau aku sebenarnya bisa bahasa Jepang buat ngejelasin kalau kita tuh pengennya foto bersama. Cuma masalahnya kenapa ngga kepikiran dari tadi ya? Ya udah lah ya masa lalu biarlah berlalu. Aku pun bilang ke mbanya pake bahasa Jepang, akhirnya ia mengerti, sekejap mata ngertinya kalau pake Bahasa Jepang. Akhirnya kami pun foto bersama. Nah pas turun, kan itu tuh jasa foto ya sebenernya tuh. Jadinya ada penawaran buat ambil foto cetaknya. Cuma harganya lumayan mahal, jadinya ga ada seorang pun dari kami yang beli. Padahal dah di cetak. Gomen ne.

Setelah dari sana kami lanjut ke museum yang tempatnya ga jauh dari sana. Museum kendaraan, tapi ga lama di sana. Aku ketinggalan rombongan, jadinya masuk ke sana cuma berdua sama peserta yang dari SMA. Kami cuma jalan menyusuri rute sampai akhirnya keluar lagi. Tapi sempat foto-foto juga sih dikit.

Sehabis dari sana, aku duduk di pinggiran bareng yang lainnya. Aku buka HP. Terus aku sadar kalau belum shalat. Aku pun ngajak dua peserta lain yang sama-sama belum shalat juga. Ada dua kisah di sini. Satu, aku panik karena nganggap HPku hilang. Nah kan di sana tuh ga ada tempat buat shalat, jadinya kami ke bawah (ada tangga) ke daerah berumput dipinggir jalan buat ngelaksanain shalat. Nah aku panik karena pas mau cek arah kiblat di HPku taunya HPku ga ada, aku buru-buru ke atas lagi, tanya-tanya ke peserta yang ada di sana, bahkan ke dosen yang duduk ditempatku semula, tapi ga ada. Eh taunya HPku ada di tas. Hehe. Kedua, nah kan kami shalatnya di pinggir jalan tuh, sambil duduk lagi. Nah pas lagi transisi shalat, shalat dzuhur ke ashar (waktu itu di jama), aku liat lagi ada orang yang berdiri kaya lagi ngasih tau yang lain kalau di sini lagi ada yang ibadah. Jadi, waktu itu tuh lagi ada semacam rombongan yang jalan lewat tangga di samping kami shalat, nah orang itu tuh semacam nyuruh supaya jangan berisik atau apalah gitu. Cuma ga tau juga itu orang mana, kayanya dari China kalau dari suaranya.

Setelah semuanya selesai, kami kembali ke hostel. Dan sebelum itu, pas lagi diperjalanan, kami ngelewatin suatu tempat yang di sana tuh sekelilingnya pemandangan-pemandangan kota tuh keliatan. Jadi dari situ kita bisa ngeliat Tokyo Skytree (Nanti diceritain sama aku, soalnya aku dan temanku ke sini), terus ada bangunan yang diatasnya ada bola raksasa, ada juga benda aneh raksasa (ga tau bentuk apa itu), bahkan ada kaya patung liberti yang bisa terlihat dari sana. Di sini banyak turis. Dan aku ketemu tiga anak SMP yang pake seragam hitam yang kaya di anime sekolahan, yang satu bawa tongsis, kayanya mereka lagi foto-foto deh, lucunya, imut-imut gitu keliatannya. Bajunya. Mungkin. Atau orangnya? Nah di sini tuh aku dan beberapa peserta lain lagi nunggu peserta yang lainnya lagi yang belum datang, jadi lumayan lama juga di sini. Berdiam sejenak menikmati udara malam di negara orang.

Setelah lengkap, kami menuju ke hostel. Di hostel sana, spesifiknya di tempat tidur, aku tidur.

---

Tokyo Institute of Technology

Foto bersama pesert IYIS 2018 di Tokyo Institute of Technology

Museum Miraikan

Gundam statue

Foto bareng peserta IYIS 2018 (foto lagi)


Kore wa Nihon desu (3)

Hari esok pun tiba. Aku terbangun dari tidurku. Melakukan aktivitas-aktivitas yang biasa dilakukan sehari-hari, kemudian ke lantai atas, ke ruangan dekat pintu masuk tempat berkumpul, di sana aku melihat meja dan kursi yang panjang, serta orang-orang yang sedang berkumpul untuk sekedar berbincang-bincang ataupun sarapan bersama. Kami sarapan bento (Selama program ini kebanyakan makannya tuh bento, kecuali di beberapa tempat ada makan di tempat makannya yang tentunya bukan bento makanannya). Oh iya, jadi di sana tuh kalau mau minum air minum yang segar perlu beli, aku hampir selalu beli air mineral botol yang desainnya mirip Ades, hijau muda itunya tuh, cuma aku ga tau tulisan di botol itu tuh apa, pokonya itu air segar dan menyegarkan laksana udara pegunungan pagi hari yang sejuk menyejukkan. Mungkin. Cuma harganya lumayan mahal sih, sekitar 80-100 yen, tergantung lokasi belinya, kalau di vending machine harganya sekitar 100 yen, tapi kalau di swalayan sekitar 80 yen, kalau dirupiahin ya sekitar sepulu atau belasan ribu rupiah. Tapi kalau ga beli pun ga apa-apa sih, air kerannya bisa diminum ko, aku juga minum itu beberapa kali, air keran hostel, lumayan buat ngehemat air dibotol yang aku beli, cuma ya tingkat kesegarannya beda, itu aja.

Habis beres makan kami bareng-bareng pergi ke Tokyo International Exchange Center di Koto, Tokyo, buat konferensi internasional sekaligus presentasi esai. Kenapa ke Tokyo International Exchange Center? Aku juga ga tau, panitianya yang nentuin, maaf ya. Ok, kembali ke topik, kami ke lokasinya naik kereta lagi, dan seperti biasa perlu jalan dulu buat nyampe di stasiun. Oh iya, sebelum berangkat kan itu ada waktu kosong yah, buat nunggu semua peserta siap. Aku sama beberapa peserta lain nunggu di depan hostel. Sambil berdiri dipinggir jalan aku ngamatin lingkungan sekitar, aku ngelihat orang-orang Jepang pada jalan kaki ngelintasin jalan itu, kayanya mereka mau pergi ke tempat kerja. Dan tau ga, ada suatu pola yang cukup menarik loh yang aku liat dari hari ke hari pas ngamat manusia-manusia Jepang yang lalu lalang. Rata-rata mereka jalan ke arah yang sama. Maksudnya kalau di depan kita ada jalan horizontal, bayangin aja penggaris di lantai yang angka 0 nya di kiri dan 30 cm nya di kanan, mereka cenderung jalan dari kanan kita ke kiri, kaya baca tulisan Arab gitulah. Dan itu tuh hampir tiap pagi aku ngelihat pola kaya gitu. Mungkin letak peradabannya ada di sebelah kiri sana kali ya. Entahlah. Mari sekali lagi kembali ke topik hehe. Setelah semuanya berkumpul kami pun berangkat. Dan setelah waktunya tiba kami pun tiba. Tiba di Gedung yang kita tuju, Tokyo apalah Panjang Namanya liat aja di atas.
Mau cerita, pas aku sama rombongan lagi di kereta, jadi kereta yang kami naiki ini letaknya tuh di atas jalan. Bukan kaya mobil diatas jalan ya, tapi beberapa meter di atas jalan yang ada mobilnya. Beda sama kereta yang pas dari Stasiun Narita (Narita station) ke Stasiun Bandara Internasional Narita (Narita Int. Airport station) yang letaknya di bawah jalan, maksud bawah jalan konsepnya sama kaya di atas. Dan karena keretanya ada di atas dan juga karena ini di pagi hari, makanya aku bisa liat pemandangan kota Tokyo luar biasa. Aku ngerekam beberapa tempat pas lagi naik kereta, ya keliatan kaya pemandangan kota besarlah, banyak gedung-gedung tinggi sama infrastruktur yang besar-besar. Dan yang lebih hebatnya lagi, aku bisa ngelihat pemandangan kota yang dulu aku cuma liat di HPku. Jadi dulu aku pernah nyari gambar-gambar kota di Jepang, terus aku simpan di HP dan yang keren yang aku jadikan wallpaper HP sama pernah aku jadiin foto profil LINE aku. Eh siapa sangka, taunya aku bisa liat tuh foto di dunia nyata, senangnya... Cuma sayangnya aku ga sempet ngefoto ataupun ngerekam yang itu. Nah dari situ semangatku buat liat wujud nyata dari foto-foto yang ada di HPku meningkat (aku nyimpen beberapa foto dari beberapa daerah di Tokyo kaya Odaiba, Shibuya, Shinjuku, Akihabara, dsb. Beberapa berhasil aku lihat secara langsung. Untungnya yang ini bisa aku foto Oh senangnya).

Kereta pun tiba di stasiun yang ada deket lokasi yang dituju. Kami jalan ga begitu lama ke sana sampai suatu saat kami pun akhirnya tiba di sana. Kami masuk ke gedung itu yang cukup besar ukurannya. Di sana ada banyak bendera dari berbagai negara yang berjajar ngebentuk barisan. Bahkan ada bendera Indonesia juga di sana. Setelah masuk kami pergi ke lantai atas entah lantai berapa. Karena dindingnya terbuat dari kaca, kami bisa liat pemandangan kota dari sana. Lumayan indah. Aku liat ada bangunan yang diatasnya ada kaya bola raksasa, terus aku juga ngeliat ada semacam korsel besar yang keliatan dari gedung itu. Bahkan langit pun terlihat olehku. Warnanya biru. Ternyata sama kaya warna langit di negeriku, Indonesia. Ko bisa? Sambil nunggu acaranya dimulai aku kenalan lagi sama beberapa orang yang statusnya sama kaya aku, peserta IYIS. Aku kenalan sama peserta dari UB, IPB, dan univ mana lagi ya, lupa duh. Dan bukan cuma sama anak S1, ada anak S2nya juga loh bahkan lumayan banyak. Dan ternyata anak SMA pun ada, entah berapa orang yang ini, yang aku tau cuma seorang, wih mantap lah.

Dan pas waktunya tiba, konferensi internasionalnya pun di mulai. Ada 3 pembicara yang jadi pembicara dan bicara di sana,
1.     Riela Provi Driandra (Associate Professor, Waseda University). Ngebahas Sustainable Cities and Communities.
2.     Ryuji Yamazaki-Skov / Yamazaki (School of Social Sciences Waseda University). Ngebahas Social Design for Sustainable Care System.
3.     Juri Minami (Education Planner ISI Japanese Language). Ngebahas Create Your Global Dreams with ISI.
Pembicara pertama ngejelasin tentang inovasi. Dan ingat ga kalau dulu pernah sempat booming video “this is a pen, this is an apple, uh, apple pen” ... yang dari Jepang itu loh. Nah kami ngepraktikin itu juga pas saat itu, ternyata itu juga merupakan proses untuk berinovasi, ya sesuai salah satu metode buat berinovasi yaitu ngegabungin dua hal jadi satu, kaya gabungin pulpen sama apel, hasilnya pulpen apel. Terus pembicara kedua bahas tentang social science, tapi lebih ke sudut pandang teknologinya, waktu itu tuh yang dibahas teknologi robot yang berpengaruh ke masyarakat. Jadi kata pembicara tuh saat ini kita teh udah masuk ke suatu masa dimana manusia hidup bareng robot (itu yang aku tangkep). Dan yang paling keren tuh yang pas ngejelasin tentang Telepresence Robots kaya telenoid dan geminoid. (Aku saranin Googling atau tonton videonya dari Youtube, niscaya kamu akan melihat benda aneh yang mungkin lucu atau mungkin menyeramkan hehe). Dan yang ketiga itu basah tentang eh sorry typo, bahas tentang lembaga Bahasa yang juga sekaligus ngarahin buat masuk ke perguruan tinggi. Kurang begitu berkesan sih yang ini, paling ada beberapa perkataan pembicaranya kaya di Jepang tuh orang mudanya dikit, jadinya mereka welcoming gitu ke orang asing buat belajar dan kerja di sana. Nah itu lumayan memotivasi aku buat kuliah atau kerja di sini. Sama paling satu lagi, ada grafik statistik mahsiswa asing yang kuliah di univ apa ya lupa, intinya ngasih insight ke aku kalau dari Indonesia tuh lumayan banyak yang kuliah di univ itu. Paling itu sih yang berkesannya, sisanya lebih kaya promosi Lembaga itu.

Ok, konferensi pun berakhir. Selanjutnya bagian presentasi. Tapi sebelum itu terjadi, kami makan siang dan shalat dulu. Oh iya, di Jepang tuh lumayan susah buat nemuin masjid, apalagi mushola. Atau mushola apalagi masjid ya? Ga tau deh hehe. Soalnya di tempat-tempat umum jarang ada ruangan yang khusus untuk ibadah, jadinya kami sholat di mana aja yang bisa dipake buat shalat. Dan di Gedung ini kami shalat di tempat yang terbuka, ya ga apa-apalah yang penting bisa shalat. Dan acara yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba, ga ditunggu-tunggu juga sih sebenarnya. Jadi pesertanya tuh dibagi dua, ada yang presentasi di ruangan X dan ada yang di ruangan Y di sebelahnya, X dan Y cuma variabel yang aku buat aja ya bukan nama asli ataupun nama inisial. Aku dan temanku presentasi di ruangan yang sebelahnya. Yang mana hayo X atau Y? X sebelah Y, tapi Y juga sebelah X, dua-duanya bener kan? Eh, kenapa kami dapat urutan pertama ya? Wah wah wah

Presentasi esai pun dimulai, kami presentasi berdua. Temanku ngepresentasiin latar belakangnya dan aku presentasiin bagian penjelasan inovasinya. Untungnya presentasinya berjalan lancar meski persiapannya dadakan banget kaya you know lah, you = circle (Kami baru latihan pas malam hari kemarin). Kami di komentari. Komentarnya kami kurang spesifik. Ya memang sih pas presentasi memang kurang spesifik penjelasannya, tapi kami ngerasa udah lumayan spesifik kalau dari esai yang kami buat, ya mungkin karena aku yang kurang jago presentasi dengan cepat, tepat, dan akurat. Ya karena itu. Tadinya aku mau bilang gini loh, waktunya yang singkat banget dan materi yang lumayan banyak jadinya ada beberapa bagian yang sengaja aku lewatin atau ringkas sampai terlalu ringkas, sehingga yang tersampaikan ga maksimal. Tapi karena aku udah belajar untuk ga nyalahin lingkungan (orang lain, tempat, keadaan, atau apa pun) ya jadinya aku ga nulis itu. Eh malah aku tulis ya, yaudahlah. Pokonya ada suatu tantangan tersendiri lah bagi kami, khususnya bagi aku sendiri yang bagian ngejelasin inovasi dari esai kami. Mau tau esainya tentang apa? Kami bikin inovasi tentang energi terbarukan. Ya meskipun sebenarnya ga begitu berhubungan juga sih sama jurusan kami, baik aku ataupun temanku. Memang di jurusanku ada bahasan tentang energi terbarukan, cuma yang kami bahas tuh lebih ke bidang robotika dan informatikanya. Kami ngegunain robot dan Artificial Intelligence sama Machine Learning pada energi terbarukan. Dan itulah yang jadi inovasinya, bukan energinya yang kami pelajari, kalau aku sih lebih tepatnya akan soalnya meskipun ada mata kuliahnya tentang energi terbarukan aku belum ambil. Ya kali bahas yang ginian, bahas Elektro sama Informatika. Apalagi ngebahasnya dihadapan peserta yang ternyata banyak loh diantara mereka yang mahasiswa informatika/ilmu komputer (CS) bahkan dosen-dosen yang mengantarkan delegasi dari Kamboja pun dosen ilmu komputer/CS. Lucu ga sih? kaya ikan ngejelasin kucing cara ngomong ‘meow’ dengan tepat. Kaya orang awam ngejelasin sesuatu ke ahlinya hehe.

Masih di bagian presentasi esai, aku liat bahwa peserta lain tuh keren-keren. Ada yang rumit kaya dia tuh ngepresentasiin TAnya, ada juga yang sampai udah di uji coba (ditampilin foto-fotonya), bahkan ada yang udah sampai bikin produknya. Keren! Tapi, ada juga sih yang terlihat masih perlu diperbaiki, bahkan yang bikin aku ngerasa iba tuh pas liat peserta yang nampilin ppt yang dikit banget, entah apa penyebabnya, mungkin ga ke upload ke email atau emailnya ga kekirim atau apa. Terus ada lagi, ada peserta lain yang dikomentar cukup ya apa ya istilahnya, jleb gitu ya ke hati. Tapi untungnya dia terlihat tegar.

Dan suatu ketika, presentasi esainya pun berakhir (tidak berlangsung selamanya). Setelah itu kami keluar gendung dan berfoto bersama. Foto bersama di kala senja. Padahal udah maghrib sih kayanya, soalnya udah mulai gelap. Aku bilang senja biar ada efek sastranya aja hehe.

Setelah itu selesai, kami seperti biasa jalan kaki ke setasiun buat naik kereta. Kali ini kami ke Roppongi, ke tempat makan yang bernama Pan-Asian Restaurant GREEN ASIA buat makan malam sekaligus pembacaan peraih awards dan pemberian hadiah. Lokasi restorannya itu ada di mall. Mallnya besar dan megah, beda sama mall yang ada di daerahku hehe. Bahkan di halamannya ada patung laba-laba raksasa setinggi kira-kira 2 atau 3 meter. Terus aku foto-foto di sana. (Ga cuma di sana sih, hampir di tiap lokasi yang dikunjungi sih sebenarnya). Dan ajaibnya kami pun pada tiba-tiba tiba di restoran tersebut. Hiperbola aja sih ini, kenyataannya kaya yang ditemukan para psikolog setelah neliti hubungan antara bakat, usaha, dan kesuksesan. Bahwa kesuksesan (dalam bidang olahraga, seni, atau apapun) itu bukan semata-mata karena bakat, tapi juga karena usaha yang merupakan bagian dari proses menuju kesuksesan tersebut. Intinya, ada proses yang kami lalui untuk tiba di tempat itu. Ko malah jadi bahas ini ya? Wkwkw.

Setelah tiba, kami nunggu. Setelah makanan tiba, kami makan. Namun, entah kenapa makanan yang dihidangin tuh nasi + telur + sate. Indonesia banget gitu. Padahal pengennya menu Jepang gitulah (selain bento). Dan untungnya bumbu satenya beda, rasanya enak dan lezat. Jadi ya ga apa-apa lah menu Indonesia juga. Nah sehabis makan, langsung deh pengumuman. Hasilnya? Sayang aku dan temanku ga menang. Sebagian besar awardsnya diperoleh peserta dari luar negeri, ya ga apa-apa lah. Panitianya aja ga menang. Masa aku menang. Dan kerennya tuh peserta yang duduk di sampingku, asal dari India, dapet awards. Bahkan sampai dapet dua awards. Wah keren ga tuh? Jadinya aku kasih ucapan selamatnya dua kali ke dia, ga apa-apa lah ya. Oh iya, dari tempat makan ini tuh kelihatan suatu menara yang disebut Tokyo Tower, tapi ukurannya kecil banget karena jaraknya jauh. Dan karena tujuan selanjutnya itu ke sana, ke Tokyo Tower. Jadinya kami berangkat deh ke sana. Kami jalan kaki ke Tokyo Tower.

Kali ini benar-benar jalan kaki, ga ada naik kereta, apalagi pesawat ruang angkasa. Kami jalan lumayan lama. Tapi ga selama-lamanya, akhirnya sampai juga ko di sana. Aku bersama manusia-manusia imigran sementara ini berada dibawah menara raksasa Tokyo ini. Padahal cuma tiang listrik raksasa, imajinasi aku sih gitu hehe. Tapi realitanya ga gitu, Tokyo Tower itu bagus dan indah, tapi ga seindah kamu ko, tenang aja. Cuma ya sayangnya kami cuma di luar dan dibawah aja, ga masuk ke sana dan naik ke atas. Cuma foto-foto. (Tapi tenang aja, aku dan temanku naik ke Tokyo Tower berdua ketika program IYIS sudah berakhir, nanti ya ceritanya). Eh tau ga, aku nulis nama-nama di kertas loh yang aku foto dengan lata belakang Menara itu, salah satunya jurusan kuliahku, tadinya mau aku upload ke medsos aku ga upload, ga tau kenapa ya.

Dan setelah itu selesai, kami pun kembali ke hostel dan tidur di sana. Kali ini aku lupa apakah kami jalan kaki atau naik kereta. Tapi yang paling logis sih naik kereta karena jauh jaraknya. Tapi ga penting lah naik kereta atau jalan kaki, yang penting sih para pembaca tau kalau aku tidur. Oyasuminasai...

---
Di elevator pas mau ke tempat konferensi

Foto bersama depan gedung tempat konferensi dan presentasi

Pembicara pertama

Pembicara kedua

Pembicara ketiga

Tokyo Tower dari Jauh

Kore wa Nihon desu (2)

Sekitar jam satu atau jam dua kami check out dari Caravan Hub. Banyak hal menarik dan berkesan di sana, tapi ga terlalu banyak juga sih, kaya sempat bertemu dan menyapa orang-orang asing yang juga nginep disana, ada bule yang lagi nginep yang pas ketemu aku senyumin terus dia bales dengan senyuman juga ditambah gerakan tangan kaya salam gitu. Terus aku juga sempet kenalan sama orang Jepang, entah temennya, sodara, isteri, atau siapanya si penjaga, cuma aku udah lupa lagi hehe cuma inget wajahnya aja, soalnya kenalan pas mau pamitan doank. Maklum baru pertama kali ke luar negeri hehe, jadi pengalaman-pengalaman gitu mengensankan.

Nah, suatu ketika aku ditelpon oleh panitia IYIS, itu tuh pas aku baru tiba di hostel selesai jalan-jalan bertiga tadi. Aku ditanyain mau dijemput di gelombang pertama atau gelombang kedua, yang pertama tuh dijemput jam itu dan yang kedua agak sorean. Karena ga terlalu jauh, stasiun itu setelah stasiun ini, aku pun bilang untuk ikut gelombang pertama setelah sebelumnya aku tanya dulu dua peserta lain yang ada di samping dan depanku. Pas udah beres ditelponnya kami segera ke Stasiun Narita (Narita station) buat ke bandara tempat panitia yang mau ngejemput kami berada.

Ada hal menarik loh pas kami dalam perjalanan dari hostel ke sini. Pertama, pas udah nyampe stasiun, uang temen kami yang dari luar negeri tuh lupa kalau uangnya ketinggalan di hostel, jadinya dia balik lagi dan aku sama temenku nunggu dulu. Aku sedikit khawatir, bisa ga ya nyampe di sana tepat waktu, soalnya gelombang satu udah mau berangkat, jamnya lupa jam berapa pokonya sekitar belasan atau duapuluh menitan lagi, atau tiga puluh menitan hehe. Dan itu tuh mereka tinggal nunggu kami aja. Namun, sedikit kekhawatiranku hilang setelah dia akhirnya dah balik ke stasiun. Estimasiku masih sempet walaupun bakalan mepet. Cuma… seperti halnya game, beres misi pertama ada misi ke dua, ya inilah hal menarik kedua. Meskipun kami dah lengkap, tetep aja keretanya dating sesuai jadwal ngga sesuai kami udah kumpul atau belum, jadinya kami nunggu lagi, sekarang bertiga nunggunya. Tapi di ruangan yang berbeda. Nah setelah sekian lama nungguin kereta, lumayan lama sampai-sampai temenku tidur dulu, ga tau tidur atau ngga sih cuma posisinya sih tidur, tidur sambil duduk dengan bersandar pada koper yang empuk, atau ga empuk ya hehe. Hanya aku seorang diri yang ga tidur karena bersiap siaga menunggu kehadiran sang kereta. Ga sendiri juga sih, ada calon-calon penumpang lainnya di ruangan itu. Sambil menatap ke depan dari tempat duduk dibalik kaca, melihat orang-orang Jepang berlalu-lalang. Aku sempat kepikiran apa jadinya kalau aku lahir di sini, akan jadi seperti apakah aku? Ya aku sedikit merenung mengenai kehidupan hehe, soalnya lama. Dan akhirnya, kereta pun tiba. Dan, tiba-tiba… kami gagal naik kereta itu. Lah kenapa coba? Jadi, waktu itu tuh kami salah masuk pintu kereta. Pintu yang kami masuki tuh pintu khusus buat penumpang tertentu, kalau ga salah semacam yang dipesan sebelumnya gitulah, atau semacam VIP atau express gitu, bukan yang biasa intinya. Nah, karena disuruh keluar kamipun keluar dari pintu itu untuk ganti pintu, eh ternyata belum juga jauh dari pintu itu pintu-pintu, pas kami baru keluar, semua pintu keretanya langsung nutup, terus keretanya pergi ninggalin kami begitu saja. Sedihkan? Jadinya kami nunggu lagi, cukup lama lagi, untuk kedatangan kereta berikutnya. Terus gimana dengan gelombangnya? Karena sekarang sudah masuk zamannya fisika modern, level kuantum, sekarang konsepnya udah dualisme gelombang-partikel, jadi .. eh maaf, maksudnya gelombang satunya jadi batal, jadinya gelombang dua yang berangkatnya sore.. hiks.. Tapi untungnya kereta berikutnya lancar-lancar saja. Yeay!

Setibanya di Stasiun Bandara Internasional Narita (Narita Int. Airport station) kami ketemu sama salah satu panitia IYIS yang udah nungguin kami. Kami duduk-duduk dulu, ngobrol dulu, sambil nungguin yang lain. Setelah tim gelombang dua lengkap, kami pun berangkat. Oh iya, ga cuma peserta Indonesia aja yang kami tungguin, ada juga tim dari Kamboja yang ikut gelombang dua. Kenapa aku bilang tim? Karena komposisi mereka tuh dua peserta IYIS, satu fotografer, sama beberapa dosennya, ada tiga orang bapak-bapak lagi, tapi masih muda dan juga ramah, mantap kan ada dosennya segala hehe. Kami pun berangkat bareng-bareng naik kereta lagi, kali ini langsung ke Tokyo. Aku berdiri lagi di kereta, dan kali ini lumayan lama karena ternyata jarak Narita dan Tokyo teh jauh pisan, ga jauh-jauh juga sih cuma ya lumayan lah, lama juga soalnya di keretanya. Nah, di atas kereta, maksudnya di atas lantai kereta di dalamnya ya bukan di atas atap kereta, aku melihat pemandangan rumah-rumah yang terlihat samar-samar karena hari yang sudah mulai menggelap. Ga cuma itu, aku juga ngobrol sama panitia yang mimpin kami ke lokasi, aku nanya-nanya beberapa hal padanya. Kira-kira apa ya pertanyaannya? Jadi penasaran aku.

Setibanya di stasiun yang ada di Tokyo, entah apa namanya, kami jalan kaki lagi, dan lagi-lagi lumayan jauh jaraknya. Kami pergi ke suatu restoran yang ada di Taito. Namanya Karunesuteeshon Asakusa-ten, eh bener ga sih itu?, pokonya anggap ajalah itu. Kami nyampe di sana kira-kira jam 19.30 JST. JST tuh Japan S Time, S nya apa ya lupa duh, intinya standar waktu kaya WIB, WITA, WIB di Indonesia. Nah di sana kami makan bersama. Dan di sana pula aku ketemu dengan peserta-peserta IYIS yang lain, termasuk yang dari negara-negara lain. Itulah acara pertama, yakni pembukaan dari IYIS 2018 ini, welcoming dinner.

Penasaran ga apa yang aku makan? Ga penting lah ya bahas itu, namun karena ga penting itulah makanya aku tertarik buat ngebahasnya hehe. Jadi di sana, aku makan nasi, kayanya itu nasi goreng, dan lauknya tuh aku ambil kentang, mie, dan bahan-bahan yang digoreng langsung di atas meja, aku ambilnya cumi-cumi dan ikan, gatau ikan apa hehe. FYI, ikannya udah mati jadi ga gerak-gerak. Lumayan enak, eh enak sih sebenernya bukan lumayan enak. Oh iya, aku duduk bareng temanku dekatku yang setim sama aku (laki-laki), dan juga bareng peserta dari Zimbabwe (perempuan), sama dua peserta lagi dari Kamboja (laki-laki dan perempuan). Kami makan Bersama di meja tersebut.

Setelah selesai minum, kami berangkat ke hostel yang telah disediakan panitia. Sebagian jalan dan sebagian naik bis. Aku naik bis bareng rombongan yang ke restorannya jalan, itu tuh si gelombang dua hehe. Nah, ketika di bis, aku duduk disamping peserta dari Kamboja yang tadi makan bareng. Kami kenalan dan ngobrol-ngobrol ringan. Meskipun makan duduk semeja tapi belum kenalan hehe lucu ya. Setelah ngobrol, aku jadi tau kalau ternyata dia tuh mahasiswa. Orang-orang nganggapnya mereka tuh SMA loh, soalnya dari penampilan terlihat masih muda-muda, tapi kenyataannya dia adalah mahasiswa, mahasiswa computer science di Norton University. Begitu pula dengan temennya yang satunya lagi juga ternyata udah mahasiswa, dari universitas yang sama pula. Terus dosen-dosennya juga sama-sama dari universitas yang sama loh bukan dosen dari universitas lain ternyata.

Suatu ketika, bis yang aku naiki berhenti, berhenti dan tidak bergerak, karena dah nyampe. Tapi kami tetap aja perlu jalan kaki lagi buat nyampe di hostelnya. Kami pun jalan lagi. Beberapa menit kemudian kami nyampe di sana, Namanya Hotel & Hostel Wahaku Kotobuki, letaknya di Taito. Di sana aku dikasih kartu yang berperan sebagai kunci. Nah pintunya tuh otomatis kekunci loh pas ditutup, dan buat ngebuka kuncinya tinggal scan kartunya ke tempat buat scan yang bentuknya persegi panjang yang terletak dideket gagang pintu. Pertanyaannya, kamar aku di mana? Aku ditempatin di kamar di lantai bawah. Kamarnya bisa dibilang nggak luas, satu kamar ada belasan sub kamar, alias ruangan balok buat nyimpen satu orang. Isinya kasur sama beberapa fitur-fitur sub kamar kaya wadah, lampu, dsb., mirip dengan tempat tidur waktu di Caravan Hub di Narita, cuma desainnya aja yang beda. Tapi secara keseluruhan lumayan nyaman, kamar mandinya pun sama-sama enak dipakai. Begitulah hari pertama kami, aku dan aku-aku lainnya dari sudut pandang mereka, sebagai peserta IYIS 2018 ini. Sepertinya hari ini diisi oleh berjalan kaki seharian. Melelahkan, tapi menyenangkan. Yang jelas hari tersebut merupakan hari yang berisi pengalaman-pengalaman yang mengesankan.

Tambahan, kaya kesan pertama di Narita, aku juga mau nulis kesan pertamaku di Tokyo. Kesanya, aku ngerasa kalau suasana Tokyo tuh beda banget sama Narita. Aku ngerasa orang-orang Tokyo jalannya relatif lebih cepet. Khususnya pas di stasiun, pergerakan orang-orangnya cepat banget, apalagi kalau dibandingin sama di Indonesia. Di sana ada yang jalan di eskalator (berjalan di tangga berjalan, jadi jalan kuadrat hehe), ada yang lari-lari, dan sebagainya. Intinya jarang atau ga keliatan ada orang yang jalan nyantai apalagi berhenti kaya di Indonesia, kecuali rombongan kami wkwk. Cuma sedihnya, aku ga liat yang lari dengan tubuh miring ke depan dan tangan lurus ke belakang kaya ninja/shinobi, yaah.. Terus, entah emang begini atau cuma perasaan aku aja, orang-orangnya tuh lebih beraneka ragam, bahkan orang penampilan atau tingkahnya aneh mulai keliatan, contohnya ada yang teriak-teriak ga jelas di stasiun wkwk. Dan kabar gembiranya, orang Jepang yang suka membaca buku akhirnya terlihat juga, aku juga suka baca buku soalnya. Aku sempet liat beberapa orang lagi baca buku, ga tau buku apa, yang aku ingat ada yang baca di kursi tempat nunggu kereta, ada yang di dalam kereta, dan entah dimana lagi ya, pokoknya ada yang lainnya cuma aku ga ingat aja. Namun, ya zaman telah berubah, sekarang bukan lagi zaman Edo atau apalah, jadinya yang main HP malah jauh lebih banyak. Ya ga jauh beda sama orang-orang kota pada umumnya kali ya, pada fokus ke gadget, jadi kesannya lebih individualis. Maklum lah era digital wkwk.

---

Di perjalanan

Di perjalanan

Restoran tempat acara pertama IYIS 2018

Hostel tempat peserta IYIS 2018 menginap

Hostel tempat peserta IYIS 2018 menginap


Kore wa Nihon desu (1)

Narita menyambutku. Aku dan temanku mendarat di Bandara Internasional Narita (Narita International Airport).

Di sana kami bikin pasmo dulu biar kehidupan kami kedepannya mudah, selama di sini maksudnya. Kalau belum tau, pasmo tuh semacam kartu yang bisa dipake buat bayar kereta dan bis tanpa perlu ngasihin uang tunai secara langsung, jadi tinggal ditempel tuh kartu di tempat nempel kartu yang ada di gerbang stasiun kereta atau di dekat supir bis. Nanti pintunya otomatis kebuka buat yang di gerbang stasiun kereta, kalau yang di bis cuma ngasilin info bahwa biayanya udah terbayar. Nah setelah selesai bikin pasmo, kami ke langsung berangkat ke Stasiun Bandara Internasional Narita (Narita Int. Airport station) yang ada di bandara buat pergi ke Stasiun Narita (Narita station), kami pergi ke sana karena kami sudah pesen hostel (Daruma Guesthouse Narita) lewat internet di sana, jadinya kami ke sana.

Setibanya di Stasiun Narita (Narita station) kami langsung jalan ke lokasi hostel. Jaraknya ga terlalu jauh, tapi karena jalan kaki, terus jalannya sambil narik koper, dan juga sambil ngeliatin aplikasi Google Maps yang sering kali ga bener, kaya tiba-tiba pindah posisi akunya, jadinya perjalanannya kerasa jauh dan lama.

Selama di perjalanan itu, aku dapet kesan terkait Narita ini. Kesan pertama yang aku dapatin dari Narita tuh adalah aku kagum, dalam hati ngerasa wah keren. Entah kenapa rasanya mengagumkan gitu, mungkin karena pertama kali ke tempat kaya gitu kayanya. Dan di Narita tuh, khususnya Narita yang aku lihat saat itu bukan seluruh Narita, meskipun terlihat kaya kota karena banyak bangunan yang besar dan tinggi, anehnya jalanannya tuh baik jalan tempat mobil dan motor lewat maupun pinggir jalan tempat pejalan kaki lewat sepi banget. Dikit banget mobil yang lewat, apalagi motor, ga liat tuh ada motor yang lewat. Dan pejalan kaki pun cuma beberapa orang saja yang aku temui. Intinya suasananya sepi, padahal itu tuh baru sekitar jam 18, masih maghrib lah ya. Cuma meskipun masih jam segitu, langitnya sudah gelap, jadi kerasa seperti jam 19an kalau di Indonesia.

Nah setelah beberapa lama kami tiba di lokasi. Setibanya di hostel Daruma, ternyata kami ga bisa masuk ke dalam. Ke dalam hostelnya maksudnya, kalau ke dalam gedungnya mah bisa. Hostelnya ada di lantai atas, lantai dua atau tiga kalau ga salah. Kalau nanya kenapa bisa begitu? Jadi, ternyata pemesanan hostelnya tuh dibatalkan oleh aplikasi buat pesennya gara-gara kartu debit atau kartu kredit ya? Aku lupa kartu apa, pokoknya antara itu lah, intinya kartunya tuh ga valid. Entah karena salah nomor atau karena pas waktu itu kartunya kartuku tapi yang pesannya temanku pake akun temanku sehingga nama akun pemesan dan kartu beda, entahlah aku juga ga tau. Akibatnya, kami jadi ga punya tempat nginep dan jadi kebingungan harus nginep di mana malam itu. Kami nunggu lumayan lama di sana hingga kemudian kami keluar karena buat apa nunggu juga ga ada gunanya, soalnya udah ga bisa lagi. Oh iya, mau ngasih tau aja, hostelnya tuh ga ada penjaganya ataupun pelayanannya, jadi di sana kami berinteraksi dengan entah si pemilik atau penjaga lewat internet, di sana ada semacam tablet untuk ngehubungi pihak hostelnya. Dan kalau lancar nanti dikasih tau kunci/password pintunya. Cuma sayangnya ga lancar.

Kami pun keluar. Dan karena sudah lapar, kami pergi ke sebuah toko yang lumayan besar (market) yang terletak di dekat hostel itu. Waktu itu aku yang belanja, aku belanja sendirian, temanku nitip makanan yang sama denganku. Nah, pas aku lagi belanja, aku kebingungan, ga ngerti sama huruf-huruf Jepang yang nempel di kemasan-kemasan makanan ataupun yang ada di sekitar ruangan. Memang aku pernah belajar bahasa Jepang pas SMA dan bisa bicara pake bahasa Jepang dikit-dikit, cuma buat ngedengerin apa yang mereka ucapkan masih belum lancar, dan tulisan yang aku bisa baca cuma hiragana aja, itupun sebagian udah remang-remang, sedangkan katakana apalagi kanji masih belum bisa, katakana pernah bisa cuma hampir 100% lupa wkwk. Dan juga, untuk bertanya pun aku masih malu-malu, ini karena sifatku yang memang agak pemalu untuk nanya ke orang, akibatnya ya aku keliling-keliling cari roti rasa buah-buahan biar halal, meskipun belum tentu juga sih halal atau ngga, tapi kalau dibandingin sama rasa coklat atau daging ya sepertinya lebih aman. Dan pada akhirnya aku beli roti rasa apel, beli dua.

Ada pengalaman yang cukup berkesan juga loh di sana. Pas aku bayar di kasir, mba-mba kasirnya tuh ngomong sesuatu ke aku, tapi aku sama sekali ga gerti dia ngomong apa, bicaranya cepet soalnya. Aku hanya ngebayangin kalau dia nanya punya kartu ga kaya di supermarket di Indonesia wkwk. jadinya aku hanya berkata iie (ngga) beberapa kali. Ga jelas kan? Oh iya, FYI mbanya wajahnya imut ala gadis Jepang gitu lah, terus pas lagi ngomong ada nadanya, ditambah pas udah ngomong dianya senyum ke aku, kyaa..

Belanja pun selesai. Setelah itu aku keluar dan makan roti yang aku beli tadi bersama temanku di sebuah bangku di depan market tersebut. Sambil makan roti kami nyari alternatif tempat tinggal untuk istirahat malam ini.
Setelah beberapa lama mencari, pilihan yang didapat tuh masjid, warnet, dan hotel/hostel. Cuma hotel/hostel tentunya lumayan mahal dan bayarnya mesti pake uang yen, ga bisa transfer pake rupiah. Dan karena masjid jaraknya jauh, warnet tidak ada yang terdeteksi, maka akhirnya kami milih pesen hostel yang namanya tuh Caravan Hub. 3500 yen untuk semalam, lumayan. Akibatnya uang yen kami pun berkurang cukup banyak untuk sesuatu yang tak terduga. Oh iya kami cuma bawa sekitar 22500 yen, jadi minus 3500 yen ya udah lumayan lah ya.

Setelah energi kami terisi kembali kami mulai melakukan perjalan menuju Caravan Hub, tentunya dipandu oleh Google Maps sang tour guide andalan kami. Sebenernya karena ga ada lagi yang bisa diandalkan hehe. Dan suatu ketika, kami pun tiba, tiba di sana, di hostel tercinta, eh. Itu cuma nyamain rima aja hehe. Dan tau ga, di hostel tersebut aku dapat hal baru yang berkesan lagi, bahkan sejak awal masuk ke sana. Jadi, aku terkesan sama gaya si penjaga hostel itu, menurutku keren lah. Logat dan cara bicaranya bernada dengan dibagian akhirnya dipanjangkan, entah berapa harakat. Di tambah ekspresi wajah dan gerakannya tuh ekspresif banget, jadinya meninggalkan suatu kesan bagiku. Selain dengan orangnya, terkait tempatnya aku mau ngasih gambaran, ukurannya ga terlalu besar, bahkan bisa dikatakan kecil. Tapi nyaman dan lumayan estetik. Dan setelah selesai registrasi check in, kami pun tidur di sana malam itu. Di kasurnya maksudnya.

Besoknya kami bangun, setelah sebelumnya tidur. Jadi, kami tuh bangun, tidur, terus bangun. Apa sih? Nah, setelah bangun, terus dilanjutkan mandi, shalat, dan sarapan. Oh iya, terkait tempat mandinya, meskipun ukurannya kecil namun enak dipakai. Aku suka desainnya, khususnya untuk ruangan yang kecil dan terbatas. Kecil tapi nyaman dan bersih. Selanjutnya, terkait sarapannya, kami makan sereal pakai susu cair yang disediakan disana secara gratis untuk yang menginap di sana, rasanya juga lumayan enak meskipun mengenyangkan tidaknya patut dipertanyakan.
Dan ketika di sana juga, di hostel itu, aku dan temanku bertemu salah seorang peserta IYIS 2018 loh yang kebetulan juga nginep di sana. Kami pun kenalan dengannya. Ia perempuan asal Zimbabwe yang kuliah di Turki. Jadinya yang semula rencananya aku mau jalan-jalan berdua sama temanku, jadinya bertiga dengan dia. Hari itu pun kami bertiga jalan-jalan Bersama menjelajahi Narita.

Kami awali perjalanan ini dengan jalan kaki tanpa tujuan, tapi masih di sekitar Narita. Namun, karena ga jelas jalan tanpa tujuan, akhirnya kami diam dulu bentar sambal nentuin ke mana arah pergerakan ini akan menuju. Kami pun memutuskan untuk ke museum penerbangan. Kami bergegas ke tempat di mana bis berada. Jadi, kami naik bis untuk pergi ke sananya. Kami naik, dan duduk, dan menunggu sampai binya berhenti. Tapi bisnya tuh malah berhenti di mal, di AON Mall, entah kenapa sepertinya kami salah naik bis atau gimana aku juga ga tau. Akibatnya kami malah keliling-keliling di mall tersebut. Oh iya, di sana juga pas udah dari dalam mall kami ngeliat DAISO, toko tempat jual oleh-oleh yang serba 100 yen. Kami bertiga masuk ke sana, tapi kami ga beli apa-apa. Intinya cuma buat dapetin informasi, aku dapat informasi yakni isi toko tersebut tuh barang-barang untuk keperluan sehari-hari, ga terlalu aneh, tapi ada suvenir-suvenir juga ternyata. Dan tepat disamping ruangan DAISO, tanpa dinding yang membatasi, ada toko yang menjual benda-benda berbau anime. Di sana di jual gantungan, figur anime, manga, DVD, dsb.

Setelah puas atau mungkin udah lelah atau udah bosen berada di sana, kami naik bis lagi ke arah Stasiun Narita (Narita station), tempat kami naik di awal. Diperjalanan ini kami melewati tempat yang unik. Itu tuh jalan yang agak miring, yang di kiri kanannya ada toko-toko yang menjual barang-barang atau makanan, kayanya itu pasar deh. Tempatnya bercorak tradisional gitu. Kami ngerasa energi budaya Jepangnya memancar di sini. Kami ingin turun tapi ga tahu boleh atau ngga turun di tempat yang bukan tempat pemberhentiannya. Dan kalaupun bisa turun kami ga tau di mana kami bisa naik bis buat kembali ke hostel. Akibatnya kami turunnya di Stasiun Narita (Narita station, kembali ke awal). Kalau di fisika berarti kami ga ngelakuin usaha sama sekali. Jadi kami ngapain atuh? Hehe

Dari sana kami milih ngunjungin tempat-tempat lain yang terdekat dari sana, dengan mengandalkan Google Maps lagi kali ini sebagai travel guide bukan tour guide, kami berhasil tiba di sebuah museum tradisional dan selanjutnya di pasar tradisional tadi, ternyata ga jauh dari kuil, dan sebuah kuil yang mungkin jadi tujuan utama kami, Naritasan shinshoji temple.

Museumnya cuma berisi benda-benda dan foto-foto berbau sejarah tradisional Jepang, jadinya kami ga lama di sana. Di pasar cuma numpang lewat aja, sambal liat-liat sekeliling. Banyak makanan aneh-aneh dan benda aneh. Tapi keren sih menurutku. Dan paling lama tuh kami ngisi waktu di kuil. Kami foto-foto dan ngeliat-liat suasana sekitar. Di sana banyak orang yang berkunjung, udaranya pun juga terasa berbeda. Selain itu, pas di sana aku ngeliat ada beberapa orang Jepang lagi berdo’a, lalu ada juga yang lagi ngelempar koin ke kolam yang di dalamnya ada batu dan banyak kura-kura. Entah apa tujuan dan maksudnya. Kami pun berjalan-jalan di sekitar kuil, hingga suatu saat kami bertemu kata selesai, dalam arti lain kamu sudah merasa cukup untuk berada di sana dan ingin pindah mengunjungi tempat berikutnya.

Nah, kesan yang aku dapetin selama jalan-jalan di Narita, ialah bahwa Narita tuh terkesan tradisional. Sehingga budaya-budaya Jepangnya terasa. Entah ini kota atau desa, aku lebih merasa seperti desa sebab di Narita masih ada lahan-lahan berisi pepohonan-pepohonan. Tapi meskipun begitu, bangunan-bangunan besar khas kota ada di sini. Jadi bingung aku juga, ini desa atau kota. Tapi kalau kenyataannya ini kota, rasanya beda jauh dengan Tokyo yang akan aku ceritakan nanti. Pokonya di Narita ini suasana Jepangnya terasa banget. Oh iya, sama terkait cuacanya, cuacanya sedikit dingin dan berangin, khususnya di pagi hari. Dan satu lagi, terkait tempat dan infrastrukturnya, aku suka sama jalan-jalannya, bukan kata kerja ya tapi kata benda. Jalan-jalannya tuh rapi dan bersih, warnanya abu-abu, dan ga ada yang namanya macet di sini. Relatif sepi. Tapi, tetep aja ada juga orang-orang yang berlalu-lalang di siang harinya, lebih banyak dibandingkan ketika malam.

---
Jalan pas lagi jalan-jalan

Rel pas lagi jalan-jalan

Pasar ?

Kuil (Naritasan Shinshoji Temple)

Kuil (Naritasan Shinshoji Temple)