Kore wa Nihon desu (2)

Sekitar jam satu atau jam dua kami check out dari Caravan Hub. Banyak hal menarik dan berkesan di sana, tapi ga terlalu banyak juga sih, kaya sempat bertemu dan menyapa orang-orang asing yang juga nginep disana, ada bule yang lagi nginep yang pas ketemu aku senyumin terus dia bales dengan senyuman juga ditambah gerakan tangan kaya salam gitu. Terus aku juga sempet kenalan sama orang Jepang, entah temennya, sodara, isteri, atau siapanya si penjaga, cuma aku udah lupa lagi hehe cuma inget wajahnya aja, soalnya kenalan pas mau pamitan doank. Maklum baru pertama kali ke luar negeri hehe, jadi pengalaman-pengalaman gitu mengensankan.

Nah, suatu ketika aku ditelpon oleh panitia IYIS, itu tuh pas aku baru tiba di hostel selesai jalan-jalan bertiga tadi. Aku ditanyain mau dijemput di gelombang pertama atau gelombang kedua, yang pertama tuh dijemput jam itu dan yang kedua agak sorean. Karena ga terlalu jauh, stasiun itu setelah stasiun ini, aku pun bilang untuk ikut gelombang pertama setelah sebelumnya aku tanya dulu dua peserta lain yang ada di samping dan depanku. Pas udah beres ditelponnya kami segera ke Stasiun Narita (Narita station) buat ke bandara tempat panitia yang mau ngejemput kami berada.

Ada hal menarik loh pas kami dalam perjalanan dari hostel ke sini. Pertama, pas udah nyampe stasiun, uang temen kami yang dari luar negeri tuh lupa kalau uangnya ketinggalan di hostel, jadinya dia balik lagi dan aku sama temenku nunggu dulu. Aku sedikit khawatir, bisa ga ya nyampe di sana tepat waktu, soalnya gelombang satu udah mau berangkat, jamnya lupa jam berapa pokonya sekitar belasan atau duapuluh menitan lagi, atau tiga puluh menitan hehe. Dan itu tuh mereka tinggal nunggu kami aja. Namun, sedikit kekhawatiranku hilang setelah dia akhirnya dah balik ke stasiun. Estimasiku masih sempet walaupun bakalan mepet. Cuma… seperti halnya game, beres misi pertama ada misi ke dua, ya inilah hal menarik kedua. Meskipun kami dah lengkap, tetep aja keretanya dating sesuai jadwal ngga sesuai kami udah kumpul atau belum, jadinya kami nunggu lagi, sekarang bertiga nunggunya. Tapi di ruangan yang berbeda. Nah setelah sekian lama nungguin kereta, lumayan lama sampai-sampai temenku tidur dulu, ga tau tidur atau ngga sih cuma posisinya sih tidur, tidur sambil duduk dengan bersandar pada koper yang empuk, atau ga empuk ya hehe. Hanya aku seorang diri yang ga tidur karena bersiap siaga menunggu kehadiran sang kereta. Ga sendiri juga sih, ada calon-calon penumpang lainnya di ruangan itu. Sambil menatap ke depan dari tempat duduk dibalik kaca, melihat orang-orang Jepang berlalu-lalang. Aku sempat kepikiran apa jadinya kalau aku lahir di sini, akan jadi seperti apakah aku? Ya aku sedikit merenung mengenai kehidupan hehe, soalnya lama. Dan akhirnya, kereta pun tiba. Dan, tiba-tiba… kami gagal naik kereta itu. Lah kenapa coba? Jadi, waktu itu tuh kami salah masuk pintu kereta. Pintu yang kami masuki tuh pintu khusus buat penumpang tertentu, kalau ga salah semacam yang dipesan sebelumnya gitulah, atau semacam VIP atau express gitu, bukan yang biasa intinya. Nah, karena disuruh keluar kamipun keluar dari pintu itu untuk ganti pintu, eh ternyata belum juga jauh dari pintu itu pintu-pintu, pas kami baru keluar, semua pintu keretanya langsung nutup, terus keretanya pergi ninggalin kami begitu saja. Sedihkan? Jadinya kami nunggu lagi, cukup lama lagi, untuk kedatangan kereta berikutnya. Terus gimana dengan gelombangnya? Karena sekarang sudah masuk zamannya fisika modern, level kuantum, sekarang konsepnya udah dualisme gelombang-partikel, jadi .. eh maaf, maksudnya gelombang satunya jadi batal, jadinya gelombang dua yang berangkatnya sore.. hiks.. Tapi untungnya kereta berikutnya lancar-lancar saja. Yeay!

Setibanya di Stasiun Bandara Internasional Narita (Narita Int. Airport station) kami ketemu sama salah satu panitia IYIS yang udah nungguin kami. Kami duduk-duduk dulu, ngobrol dulu, sambil nungguin yang lain. Setelah tim gelombang dua lengkap, kami pun berangkat. Oh iya, ga cuma peserta Indonesia aja yang kami tungguin, ada juga tim dari Kamboja yang ikut gelombang dua. Kenapa aku bilang tim? Karena komposisi mereka tuh dua peserta IYIS, satu fotografer, sama beberapa dosennya, ada tiga orang bapak-bapak lagi, tapi masih muda dan juga ramah, mantap kan ada dosennya segala hehe. Kami pun berangkat bareng-bareng naik kereta lagi, kali ini langsung ke Tokyo. Aku berdiri lagi di kereta, dan kali ini lumayan lama karena ternyata jarak Narita dan Tokyo teh jauh pisan, ga jauh-jauh juga sih cuma ya lumayan lah, lama juga soalnya di keretanya. Nah, di atas kereta, maksudnya di atas lantai kereta di dalamnya ya bukan di atas atap kereta, aku melihat pemandangan rumah-rumah yang terlihat samar-samar karena hari yang sudah mulai menggelap. Ga cuma itu, aku juga ngobrol sama panitia yang mimpin kami ke lokasi, aku nanya-nanya beberapa hal padanya. Kira-kira apa ya pertanyaannya? Jadi penasaran aku.

Setibanya di stasiun yang ada di Tokyo, entah apa namanya, kami jalan kaki lagi, dan lagi-lagi lumayan jauh jaraknya. Kami pergi ke suatu restoran yang ada di Taito. Namanya Karunesuteeshon Asakusa-ten, eh bener ga sih itu?, pokonya anggap ajalah itu. Kami nyampe di sana kira-kira jam 19.30 JST. JST tuh Japan S Time, S nya apa ya lupa duh, intinya standar waktu kaya WIB, WITA, WIB di Indonesia. Nah di sana kami makan bersama. Dan di sana pula aku ketemu dengan peserta-peserta IYIS yang lain, termasuk yang dari negara-negara lain. Itulah acara pertama, yakni pembukaan dari IYIS 2018 ini, welcoming dinner.

Penasaran ga apa yang aku makan? Ga penting lah ya bahas itu, namun karena ga penting itulah makanya aku tertarik buat ngebahasnya hehe. Jadi di sana, aku makan nasi, kayanya itu nasi goreng, dan lauknya tuh aku ambil kentang, mie, dan bahan-bahan yang digoreng langsung di atas meja, aku ambilnya cumi-cumi dan ikan, gatau ikan apa hehe. FYI, ikannya udah mati jadi ga gerak-gerak. Lumayan enak, eh enak sih sebenernya bukan lumayan enak. Oh iya, aku duduk bareng temanku dekatku yang setim sama aku (laki-laki), dan juga bareng peserta dari Zimbabwe (perempuan), sama dua peserta lagi dari Kamboja (laki-laki dan perempuan). Kami makan Bersama di meja tersebut.

Setelah selesai minum, kami berangkat ke hostel yang telah disediakan panitia. Sebagian jalan dan sebagian naik bis. Aku naik bis bareng rombongan yang ke restorannya jalan, itu tuh si gelombang dua hehe. Nah, ketika di bis, aku duduk disamping peserta dari Kamboja yang tadi makan bareng. Kami kenalan dan ngobrol-ngobrol ringan. Meskipun makan duduk semeja tapi belum kenalan hehe lucu ya. Setelah ngobrol, aku jadi tau kalau ternyata dia tuh mahasiswa. Orang-orang nganggapnya mereka tuh SMA loh, soalnya dari penampilan terlihat masih muda-muda, tapi kenyataannya dia adalah mahasiswa, mahasiswa computer science di Norton University. Begitu pula dengan temennya yang satunya lagi juga ternyata udah mahasiswa, dari universitas yang sama pula. Terus dosen-dosennya juga sama-sama dari universitas yang sama loh bukan dosen dari universitas lain ternyata.

Suatu ketika, bis yang aku naiki berhenti, berhenti dan tidak bergerak, karena dah nyampe. Tapi kami tetap aja perlu jalan kaki lagi buat nyampe di hostelnya. Kami pun jalan lagi. Beberapa menit kemudian kami nyampe di sana, Namanya Hotel & Hostel Wahaku Kotobuki, letaknya di Taito. Di sana aku dikasih kartu yang berperan sebagai kunci. Nah pintunya tuh otomatis kekunci loh pas ditutup, dan buat ngebuka kuncinya tinggal scan kartunya ke tempat buat scan yang bentuknya persegi panjang yang terletak dideket gagang pintu. Pertanyaannya, kamar aku di mana? Aku ditempatin di kamar di lantai bawah. Kamarnya bisa dibilang nggak luas, satu kamar ada belasan sub kamar, alias ruangan balok buat nyimpen satu orang. Isinya kasur sama beberapa fitur-fitur sub kamar kaya wadah, lampu, dsb., mirip dengan tempat tidur waktu di Caravan Hub di Narita, cuma desainnya aja yang beda. Tapi secara keseluruhan lumayan nyaman, kamar mandinya pun sama-sama enak dipakai. Begitulah hari pertama kami, aku dan aku-aku lainnya dari sudut pandang mereka, sebagai peserta IYIS 2018 ini. Sepertinya hari ini diisi oleh berjalan kaki seharian. Melelahkan, tapi menyenangkan. Yang jelas hari tersebut merupakan hari yang berisi pengalaman-pengalaman yang mengesankan.

Tambahan, kaya kesan pertama di Narita, aku juga mau nulis kesan pertamaku di Tokyo. Kesanya, aku ngerasa kalau suasana Tokyo tuh beda banget sama Narita. Aku ngerasa orang-orang Tokyo jalannya relatif lebih cepet. Khususnya pas di stasiun, pergerakan orang-orangnya cepat banget, apalagi kalau dibandingin sama di Indonesia. Di sana ada yang jalan di eskalator (berjalan di tangga berjalan, jadi jalan kuadrat hehe), ada yang lari-lari, dan sebagainya. Intinya jarang atau ga keliatan ada orang yang jalan nyantai apalagi berhenti kaya di Indonesia, kecuali rombongan kami wkwk. Cuma sedihnya, aku ga liat yang lari dengan tubuh miring ke depan dan tangan lurus ke belakang kaya ninja/shinobi, yaah.. Terus, entah emang begini atau cuma perasaan aku aja, orang-orangnya tuh lebih beraneka ragam, bahkan orang penampilan atau tingkahnya aneh mulai keliatan, contohnya ada yang teriak-teriak ga jelas di stasiun wkwk. Dan kabar gembiranya, orang Jepang yang suka membaca buku akhirnya terlihat juga, aku juga suka baca buku soalnya. Aku sempet liat beberapa orang lagi baca buku, ga tau buku apa, yang aku ingat ada yang baca di kursi tempat nunggu kereta, ada yang di dalam kereta, dan entah dimana lagi ya, pokoknya ada yang lainnya cuma aku ga ingat aja. Namun, ya zaman telah berubah, sekarang bukan lagi zaman Edo atau apalah, jadinya yang main HP malah jauh lebih banyak. Ya ga jauh beda sama orang-orang kota pada umumnya kali ya, pada fokus ke gadget, jadi kesannya lebih individualis. Maklum lah era digital wkwk.

---

Di perjalanan

Di perjalanan

Restoran tempat acara pertama IYIS 2018

Hostel tempat peserta IYIS 2018 menginap

Hostel tempat peserta IYIS 2018 menginap