Sesuatu yang ajaib terjadi,
matahari terbit dari Barat. Tapi itu hanya opini sih, aku tidak melihat
langsung. Ya intinya waktu yang dulunya disebut sekarang telah berubah menjadi
masa lalu dan masa depan berubah menjadi sekarang. Sederhananya, hari ini hari
Rabu, sedangkan kemarin hari Selasa. Ya gitulah.
Hari ini adalah hari
kunjungan-kunjungan. Benarkah? Ya, benar. Seperti biasa kami mulai dari hostel
(karena tidur di sana). Dan seperti biasa nungguin semuanya ngumpul dulu, terus
pas udah ngumpul semua baru deh berangkat. Dan seperti biasa juga aku liat
orang-orang Jepang jalan dengan cepat dari kanan ke kiri aku. Nah disini aku ngobrol
sama peserta lain dari luar negeri yang akhirnya jadi lumayan dekat. Dia
mahasiswa S2, asalnya dari Kamboja, sekarang lagi kuliah di Korea. Dia belajar
tentang Artificial Intelligence,
bagian pengenalan wajah atau suara ya? Kalau ga salah wajah (atau apalah
terkait itu, ada recognizernya gitu
kalau ga salah, antara face recognizer dan
voice recognizer gitu). Dia agak
mirip kaya aku selama program berlangsung. Keliatan jarang bicara dan ga terlalu
aktif bersosialisasi, kerennya kami baru mulai ngobrol pas saat ini, padahal
udah bareng-bareng lumayan lama, tapi ya gitulah ga ada interaksi hehe. Dan
setelah bicara sama dia, ternyata pembicaraannya pun nyambung. Jadi enak lah
ngobrolnya. Cuma ada satu hal yang menganjal, aku ragu, ini tuh terjadi di hari
ini atau besok ya? Terselah aku lah yak an ini pengalaman aku, anggap aja hari
ini ya.
Ok, setelah semua berkumpul
kami pun berangkat. Lokasi pertama adalah Tokyo Institute of Technology. Dan
seperti biasa: Jalan kaki, naik kereta, jalan kaki, sampai. (gini nih
algoritmanya, udah ga asing lagi kan? Atau sudah hafal?). Pas udah nyampe, di
sana kami langsung ke suatu Gedung, ke sebuah ruangan yang ada kursinya. Di
sana ada presentasi. Penyambutan dan pemaparan singkat tentang sejarah TIT dan
tentang inovasi-inovasinya. Setelahnya ke museum-museum TIT liat-liat
benda-benda. Ada kerajinan, mesin, miniatur bangunan, dan lain sebagainya. Yang
lumayan keren tuh hologramnya, jadi ada semacam corong kaca yang didalamnya ada
cahaya hologram. Sama satu lagi ada kaca yang kalau diliat dari pinggir cuma kaca
yang bening, tapi kalau liatnya dari depan muncul gambar berwarna di kacanya, terus
kalau agak miring liatnya warna di kacanya jadi beda (eh itu bukan kepala
akunya yang miring ya, maksudnya ada sudut antara garis normal kaca sama mata
aku). Oh iya, ada juga yang ga kalah pentingnya. Di sana ada benda berbentuk
koin berwarna emas yang ada ukiran Pak Nobel. Ya koin Nobel prize atau apa pun istilahnya, pokoknya yang dikasihin ke Nobel Leaureate / penyair Nobel / Nobel prize winner / Peraih hadiah Nobel. Aku pun selfie di depan koin Nobel itu
supaya bisa dapat Nobel juga hehe. Tapi ga terlalu minat juga sih, cuma kalau
suatu saat nanti dikasih ya mau gimana lagi, nolak juga ga enak, ya aku terima
ajalah mau ga mau, ga ada pilihan lain. Kan udah selfie bareng hehe. Oh iya ada
kejadian keren pas di TIT loh. Jadi kan disana tuh ada brosur-brosur gratis.
Nah, biasalah peserta-peserta dari Indonesia, mereka (kami sih, kan termasuk aku) bawa brosurnya
ngeborong gitu, alasannya oleh-oleh. Intinya, aneh aja sih ngebawa brosur
sebanyak itu. Ok lanjut ya. Setelah dari museum kami menuju ke kantinnya.
Diperjalanan kami ngelewatin gedung utama TIT yang ada di Google kalau searching univ ini, eh institute ini. Aku
foto dulu di situ biar keren. Nah habis itu ke kantin. Di kantin kami beli
makan, makanannya milih sendiri. Untungnya penjaga kantin disini dah ngerti
makanan halal, jadi disediain makanan yang halalnya. Jadi mudahlah pokonya.
Tapi pas aku mau ambil bumbu semacam saus, aku bingung karena ga ada labelnya,
dan itu letaknya lumayan jauh dari penjaga kanti (mereka di dapur dan ada yang
dikasir). Tapi ga jauh sampai puluhan meter juga, ya kali. Nah disinilah aku
menerapkan kemampuan Bahasa Jepangku hasil belajarku dengan sungguh-sungguh
atau dengan tidak bersungguh-sungguh (dari anime hehe), atau karena aku pernah
belajar di SMA. Ada mata pelajarannya soalnya di beberapa semester di SMA, jadi
ya bicara bahasa Jepang yang dasar mah bisa lah ya, baca dan nulis huruf Jepang
juga kayanya bisa, tapi cuma hiragana. Bahkan logat-logat yang kawai pun bisa lah ya hasil belajar
dengan tekun dan gigih atau sebaliknya dari makhluk-makhluk 2D itu hehe. Aku
nanya ke mba-mba orang Jepang yang jadi pemandunya (dengan gaya normal ya,
untuk 3D bukan 2D). Untungnya nyambung. Intinya dia juga kurang tau, keliat
agak bingung pas nyari mana yang halal atau ngganya. Keputusan akhirnya aku ga
jadi ngeluarin apa yang ada di dalam botol-botol itu. Nah di sini aku makan di
meja yang ada kursinya. Aku duduk berlima. Semuanya orang Indonesia (laki-laki)
tapi ada satu yang bukan, dia (perempuan) dari luar negeri. Dia dari Kirgiztan
kalau ga salah. Kami mengobrol beberapa hal. Dia cerita tentnag negaranya juga,
ternyata di sana banyak gunungnya. Terus dia juga cerita kalau dia tuh punya
rencana mau ngunjungin perusahaan-perusahaan besar pas acara ini udah berakhir,
entah buat apa ya, mungkin karir atau apa. Bagus juga rencananya. Terus, setelah
makan, kami minum. Maaf, maksudnya setelah makan kami berangkat menuju tempat
berikutnya. Setelah minum tentunya.
Tiba-tiba kami ada di Miraikan
(sejujurnya tidak tiba-tiba, ada prosesnya. Ingat tidak ada yang instan di
dunia ini bahkan mie.. stop! Jangan diteruskan!. “Oke” balasku.). Eh kamu
ngerasa déjà vu ga? Ya intinya kami berkunjung ke Miraikan di Koto, Tokyo. Nama
kerennya National Museum of Emerging
Science and Innovation, sebuah museum teknologi-teknologi futuristik gitu
lah. Di sana aku ngeliat banyak teknologi-teknologi canggih dan futuristik,
kaya globe raksasa yang menggantung diatas Gedung yang ada animasi udaranya,
ruangan simulator ISS (International
Space Station), kerangka roket (bagian apanya ya, mungkin rocket enginenya atau propellernya atau apa ya, terus yang
paling keren tuh ada robot yang bisa gerak sendiri, bukan jalan tapi gerak kaya
lirik sini lirik sana dsb, kayanya pakai A.I. (Artificial Intelligence). Dan ada dua robot yang bisa gerak
sendirinya tuh, yang satu masih kerangka, semacam kerangka orang cuma masih
berupa mesin2 gitu, gerakannya lebih aktif. Dan satu lagi rupanya udah mirip
banget manusia, mirip wanita, tapi yang ini gerakannya lebih terbatas, cuma
ngedip-ngedip sama mulutnya sedikit gerak-gerak kaya ngomong sesuatu, lagi
nyanyi kah? Atau manggil aku? “Hai..”, “Hallo”, Oh tidak. Nah, selain itu masih
banyak teknologi-teknologi lainnya yang sama-sama bagus. Ada juga kaya
hasil-hasil peneitian gitu. Dan ada juga tau ga, ada anak-anak SD yang
lucu-lucu loh, bahkan anak SMP juga ada yang lagi berkunjung ke museum itu. Aku
jadi kepikiran, anak kecil aja udah liat teknologi-teknologi canggih kaya gini,
pantas aja rata-rata mereka pintar dan cerdas (katanya sih, kata
tulisan-tulisan). Sayangnya kami di sininya cuma bentar, jadinya aku cuma
foto-foto aja, belum nyobain alat-alatnya. Bahkan ada satu lantai belum aku
masuki. Sedih. Jadi pengen ke sini lagi. Biarlah, mungkin hikmahnya “Kamu harus
ke sini lagi nanti, kamu penasarankan di lantai itu ada apa?”. Oh iya, aku juga
ketemu orang Indonesia yang lagi ke sini loh, ada bapak-bapak masih muda dan
anaknya, dia nyapa aku sama temanku. Kalau ga salah nanya ke kami, nyapa sih
lebih tepatnya, “Dari Indonesia ya?”, ya udah kami jawab iya. Udah ya sampai
sini aja. Sama satu lagi informasi deh. Sebelum ke tempat selanjutnya kami foto
bersama lagi. Dan tahukah Anda? Kami foto di tempat yang sama dengan tempat
foto kemarin, di depan gedung tempat konferensi dan presentasi esai. Cuma
bedanya ini siang dan kemarin malam. Kaya bedanya kopi panas dan kopi yang udah
dingin.
Berikutnya kami ke Odaiba.
Jadi odaiba itu semacam teluk buatan yang ada di Tokyo yang dibuat untuk.. apa
ya ga tau aku juga (search aja Odaiba). Nah salah satu daya tarik pengunjungnya
tuh ada Robot Gundam raksasa, Unicorn
Gundam Statue. Kami foto-foto di sana. Bukan hanya foto pakai HP atau
camera, tapi aku ikut juga foto yang difotoin. Jadi ada tempat khusus untuk
foto gitu, aku dan beberapa peserta naik ke sana buat difotoin sama yang bikin
jasa fotonya. Kalau ga salah 5 orang termasuk aku difoto barengan oleh mba-mba
Jepang. Nah disini ada sedikit cerita. Kan kami tuh pengen foto barengan
berlima, dan yang dari India tuh bilang ke mba-mbanya pakai bahasa Inggris,
tapi mbanya ga ngerti, jadi agak lama buat ngejelasin foto barengannya (soalnya
defaultnya perorang, jadi pas foto
bareng-bareng perlu request gitu).
Untungnya aku sadar kalau aku sebenarnya bisa bahasa Jepang buat ngejelasin kalau
kita tuh pengennya foto bersama. Cuma masalahnya kenapa ngga kepikiran dari
tadi ya? Ya udah lah ya masa lalu biarlah berlalu. Aku pun bilang ke mbanya
pake bahasa Jepang, akhirnya ia mengerti, sekejap mata ngertinya kalau pake
Bahasa Jepang. Akhirnya kami pun foto bersama. Nah pas turun, kan itu tuh jasa
foto ya sebenernya tuh. Jadinya ada penawaran buat ambil foto cetaknya. Cuma
harganya lumayan mahal, jadinya ga ada seorang pun dari kami yang beli. Padahal
dah di cetak. Gomen ne.
Setelah dari sana kami lanjut ke
museum yang tempatnya ga jauh dari sana. Museum kendaraan, tapi ga lama di sana.
Aku ketinggalan rombongan, jadinya masuk ke sana cuma berdua sama peserta yang
dari SMA. Kami cuma jalan menyusuri rute sampai akhirnya keluar lagi. Tapi
sempat foto-foto juga sih dikit.
Sehabis dari sana, aku duduk
di pinggiran bareng yang lainnya. Aku buka HP. Terus aku sadar kalau belum
shalat. Aku pun ngajak dua peserta lain yang sama-sama belum shalat juga. Ada
dua kisah di sini. Satu, aku panik karena nganggap HPku hilang. Nah kan di sana
tuh ga ada tempat buat shalat, jadinya kami ke bawah (ada tangga) ke daerah
berumput dipinggir jalan buat ngelaksanain shalat. Nah aku panik karena pas mau
cek arah kiblat di HPku taunya HPku ga ada, aku buru-buru ke atas lagi,
tanya-tanya ke peserta yang ada di sana, bahkan ke dosen yang duduk ditempatku
semula, tapi ga ada. Eh taunya HPku ada di tas. Hehe. Kedua, nah kan kami
shalatnya di pinggir jalan tuh, sambil duduk lagi. Nah pas lagi transisi shalat,
shalat dzuhur ke ashar (waktu itu di jama), aku liat lagi ada orang yang
berdiri kaya lagi ngasih tau yang lain kalau di sini lagi ada yang ibadah. Jadi,
waktu itu tuh lagi ada semacam rombongan yang jalan lewat tangga di samping
kami shalat, nah orang itu tuh semacam nyuruh supaya jangan berisik atau apalah
gitu. Cuma ga tau juga itu orang mana, kayanya dari China kalau dari suaranya.
Setelah semuanya selesai, kami
kembali ke hostel. Dan sebelum itu, pas lagi diperjalanan, kami ngelewatin suatu
tempat yang di sana tuh sekelilingnya pemandangan-pemandangan kota tuh keliatan.
Jadi dari situ kita bisa ngeliat Tokyo Skytree (Nanti diceritain sama aku,
soalnya aku dan temanku ke sini), terus ada bangunan yang diatasnya ada bola
raksasa, ada juga benda aneh raksasa (ga tau bentuk apa itu), bahkan ada kaya
patung liberti yang bisa terlihat dari sana. Di sini banyak turis. Dan aku
ketemu tiga anak SMP yang pake seragam hitam yang kaya di anime sekolahan, yang
satu bawa tongsis, kayanya mereka lagi foto-foto deh, lucunya, imut-imut gitu
keliatannya. Bajunya. Mungkin. Atau orangnya? Nah di sini tuh aku dan beberapa
peserta lain lagi nunggu peserta yang lainnya lagi yang belum datang, jadi
lumayan lama juga di sini. Berdiam sejenak menikmati udara malam di negara
orang.
Setelah lengkap, kami menuju
ke hostel. Di hostel sana, spesifiknya di tempat tidur, aku tidur.
---
Tokyo Institute of Technology
Foto bersama pesert IYIS 2018 di Tokyo Institute of Technology
Museum Miraikan
Gundam statue
Foto bareng peserta IYIS 2018 (foto lagi)




