Kore wa Nihon desu (4)


Sesuatu yang ajaib terjadi, matahari terbit dari Barat. Tapi itu hanya opini sih, aku tidak melihat langsung. Ya intinya waktu yang dulunya disebut sekarang telah berubah menjadi masa lalu dan masa depan berubah menjadi sekarang. Sederhananya, hari ini hari Rabu, sedangkan kemarin hari Selasa. Ya gitulah.

Hari ini adalah hari kunjungan-kunjungan. Benarkah? Ya, benar. Seperti biasa kami mulai dari hostel (karena tidur di sana). Dan seperti biasa nungguin semuanya ngumpul dulu, terus pas udah ngumpul semua baru deh berangkat. Dan seperti biasa juga aku liat orang-orang Jepang jalan dengan cepat dari kanan ke kiri aku. Nah disini aku ngobrol sama peserta lain dari luar negeri yang akhirnya jadi lumayan dekat. Dia mahasiswa S2, asalnya dari Kamboja, sekarang lagi kuliah di Korea. Dia belajar tentang Artificial Intelligence, bagian pengenalan wajah atau suara ya? Kalau ga salah wajah (atau apalah terkait itu, ada recognizernya gitu kalau ga salah, antara face recognizer dan voice recognizer gitu). Dia agak mirip kaya aku selama program berlangsung. Keliatan jarang bicara dan ga terlalu aktif bersosialisasi, kerennya kami baru mulai ngobrol pas saat ini, padahal udah bareng-bareng lumayan lama, tapi ya gitulah ga ada interaksi hehe. Dan setelah bicara sama dia, ternyata pembicaraannya pun nyambung. Jadi enak lah ngobrolnya. Cuma ada satu hal yang menganjal, aku ragu, ini tuh terjadi di hari ini atau besok ya? Terselah aku lah yak an ini pengalaman aku, anggap aja hari ini ya.

Ok, setelah semua berkumpul kami pun berangkat. Lokasi pertama adalah Tokyo Institute of Technology. Dan seperti biasa: Jalan kaki, naik kereta, jalan kaki, sampai. (gini nih algoritmanya, udah ga asing lagi kan? Atau sudah hafal?). Pas udah nyampe, di sana kami langsung ke suatu Gedung, ke sebuah ruangan yang ada kursinya. Di sana ada presentasi. Penyambutan dan pemaparan singkat tentang sejarah TIT dan tentang inovasi-inovasinya. Setelahnya ke museum-museum TIT liat-liat benda-benda. Ada kerajinan, mesin, miniatur bangunan, dan lain sebagainya. Yang lumayan keren tuh hologramnya, jadi ada semacam corong kaca yang didalamnya ada cahaya hologram. Sama satu lagi ada kaca yang kalau diliat dari pinggir cuma kaca yang bening, tapi kalau liatnya dari depan muncul gambar berwarna di kacanya, terus kalau agak miring liatnya warna di kacanya jadi beda (eh itu bukan kepala akunya yang miring ya, maksudnya ada sudut antara garis normal kaca sama mata aku). Oh iya, ada juga yang ga kalah pentingnya. Di sana ada benda berbentuk koin berwarna emas yang ada ukiran Pak Nobel. Ya koin Nobel prize atau apa pun istilahnya, pokoknya yang dikasihin ke Nobel Leaureate / penyair Nobel / Nobel prize winner / Peraih hadiah Nobel. Aku pun selfie di depan koin Nobel itu supaya bisa dapat Nobel juga hehe. Tapi ga terlalu minat juga sih, cuma kalau suatu saat nanti dikasih ya mau gimana lagi, nolak juga ga enak, ya aku terima ajalah mau ga mau, ga ada pilihan lain. Kan udah selfie bareng hehe. Oh iya ada kejadian keren pas di TIT loh. Jadi kan disana tuh ada brosur-brosur gratis. Nah, biasalah peserta-peserta dari Indonesia, mereka  (kami sih, kan termasuk aku) bawa brosurnya ngeborong gitu, alasannya oleh-oleh. Intinya, aneh aja sih ngebawa brosur sebanyak itu. Ok lanjut ya. Setelah dari museum kami menuju ke kantinnya. Diperjalanan kami ngelewatin gedung utama TIT yang ada di Google kalau searching univ ini, eh institute ini. Aku foto dulu di situ biar keren. Nah habis itu ke kantin. Di kantin kami beli makan, makanannya milih sendiri. Untungnya penjaga kantin disini dah ngerti makanan halal, jadi disediain makanan yang halalnya. Jadi mudahlah pokonya. Tapi pas aku mau ambil bumbu semacam saus, aku bingung karena ga ada labelnya, dan itu letaknya lumayan jauh dari penjaga kanti (mereka di dapur dan ada yang dikasir). Tapi ga jauh sampai puluhan meter juga, ya kali. Nah disinilah aku menerapkan kemampuan Bahasa Jepangku hasil belajarku dengan sungguh-sungguh atau dengan tidak bersungguh-sungguh (dari anime hehe), atau karena aku pernah belajar di SMA. Ada mata pelajarannya soalnya di beberapa semester di SMA, jadi ya bicara bahasa Jepang yang dasar mah bisa lah ya, baca dan nulis huruf Jepang juga kayanya bisa, tapi cuma hiragana. Bahkan logat-logat yang kawai pun bisa lah ya hasil belajar dengan tekun dan gigih atau sebaliknya dari makhluk-makhluk 2D itu hehe. Aku nanya ke mba-mba orang Jepang yang jadi pemandunya (dengan gaya normal ya, untuk 3D bukan 2D). Untungnya nyambung. Intinya dia juga kurang tau, keliat agak bingung pas nyari mana yang halal atau ngganya. Keputusan akhirnya aku ga jadi ngeluarin apa yang ada di dalam botol-botol itu. Nah di sini aku makan di meja yang ada kursinya. Aku duduk berlima. Semuanya orang Indonesia (laki-laki) tapi ada satu yang bukan, dia (perempuan) dari luar negeri. Dia dari Kirgiztan kalau ga salah. Kami mengobrol beberapa hal. Dia cerita tentnag negaranya juga, ternyata di sana banyak gunungnya. Terus dia juga cerita kalau dia tuh punya rencana mau ngunjungin perusahaan-perusahaan besar pas acara ini udah berakhir, entah buat apa ya, mungkin karir atau apa. Bagus juga rencananya. Terus, setelah makan, kami minum. Maaf, maksudnya setelah makan kami berangkat menuju tempat berikutnya. Setelah minum tentunya.

Tiba-tiba kami ada di Miraikan (sejujurnya tidak tiba-tiba, ada prosesnya. Ingat tidak ada yang instan di dunia ini bahkan mie.. stop! Jangan diteruskan!. “Oke” balasku.). Eh kamu ngerasa déjà vu ga? Ya intinya kami berkunjung ke Miraikan di Koto, Tokyo. Nama kerennya National Museum of Emerging Science and Innovation, sebuah museum teknologi-teknologi futuristik gitu lah. Di sana aku ngeliat banyak teknologi-teknologi canggih dan futuristik, kaya globe raksasa yang menggantung diatas Gedung yang ada animasi udaranya, ruangan simulator ISS (International Space Station), kerangka roket (bagian apanya ya, mungkin rocket enginenya atau propellernya atau apa ya, terus yang paling keren tuh ada robot yang bisa gerak sendiri, bukan jalan tapi gerak kaya lirik sini lirik sana dsb, kayanya pakai A.I. (Artificial Intelligence). Dan ada dua robot yang bisa gerak sendirinya tuh, yang satu masih kerangka, semacam kerangka orang cuma masih berupa mesin2 gitu, gerakannya lebih aktif. Dan satu lagi rupanya udah mirip banget manusia, mirip wanita, tapi yang ini gerakannya lebih terbatas, cuma ngedip-ngedip sama mulutnya sedikit gerak-gerak kaya ngomong sesuatu, lagi nyanyi kah? Atau manggil aku? “Hai..”, “Hallo”, Oh tidak. Nah, selain itu masih banyak teknologi-teknologi lainnya yang sama-sama bagus. Ada juga kaya hasil-hasil peneitian gitu. Dan ada juga tau ga, ada anak-anak SD yang lucu-lucu loh, bahkan anak SMP juga ada yang lagi berkunjung ke museum itu. Aku jadi kepikiran, anak kecil aja udah liat teknologi-teknologi canggih kaya gini, pantas aja rata-rata mereka pintar dan cerdas (katanya sih, kata tulisan-tulisan). Sayangnya kami di sininya cuma bentar, jadinya aku cuma foto-foto aja, belum nyobain alat-alatnya. Bahkan ada satu lantai belum aku masuki. Sedih. Jadi pengen ke sini lagi. Biarlah, mungkin hikmahnya “Kamu harus ke sini lagi nanti, kamu penasarankan di lantai itu ada apa?”. Oh iya, aku juga ketemu orang Indonesia yang lagi ke sini loh, ada bapak-bapak masih muda dan anaknya, dia nyapa aku sama temanku. Kalau ga salah nanya ke kami, nyapa sih lebih tepatnya, “Dari Indonesia ya?”, ya udah kami jawab iya. Udah ya sampai sini aja. Sama satu lagi informasi deh. Sebelum ke tempat selanjutnya kami foto bersama lagi. Dan tahukah Anda? Kami foto di tempat yang sama dengan tempat foto kemarin, di depan gedung tempat konferensi dan presentasi esai. Cuma bedanya ini siang dan kemarin malam. Kaya bedanya kopi panas dan kopi yang udah dingin.

Berikutnya kami ke Odaiba. Jadi odaiba itu semacam teluk buatan yang ada di Tokyo yang dibuat untuk.. apa ya ga tau aku juga (search aja Odaiba). Nah salah satu daya tarik pengunjungnya tuh ada Robot Gundam raksasa, Unicorn Gundam Statue. Kami foto-foto di sana. Bukan hanya foto pakai HP atau camera, tapi aku ikut juga foto yang difotoin. Jadi ada tempat khusus untuk foto gitu, aku dan beberapa peserta naik ke sana buat difotoin sama yang bikin jasa fotonya. Kalau ga salah 5 orang termasuk aku difoto barengan oleh mba-mba Jepang. Nah disini ada sedikit cerita. Kan kami tuh pengen foto barengan berlima, dan yang dari India tuh bilang ke mba-mbanya pakai bahasa Inggris, tapi mbanya ga ngerti, jadi agak lama buat ngejelasin foto barengannya (soalnya defaultnya perorang, jadi pas foto bareng-bareng perlu request gitu). Untungnya aku sadar kalau aku sebenarnya bisa bahasa Jepang buat ngejelasin kalau kita tuh pengennya foto bersama. Cuma masalahnya kenapa ngga kepikiran dari tadi ya? Ya udah lah ya masa lalu biarlah berlalu. Aku pun bilang ke mbanya pake bahasa Jepang, akhirnya ia mengerti, sekejap mata ngertinya kalau pake Bahasa Jepang. Akhirnya kami pun foto bersama. Nah pas turun, kan itu tuh jasa foto ya sebenernya tuh. Jadinya ada penawaran buat ambil foto cetaknya. Cuma harganya lumayan mahal, jadinya ga ada seorang pun dari kami yang beli. Padahal dah di cetak. Gomen ne.

Setelah dari sana kami lanjut ke museum yang tempatnya ga jauh dari sana. Museum kendaraan, tapi ga lama di sana. Aku ketinggalan rombongan, jadinya masuk ke sana cuma berdua sama peserta yang dari SMA. Kami cuma jalan menyusuri rute sampai akhirnya keluar lagi. Tapi sempat foto-foto juga sih dikit.

Sehabis dari sana, aku duduk di pinggiran bareng yang lainnya. Aku buka HP. Terus aku sadar kalau belum shalat. Aku pun ngajak dua peserta lain yang sama-sama belum shalat juga. Ada dua kisah di sini. Satu, aku panik karena nganggap HPku hilang. Nah kan di sana tuh ga ada tempat buat shalat, jadinya kami ke bawah (ada tangga) ke daerah berumput dipinggir jalan buat ngelaksanain shalat. Nah aku panik karena pas mau cek arah kiblat di HPku taunya HPku ga ada, aku buru-buru ke atas lagi, tanya-tanya ke peserta yang ada di sana, bahkan ke dosen yang duduk ditempatku semula, tapi ga ada. Eh taunya HPku ada di tas. Hehe. Kedua, nah kan kami shalatnya di pinggir jalan tuh, sambil duduk lagi. Nah pas lagi transisi shalat, shalat dzuhur ke ashar (waktu itu di jama), aku liat lagi ada orang yang berdiri kaya lagi ngasih tau yang lain kalau di sini lagi ada yang ibadah. Jadi, waktu itu tuh lagi ada semacam rombongan yang jalan lewat tangga di samping kami shalat, nah orang itu tuh semacam nyuruh supaya jangan berisik atau apalah gitu. Cuma ga tau juga itu orang mana, kayanya dari China kalau dari suaranya.

Setelah semuanya selesai, kami kembali ke hostel. Dan sebelum itu, pas lagi diperjalanan, kami ngelewatin suatu tempat yang di sana tuh sekelilingnya pemandangan-pemandangan kota tuh keliatan. Jadi dari situ kita bisa ngeliat Tokyo Skytree (Nanti diceritain sama aku, soalnya aku dan temanku ke sini), terus ada bangunan yang diatasnya ada bola raksasa, ada juga benda aneh raksasa (ga tau bentuk apa itu), bahkan ada kaya patung liberti yang bisa terlihat dari sana. Di sini banyak turis. Dan aku ketemu tiga anak SMP yang pake seragam hitam yang kaya di anime sekolahan, yang satu bawa tongsis, kayanya mereka lagi foto-foto deh, lucunya, imut-imut gitu keliatannya. Bajunya. Mungkin. Atau orangnya? Nah di sini tuh aku dan beberapa peserta lain lagi nunggu peserta yang lainnya lagi yang belum datang, jadi lumayan lama juga di sini. Berdiam sejenak menikmati udara malam di negara orang.

Setelah lengkap, kami menuju ke hostel. Di hostel sana, spesifiknya di tempat tidur, aku tidur.

---

Tokyo Institute of Technology

Foto bersama pesert IYIS 2018 di Tokyo Institute of Technology

Museum Miraikan

Gundam statue

Foto bareng peserta IYIS 2018 (foto lagi)