Hari esok pun tiba. Aku
terbangun dari tidurku. Melakukan aktivitas-aktivitas yang biasa dilakukan
sehari-hari, kemudian ke lantai atas, ke ruangan dekat pintu masuk tempat
berkumpul, di sana aku melihat meja dan kursi yang panjang, serta orang-orang
yang sedang berkumpul untuk sekedar berbincang-bincang ataupun sarapan bersama.
Kami sarapan bento (Selama program ini kebanyakan makannya tuh bento, kecuali
di beberapa tempat ada makan di tempat makannya yang tentunya bukan bento
makanannya). Oh iya, jadi di sana tuh kalau mau minum air minum yang segar
perlu beli, aku hampir selalu beli air mineral botol yang desainnya mirip Ades,
hijau muda itunya tuh, cuma aku ga tau tulisan di botol itu tuh apa, pokonya
itu air segar dan menyegarkan laksana udara pegunungan pagi hari yang sejuk
menyejukkan. Mungkin. Cuma harganya lumayan mahal sih, sekitar 80-100 yen,
tergantung lokasi belinya, kalau di vending
machine harganya sekitar 100 yen, tapi kalau di swalayan sekitar 80 yen, kalau
dirupiahin ya sekitar sepulu atau belasan ribu rupiah. Tapi kalau ga beli pun
ga apa-apa sih, air kerannya bisa diminum ko, aku juga minum itu beberapa kali,
air keran hostel, lumayan buat ngehemat air dibotol yang aku beli, cuma ya tingkat
kesegarannya beda, itu aja.
Habis beres makan kami bareng-bareng
pergi ke Tokyo International Exchange Center
di Koto, Tokyo, buat konferensi internasional sekaligus presentasi
esai. Kenapa ke Tokyo International Exchange Center? Aku juga ga tau,
panitianya yang nentuin, maaf ya. Ok, kembali ke topik, kami ke lokasinya naik
kereta lagi, dan seperti biasa perlu jalan dulu buat nyampe di stasiun. Oh iya,
sebelum berangkat kan itu ada waktu kosong yah, buat nunggu semua peserta siap.
Aku sama beberapa peserta lain nunggu di depan hostel. Sambil berdiri dipinggir
jalan aku ngamatin lingkungan sekitar, aku ngelihat orang-orang Jepang pada jalan
kaki ngelintasin jalan itu, kayanya mereka mau pergi ke tempat kerja. Dan tau
ga, ada suatu pola yang cukup menarik loh yang aku liat dari hari ke hari pas
ngamat manusia-manusia Jepang yang lalu lalang. Rata-rata mereka jalan ke arah
yang sama. Maksudnya kalau di depan kita ada jalan horizontal, bayangin aja
penggaris di lantai yang angka 0 nya di kiri dan 30 cm nya di kanan, mereka
cenderung jalan dari kanan kita ke kiri, kaya baca tulisan Arab gitulah. Dan
itu tuh hampir tiap pagi aku ngelihat pola kaya gitu. Mungkin letak
peradabannya ada di sebelah kiri sana kali ya. Entahlah. Mari sekali lagi
kembali ke topik hehe. Setelah semuanya berkumpul kami pun berangkat. Dan
setelah waktunya tiba kami pun tiba. Tiba di Gedung yang kita tuju, Tokyo
apalah Panjang Namanya liat aja di atas.
Mau cerita, pas aku sama
rombongan lagi di kereta, jadi kereta yang kami naiki ini letaknya tuh di atas
jalan. Bukan kaya mobil diatas jalan ya, tapi beberapa meter di atas jalan yang
ada mobilnya. Beda sama kereta yang pas dari Stasiun Narita (Narita station) ke Stasiun Bandara
Internasional Narita (Narita Int. Airport
station) yang letaknya di bawah jalan, maksud bawah jalan konsepnya sama
kaya di atas. Dan karena keretanya ada di atas dan juga karena ini di pagi
hari, makanya aku bisa liat pemandangan kota Tokyo luar biasa. Aku ngerekam
beberapa tempat pas lagi naik kereta, ya keliatan kaya pemandangan kota
besarlah, banyak gedung-gedung tinggi sama infrastruktur yang besar-besar. Dan
yang lebih hebatnya lagi, aku bisa ngelihat pemandangan kota yang dulu aku cuma
liat di HPku. Jadi dulu aku pernah nyari gambar-gambar kota di Jepang, terus
aku simpan di HP dan yang keren yang aku jadikan wallpaper HP sama pernah aku jadiin foto profil LINE aku. Eh siapa
sangka, taunya aku bisa liat tuh foto di dunia nyata, senangnya... Cuma sayangnya
aku ga sempet ngefoto ataupun ngerekam yang itu. Nah dari situ semangatku buat
liat wujud nyata dari foto-foto yang ada di HPku meningkat (aku nyimpen
beberapa foto dari beberapa daerah di Tokyo kaya Odaiba, Shibuya, Shinjuku,
Akihabara, dsb. Beberapa berhasil aku lihat secara langsung. Untungnya yang ini
bisa aku foto Oh senangnya).
Kereta pun tiba di stasiun
yang ada deket lokasi yang dituju. Kami jalan ga begitu lama ke sana sampai
suatu saat kami pun akhirnya tiba di sana. Kami masuk ke gedung itu yang cukup
besar ukurannya. Di sana ada banyak bendera dari berbagai negara yang berjajar ngebentuk
barisan. Bahkan ada bendera Indonesia juga di sana. Setelah masuk kami pergi ke
lantai atas entah lantai berapa. Karena dindingnya terbuat dari kaca, kami bisa
liat pemandangan kota dari sana. Lumayan indah. Aku liat ada bangunan yang
diatasnya ada kaya bola raksasa, terus aku juga ngeliat ada semacam korsel
besar yang keliatan dari gedung itu. Bahkan langit pun terlihat olehku.
Warnanya biru. Ternyata sama kaya warna langit di negeriku, Indonesia. Ko bisa?
Sambil nunggu acaranya dimulai aku kenalan lagi sama beberapa orang yang
statusnya sama kaya aku, peserta IYIS. Aku kenalan sama peserta dari UB, IPB,
dan univ mana lagi ya, lupa duh. Dan bukan cuma sama anak S1, ada anak S2nya
juga loh bahkan lumayan banyak. Dan ternyata anak SMA pun ada, entah berapa
orang yang ini, yang aku tau cuma seorang, wih mantap lah.
Dan pas waktunya tiba, konferensi
internasionalnya pun di mulai. Ada 3 pembicara yang jadi pembicara dan bicara
di sana,
1.
Riela Provi
Driandra (Associate Professor, Waseda University). Ngebahas Sustainable Cities and Communities.
2.
Ryuji
Yamazaki-Skov / Yamazaki (School of Social Sciences Waseda University). Ngebahas
Social Design for Sustainable Care
System.
3.
Juri Minami
(Education Planner ISI Japanese Language). Ngebahas Create Your Global Dreams with ISI.
Pembicara pertama ngejelasin
tentang inovasi. Dan ingat ga kalau dulu pernah sempat booming video “this is a pen,
this is an apple, uh, apple pen” ... yang dari Jepang itu loh. Nah kami ngepraktikin
itu juga pas saat itu, ternyata itu juga merupakan proses untuk berinovasi, ya
sesuai salah satu metode buat berinovasi yaitu ngegabungin dua hal jadi satu,
kaya gabungin pulpen sama apel, hasilnya pulpen apel. Terus pembicara kedua bahas
tentang social science, tapi lebih ke
sudut pandang teknologinya, waktu itu tuh yang dibahas teknologi robot yang berpengaruh
ke masyarakat. Jadi kata pembicara tuh saat ini kita teh udah masuk ke suatu
masa dimana manusia hidup bareng robot (itu yang aku tangkep). Dan yang paling
keren tuh yang pas ngejelasin tentang Telepresence
Robots kaya telenoid dan geminoid. (Aku saranin Googling atau
tonton videonya dari Youtube, niscaya kamu akan melihat benda aneh yang mungkin
lucu atau mungkin menyeramkan hehe). Dan yang ketiga itu basah tentang eh sorry typo, bahas tentang lembaga Bahasa
yang juga sekaligus ngarahin buat masuk ke perguruan tinggi. Kurang begitu berkesan
sih yang ini, paling ada beberapa perkataan pembicaranya kaya di Jepang tuh
orang mudanya dikit, jadinya mereka
welcoming gitu ke orang asing buat belajar dan kerja di sana. Nah itu
lumayan memotivasi aku buat kuliah atau kerja di sini. Sama paling satu lagi,
ada grafik statistik mahsiswa asing yang kuliah di univ apa ya lupa, intinya
ngasih insight ke aku kalau dari
Indonesia tuh lumayan banyak yang kuliah di univ itu. Paling itu sih yang
berkesannya, sisanya lebih kaya promosi Lembaga itu.
Ok, konferensi pun berakhir. Selanjutnya
bagian presentasi. Tapi sebelum itu terjadi, kami makan siang dan shalat dulu.
Oh iya, di Jepang tuh lumayan susah buat nemuin masjid, apalagi mushola. Atau
mushola apalagi masjid ya? Ga tau deh hehe. Soalnya di tempat-tempat umum
jarang ada ruangan yang khusus untuk ibadah, jadinya kami sholat di mana aja
yang bisa dipake buat shalat. Dan di Gedung ini kami shalat di tempat yang
terbuka, ya ga apa-apalah yang penting bisa shalat. Dan acara yang
ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba, ga ditunggu-tunggu juga sih sebenarnya. Jadi
pesertanya tuh dibagi dua, ada yang presentasi di ruangan X dan ada yang di
ruangan Y di sebelahnya, X dan Y cuma variabel yang aku buat aja ya bukan nama
asli ataupun nama inisial. Aku dan temanku presentasi di ruangan yang sebelahnya.
Yang mana hayo X atau Y? X sebelah Y, tapi Y juga sebelah X, dua-duanya bener
kan? Eh, kenapa kami dapat urutan pertama ya? Wah wah wah
Presentasi esai pun dimulai,
kami presentasi berdua. Temanku ngepresentasiin latar belakangnya dan aku presentasiin
bagian penjelasan inovasinya. Untungnya presentasinya berjalan lancar meski
persiapannya dadakan banget kaya you know
lah, you = circle (Kami baru latihan
pas malam hari kemarin). Kami di komentari. Komentarnya kami kurang spesifik.
Ya memang sih pas presentasi memang kurang spesifik penjelasannya, tapi kami ngerasa
udah lumayan spesifik kalau dari esai yang kami buat, ya mungkin karena aku yang
kurang jago presentasi dengan cepat, tepat, dan akurat. Ya karena itu. Tadinya
aku mau bilang gini loh, waktunya yang singkat banget dan materi yang lumayan
banyak jadinya ada beberapa bagian yang sengaja aku lewatin atau ringkas sampai
terlalu ringkas, sehingga yang tersampaikan ga maksimal. Tapi karena aku udah
belajar untuk ga nyalahin lingkungan (orang lain, tempat, keadaan, atau apa
pun) ya jadinya aku ga nulis itu. Eh malah aku tulis ya, yaudahlah. Pokonya ada
suatu tantangan tersendiri lah bagi kami, khususnya bagi aku sendiri yang
bagian ngejelasin inovasi dari esai kami. Mau tau esainya tentang apa? Kami bikin
inovasi tentang energi terbarukan. Ya meskipun sebenarnya ga begitu berhubungan
juga sih sama jurusan kami, baik aku ataupun temanku. Memang di jurusanku ada
bahasan tentang energi terbarukan, cuma yang kami bahas tuh lebih ke bidang
robotika dan informatikanya. Kami ngegunain robot dan Artificial Intelligence sama Machine
Learning pada energi terbarukan. Dan itulah yang jadi inovasinya, bukan
energinya yang kami pelajari, kalau aku sih lebih tepatnya akan soalnya
meskipun ada mata kuliahnya tentang energi terbarukan aku belum ambil. Ya kali
bahas yang ginian, bahas Elektro sama Informatika. Apalagi ngebahasnya
dihadapan peserta yang ternyata banyak loh diantara mereka yang mahasiswa
informatika/ilmu komputer (CS) bahkan dosen-dosen yang mengantarkan delegasi
dari Kamboja pun dosen ilmu komputer/CS. Lucu ga sih? kaya ikan ngejelasin
kucing cara ngomong ‘meow’ dengan tepat. Kaya orang awam ngejelasin sesuatu ke
ahlinya hehe.
Masih di bagian presentasi
esai, aku liat bahwa peserta lain tuh keren-keren. Ada yang rumit kaya dia tuh ngepresentasiin
TAnya, ada juga yang sampai udah di uji coba (ditampilin foto-fotonya), bahkan
ada yang udah sampai bikin produknya. Keren! Tapi, ada juga sih yang terlihat
masih perlu diperbaiki, bahkan yang bikin aku ngerasa iba tuh pas liat peserta
yang nampilin ppt yang dikit banget, entah apa penyebabnya, mungkin ga ke upload
ke email atau emailnya ga kekirim atau apa. Terus ada lagi, ada peserta lain
yang dikomentar cukup ya apa ya istilahnya, jleb gitu ya ke hati. Tapi untungnya
dia terlihat tegar.
Dan suatu ketika, presentasi
esainya pun berakhir (tidak berlangsung selamanya). Setelah itu kami keluar
gendung dan berfoto bersama. Foto bersama di kala senja. Padahal udah maghrib
sih kayanya, soalnya udah mulai gelap. Aku bilang senja biar ada efek sastranya
aja hehe.
Setelah itu selesai, kami
seperti biasa jalan kaki ke setasiun buat naik kereta. Kali ini kami ke Roppongi,
ke tempat makan yang bernama Pan-Asian Restaurant GREEN ASIA buat makan malam
sekaligus pembacaan peraih awards dan
pemberian hadiah. Lokasi restorannya itu ada di mall. Mallnya besar dan megah,
beda sama mall yang ada di daerahku hehe. Bahkan di halamannya ada patung
laba-laba raksasa setinggi kira-kira 2 atau 3 meter. Terus aku foto-foto di
sana. (Ga cuma di sana sih, hampir di tiap lokasi yang dikunjungi sih
sebenarnya). Dan ajaibnya kami pun pada tiba-tiba tiba di restoran tersebut.
Hiperbola aja sih ini, kenyataannya kaya yang ditemukan para psikolog setelah
neliti hubungan antara bakat, usaha, dan kesuksesan. Bahwa kesuksesan (dalam
bidang olahraga, seni, atau apapun) itu bukan semata-mata karena bakat, tapi
juga karena usaha yang merupakan bagian dari proses menuju kesuksesan tersebut.
Intinya, ada proses yang kami lalui untuk tiba di tempat itu. Ko malah jadi
bahas ini ya? Wkwkw.
Setelah tiba, kami nunggu.
Setelah makanan tiba, kami makan. Namun, entah kenapa makanan yang dihidangin
tuh nasi + telur + sate. Indonesia banget gitu. Padahal pengennya menu Jepang
gitulah (selain bento). Dan untungnya bumbu satenya beda, rasanya enak dan lezat.
Jadi ya ga apa-apa lah menu Indonesia juga. Nah sehabis makan, langsung deh pengumuman.
Hasilnya? Sayang aku dan temanku ga menang. Sebagian besar awardsnya diperoleh peserta dari luar negeri, ya ga apa-apa lah.
Panitianya aja ga menang. Masa aku menang. Dan kerennya tuh peserta yang duduk
di sampingku, asal dari India, dapet awards.
Bahkan sampai dapet dua awards. Wah
keren ga tuh? Jadinya aku kasih ucapan selamatnya dua kali ke dia, ga apa-apa
lah ya. Oh iya, dari tempat makan ini tuh kelihatan suatu menara yang disebut
Tokyo Tower, tapi ukurannya kecil banget karena jaraknya jauh. Dan karena
tujuan selanjutnya itu ke sana, ke Tokyo Tower. Jadinya kami berangkat deh ke
sana. Kami jalan kaki ke Tokyo Tower.
Kali ini benar-benar jalan
kaki, ga ada naik kereta, apalagi pesawat ruang angkasa. Kami jalan lumayan
lama. Tapi ga selama-lamanya, akhirnya sampai juga ko di sana. Aku bersama
manusia-manusia imigran sementara ini berada dibawah menara raksasa Tokyo ini.
Padahal cuma tiang listrik raksasa, imajinasi aku sih gitu hehe. Tapi
realitanya ga gitu, Tokyo Tower itu bagus dan indah, tapi ga seindah kamu ko,
tenang aja. Cuma ya sayangnya kami cuma di luar dan dibawah aja, ga masuk ke
sana dan naik ke atas. Cuma foto-foto. (Tapi tenang aja, aku dan temanku naik
ke Tokyo Tower berdua ketika program IYIS sudah berakhir, nanti ya ceritanya).
Eh tau ga, aku nulis nama-nama di kertas loh yang aku foto dengan lata belakang
Menara itu, salah satunya jurusan kuliahku, tadinya mau aku upload ke medsos
aku ga upload, ga tau kenapa ya.
Dan setelah itu selesai, kami pun
kembali ke hostel dan tidur di sana. Kali ini aku lupa apakah kami jalan kaki atau
naik kereta. Tapi yang paling logis sih naik kereta karena jauh jaraknya. Tapi
ga penting lah naik kereta atau jalan kaki, yang penting sih para pembaca tau
kalau aku tidur. Oyasuminasai...





