Kore wa Nihon desu (3)

Hari esok pun tiba. Aku terbangun dari tidurku. Melakukan aktivitas-aktivitas yang biasa dilakukan sehari-hari, kemudian ke lantai atas, ke ruangan dekat pintu masuk tempat berkumpul, di sana aku melihat meja dan kursi yang panjang, serta orang-orang yang sedang berkumpul untuk sekedar berbincang-bincang ataupun sarapan bersama. Kami sarapan bento (Selama program ini kebanyakan makannya tuh bento, kecuali di beberapa tempat ada makan di tempat makannya yang tentunya bukan bento makanannya). Oh iya, jadi di sana tuh kalau mau minum air minum yang segar perlu beli, aku hampir selalu beli air mineral botol yang desainnya mirip Ades, hijau muda itunya tuh, cuma aku ga tau tulisan di botol itu tuh apa, pokonya itu air segar dan menyegarkan laksana udara pegunungan pagi hari yang sejuk menyejukkan. Mungkin. Cuma harganya lumayan mahal sih, sekitar 80-100 yen, tergantung lokasi belinya, kalau di vending machine harganya sekitar 100 yen, tapi kalau di swalayan sekitar 80 yen, kalau dirupiahin ya sekitar sepulu atau belasan ribu rupiah. Tapi kalau ga beli pun ga apa-apa sih, air kerannya bisa diminum ko, aku juga minum itu beberapa kali, air keran hostel, lumayan buat ngehemat air dibotol yang aku beli, cuma ya tingkat kesegarannya beda, itu aja.

Habis beres makan kami bareng-bareng pergi ke Tokyo International Exchange Center di Koto, Tokyo, buat konferensi internasional sekaligus presentasi esai. Kenapa ke Tokyo International Exchange Center? Aku juga ga tau, panitianya yang nentuin, maaf ya. Ok, kembali ke topik, kami ke lokasinya naik kereta lagi, dan seperti biasa perlu jalan dulu buat nyampe di stasiun. Oh iya, sebelum berangkat kan itu ada waktu kosong yah, buat nunggu semua peserta siap. Aku sama beberapa peserta lain nunggu di depan hostel. Sambil berdiri dipinggir jalan aku ngamatin lingkungan sekitar, aku ngelihat orang-orang Jepang pada jalan kaki ngelintasin jalan itu, kayanya mereka mau pergi ke tempat kerja. Dan tau ga, ada suatu pola yang cukup menarik loh yang aku liat dari hari ke hari pas ngamat manusia-manusia Jepang yang lalu lalang. Rata-rata mereka jalan ke arah yang sama. Maksudnya kalau di depan kita ada jalan horizontal, bayangin aja penggaris di lantai yang angka 0 nya di kiri dan 30 cm nya di kanan, mereka cenderung jalan dari kanan kita ke kiri, kaya baca tulisan Arab gitulah. Dan itu tuh hampir tiap pagi aku ngelihat pola kaya gitu. Mungkin letak peradabannya ada di sebelah kiri sana kali ya. Entahlah. Mari sekali lagi kembali ke topik hehe. Setelah semuanya berkumpul kami pun berangkat. Dan setelah waktunya tiba kami pun tiba. Tiba di Gedung yang kita tuju, Tokyo apalah Panjang Namanya liat aja di atas.
Mau cerita, pas aku sama rombongan lagi di kereta, jadi kereta yang kami naiki ini letaknya tuh di atas jalan. Bukan kaya mobil diatas jalan ya, tapi beberapa meter di atas jalan yang ada mobilnya. Beda sama kereta yang pas dari Stasiun Narita (Narita station) ke Stasiun Bandara Internasional Narita (Narita Int. Airport station) yang letaknya di bawah jalan, maksud bawah jalan konsepnya sama kaya di atas. Dan karena keretanya ada di atas dan juga karena ini di pagi hari, makanya aku bisa liat pemandangan kota Tokyo luar biasa. Aku ngerekam beberapa tempat pas lagi naik kereta, ya keliatan kaya pemandangan kota besarlah, banyak gedung-gedung tinggi sama infrastruktur yang besar-besar. Dan yang lebih hebatnya lagi, aku bisa ngelihat pemandangan kota yang dulu aku cuma liat di HPku. Jadi dulu aku pernah nyari gambar-gambar kota di Jepang, terus aku simpan di HP dan yang keren yang aku jadikan wallpaper HP sama pernah aku jadiin foto profil LINE aku. Eh siapa sangka, taunya aku bisa liat tuh foto di dunia nyata, senangnya... Cuma sayangnya aku ga sempet ngefoto ataupun ngerekam yang itu. Nah dari situ semangatku buat liat wujud nyata dari foto-foto yang ada di HPku meningkat (aku nyimpen beberapa foto dari beberapa daerah di Tokyo kaya Odaiba, Shibuya, Shinjuku, Akihabara, dsb. Beberapa berhasil aku lihat secara langsung. Untungnya yang ini bisa aku foto Oh senangnya).

Kereta pun tiba di stasiun yang ada deket lokasi yang dituju. Kami jalan ga begitu lama ke sana sampai suatu saat kami pun akhirnya tiba di sana. Kami masuk ke gedung itu yang cukup besar ukurannya. Di sana ada banyak bendera dari berbagai negara yang berjajar ngebentuk barisan. Bahkan ada bendera Indonesia juga di sana. Setelah masuk kami pergi ke lantai atas entah lantai berapa. Karena dindingnya terbuat dari kaca, kami bisa liat pemandangan kota dari sana. Lumayan indah. Aku liat ada bangunan yang diatasnya ada kaya bola raksasa, terus aku juga ngeliat ada semacam korsel besar yang keliatan dari gedung itu. Bahkan langit pun terlihat olehku. Warnanya biru. Ternyata sama kaya warna langit di negeriku, Indonesia. Ko bisa? Sambil nunggu acaranya dimulai aku kenalan lagi sama beberapa orang yang statusnya sama kaya aku, peserta IYIS. Aku kenalan sama peserta dari UB, IPB, dan univ mana lagi ya, lupa duh. Dan bukan cuma sama anak S1, ada anak S2nya juga loh bahkan lumayan banyak. Dan ternyata anak SMA pun ada, entah berapa orang yang ini, yang aku tau cuma seorang, wih mantap lah.

Dan pas waktunya tiba, konferensi internasionalnya pun di mulai. Ada 3 pembicara yang jadi pembicara dan bicara di sana,
1.     Riela Provi Driandra (Associate Professor, Waseda University). Ngebahas Sustainable Cities and Communities.
2.     Ryuji Yamazaki-Skov / Yamazaki (School of Social Sciences Waseda University). Ngebahas Social Design for Sustainable Care System.
3.     Juri Minami (Education Planner ISI Japanese Language). Ngebahas Create Your Global Dreams with ISI.
Pembicara pertama ngejelasin tentang inovasi. Dan ingat ga kalau dulu pernah sempat booming video “this is a pen, this is an apple, uh, apple pen” ... yang dari Jepang itu loh. Nah kami ngepraktikin itu juga pas saat itu, ternyata itu juga merupakan proses untuk berinovasi, ya sesuai salah satu metode buat berinovasi yaitu ngegabungin dua hal jadi satu, kaya gabungin pulpen sama apel, hasilnya pulpen apel. Terus pembicara kedua bahas tentang social science, tapi lebih ke sudut pandang teknologinya, waktu itu tuh yang dibahas teknologi robot yang berpengaruh ke masyarakat. Jadi kata pembicara tuh saat ini kita teh udah masuk ke suatu masa dimana manusia hidup bareng robot (itu yang aku tangkep). Dan yang paling keren tuh yang pas ngejelasin tentang Telepresence Robots kaya telenoid dan geminoid. (Aku saranin Googling atau tonton videonya dari Youtube, niscaya kamu akan melihat benda aneh yang mungkin lucu atau mungkin menyeramkan hehe). Dan yang ketiga itu basah tentang eh sorry typo, bahas tentang lembaga Bahasa yang juga sekaligus ngarahin buat masuk ke perguruan tinggi. Kurang begitu berkesan sih yang ini, paling ada beberapa perkataan pembicaranya kaya di Jepang tuh orang mudanya dikit, jadinya mereka welcoming gitu ke orang asing buat belajar dan kerja di sana. Nah itu lumayan memotivasi aku buat kuliah atau kerja di sini. Sama paling satu lagi, ada grafik statistik mahsiswa asing yang kuliah di univ apa ya lupa, intinya ngasih insight ke aku kalau dari Indonesia tuh lumayan banyak yang kuliah di univ itu. Paling itu sih yang berkesannya, sisanya lebih kaya promosi Lembaga itu.

Ok, konferensi pun berakhir. Selanjutnya bagian presentasi. Tapi sebelum itu terjadi, kami makan siang dan shalat dulu. Oh iya, di Jepang tuh lumayan susah buat nemuin masjid, apalagi mushola. Atau mushola apalagi masjid ya? Ga tau deh hehe. Soalnya di tempat-tempat umum jarang ada ruangan yang khusus untuk ibadah, jadinya kami sholat di mana aja yang bisa dipake buat shalat. Dan di Gedung ini kami shalat di tempat yang terbuka, ya ga apa-apalah yang penting bisa shalat. Dan acara yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba, ga ditunggu-tunggu juga sih sebenarnya. Jadi pesertanya tuh dibagi dua, ada yang presentasi di ruangan X dan ada yang di ruangan Y di sebelahnya, X dan Y cuma variabel yang aku buat aja ya bukan nama asli ataupun nama inisial. Aku dan temanku presentasi di ruangan yang sebelahnya. Yang mana hayo X atau Y? X sebelah Y, tapi Y juga sebelah X, dua-duanya bener kan? Eh, kenapa kami dapat urutan pertama ya? Wah wah wah

Presentasi esai pun dimulai, kami presentasi berdua. Temanku ngepresentasiin latar belakangnya dan aku presentasiin bagian penjelasan inovasinya. Untungnya presentasinya berjalan lancar meski persiapannya dadakan banget kaya you know lah, you = circle (Kami baru latihan pas malam hari kemarin). Kami di komentari. Komentarnya kami kurang spesifik. Ya memang sih pas presentasi memang kurang spesifik penjelasannya, tapi kami ngerasa udah lumayan spesifik kalau dari esai yang kami buat, ya mungkin karena aku yang kurang jago presentasi dengan cepat, tepat, dan akurat. Ya karena itu. Tadinya aku mau bilang gini loh, waktunya yang singkat banget dan materi yang lumayan banyak jadinya ada beberapa bagian yang sengaja aku lewatin atau ringkas sampai terlalu ringkas, sehingga yang tersampaikan ga maksimal. Tapi karena aku udah belajar untuk ga nyalahin lingkungan (orang lain, tempat, keadaan, atau apa pun) ya jadinya aku ga nulis itu. Eh malah aku tulis ya, yaudahlah. Pokonya ada suatu tantangan tersendiri lah bagi kami, khususnya bagi aku sendiri yang bagian ngejelasin inovasi dari esai kami. Mau tau esainya tentang apa? Kami bikin inovasi tentang energi terbarukan. Ya meskipun sebenarnya ga begitu berhubungan juga sih sama jurusan kami, baik aku ataupun temanku. Memang di jurusanku ada bahasan tentang energi terbarukan, cuma yang kami bahas tuh lebih ke bidang robotika dan informatikanya. Kami ngegunain robot dan Artificial Intelligence sama Machine Learning pada energi terbarukan. Dan itulah yang jadi inovasinya, bukan energinya yang kami pelajari, kalau aku sih lebih tepatnya akan soalnya meskipun ada mata kuliahnya tentang energi terbarukan aku belum ambil. Ya kali bahas yang ginian, bahas Elektro sama Informatika. Apalagi ngebahasnya dihadapan peserta yang ternyata banyak loh diantara mereka yang mahasiswa informatika/ilmu komputer (CS) bahkan dosen-dosen yang mengantarkan delegasi dari Kamboja pun dosen ilmu komputer/CS. Lucu ga sih? kaya ikan ngejelasin kucing cara ngomong ‘meow’ dengan tepat. Kaya orang awam ngejelasin sesuatu ke ahlinya hehe.

Masih di bagian presentasi esai, aku liat bahwa peserta lain tuh keren-keren. Ada yang rumit kaya dia tuh ngepresentasiin TAnya, ada juga yang sampai udah di uji coba (ditampilin foto-fotonya), bahkan ada yang udah sampai bikin produknya. Keren! Tapi, ada juga sih yang terlihat masih perlu diperbaiki, bahkan yang bikin aku ngerasa iba tuh pas liat peserta yang nampilin ppt yang dikit banget, entah apa penyebabnya, mungkin ga ke upload ke email atau emailnya ga kekirim atau apa. Terus ada lagi, ada peserta lain yang dikomentar cukup ya apa ya istilahnya, jleb gitu ya ke hati. Tapi untungnya dia terlihat tegar.

Dan suatu ketika, presentasi esainya pun berakhir (tidak berlangsung selamanya). Setelah itu kami keluar gendung dan berfoto bersama. Foto bersama di kala senja. Padahal udah maghrib sih kayanya, soalnya udah mulai gelap. Aku bilang senja biar ada efek sastranya aja hehe.

Setelah itu selesai, kami seperti biasa jalan kaki ke setasiun buat naik kereta. Kali ini kami ke Roppongi, ke tempat makan yang bernama Pan-Asian Restaurant GREEN ASIA buat makan malam sekaligus pembacaan peraih awards dan pemberian hadiah. Lokasi restorannya itu ada di mall. Mallnya besar dan megah, beda sama mall yang ada di daerahku hehe. Bahkan di halamannya ada patung laba-laba raksasa setinggi kira-kira 2 atau 3 meter. Terus aku foto-foto di sana. (Ga cuma di sana sih, hampir di tiap lokasi yang dikunjungi sih sebenarnya). Dan ajaibnya kami pun pada tiba-tiba tiba di restoran tersebut. Hiperbola aja sih ini, kenyataannya kaya yang ditemukan para psikolog setelah neliti hubungan antara bakat, usaha, dan kesuksesan. Bahwa kesuksesan (dalam bidang olahraga, seni, atau apapun) itu bukan semata-mata karena bakat, tapi juga karena usaha yang merupakan bagian dari proses menuju kesuksesan tersebut. Intinya, ada proses yang kami lalui untuk tiba di tempat itu. Ko malah jadi bahas ini ya? Wkwkw.

Setelah tiba, kami nunggu. Setelah makanan tiba, kami makan. Namun, entah kenapa makanan yang dihidangin tuh nasi + telur + sate. Indonesia banget gitu. Padahal pengennya menu Jepang gitulah (selain bento). Dan untungnya bumbu satenya beda, rasanya enak dan lezat. Jadi ya ga apa-apa lah menu Indonesia juga. Nah sehabis makan, langsung deh pengumuman. Hasilnya? Sayang aku dan temanku ga menang. Sebagian besar awardsnya diperoleh peserta dari luar negeri, ya ga apa-apa lah. Panitianya aja ga menang. Masa aku menang. Dan kerennya tuh peserta yang duduk di sampingku, asal dari India, dapet awards. Bahkan sampai dapet dua awards. Wah keren ga tuh? Jadinya aku kasih ucapan selamatnya dua kali ke dia, ga apa-apa lah ya. Oh iya, dari tempat makan ini tuh kelihatan suatu menara yang disebut Tokyo Tower, tapi ukurannya kecil banget karena jaraknya jauh. Dan karena tujuan selanjutnya itu ke sana, ke Tokyo Tower. Jadinya kami berangkat deh ke sana. Kami jalan kaki ke Tokyo Tower.

Kali ini benar-benar jalan kaki, ga ada naik kereta, apalagi pesawat ruang angkasa. Kami jalan lumayan lama. Tapi ga selama-lamanya, akhirnya sampai juga ko di sana. Aku bersama manusia-manusia imigran sementara ini berada dibawah menara raksasa Tokyo ini. Padahal cuma tiang listrik raksasa, imajinasi aku sih gitu hehe. Tapi realitanya ga gitu, Tokyo Tower itu bagus dan indah, tapi ga seindah kamu ko, tenang aja. Cuma ya sayangnya kami cuma di luar dan dibawah aja, ga masuk ke sana dan naik ke atas. Cuma foto-foto. (Tapi tenang aja, aku dan temanku naik ke Tokyo Tower berdua ketika program IYIS sudah berakhir, nanti ya ceritanya). Eh tau ga, aku nulis nama-nama di kertas loh yang aku foto dengan lata belakang Menara itu, salah satunya jurusan kuliahku, tadinya mau aku upload ke medsos aku ga upload, ga tau kenapa ya.

Dan setelah itu selesai, kami pun kembali ke hostel dan tidur di sana. Kali ini aku lupa apakah kami jalan kaki atau naik kereta. Tapi yang paling logis sih naik kereta karena jauh jaraknya. Tapi ga penting lah naik kereta atau jalan kaki, yang penting sih para pembaca tau kalau aku tidur. Oyasuminasai...

---
Di elevator pas mau ke tempat konferensi

Foto bersama depan gedung tempat konferensi dan presentasi

Pembicara pertama

Pembicara kedua

Pembicara ketiga

Tokyo Tower dari Jauh