Aku ini Siapa?


                Di tengah gurun pasir di malam hari, udara terasa begitu dingin, aku merasa kesepian. Namun, beginilah aku, aku yang tidak tahu apa diriku ini, memang seharusnya begini. Aku terus berjalan sepanjang gurun ini, mencari jalan keluar dari penderitaan yang aku alami selama ini, meskipun banyak juga yang menyebut aku orang hebat tidak banyak juga yang menyebut aku orang yang jahat. Aku merasa tersinggung, aku merasa tertuduh.
Sebelum aku memasuki gurun yang seperti samudera yang begitu luas ini, aku tinggal disebuah desa yang ramai penduduknya. Karena aku tidak punya apa-apa, tidak punya harta ataupun kerabat maka aku selalu tidur di mana saja, di pinggir jalan, di depan sebuah toko yang tutup, bahkan diantara gang-gang kecil di sana. Namun, taka pa, ini tdak seberapa dengan apa yang sering aku dengar, yang mengiris hatiku, yang membuatku ingin menangis laksana orang yang berpisah dengan dengan orang yang disukainya atau seorang bayi yang menangis entah mengapa.
                Dua hari yang lalu, ketika aku berjalan dipagi hari, mencari sesuap nasi, tentu saja nasi sisa yang mereka buang, disana aku melihat sekumpulan orang yang berdiri melingkar. Disana ada seorang bapak penjaga toko yang sedang teriak-teriak sambal marah-marah. Ia terus menerus berkata “Siapa pencuri barang daganganku?”,”Siapa pencurinya?”. Taka da seorang pun diantara mereka yang mengaku. Aku tidak senang mendengar hal seperti itu dipagi hari yang semestinya damai ini. Aku yakin bahwa bukan aku pencurinya, aku baru bangun tidur lima menit yang lalu dan berjalan ke arah sini, namun aku hanya tidak senang saja mendengar amarah orang itu sehingga aku memutuskan untuk pergi ke tempat lain.
                Ketika sang mentari memanggang kulit para pedangan yang tengah gelisah, terlihat enam atau tujuh pedangan yang sedang memperbaiki toko mereka yang rusak entah mengapa, mereka memperbaiki dengan ekspresi yang tidak bersahabat. Aku juga mendengar bahwa beberapa diantara mereka berkata “Siapa orang gila yang mengubrak-abrik toko-toko kita?”, “Siapa orang nya?”. Seperti tadi pagi, aku pun pergi dari tempat yang tidak tentram itu.
                Ketika kegelapan memakan cahaya, digantikan cahaya lampu remang-remang khas desa. Seperti biasa aku sedang mencari makanan untuk ku makan, sekaligus mencari tempat untuk tidur yang sedikit layak. Namun, aku melihat suatu rumah yang sedang dikerumuni banyak orang. Akupun menghampirinya dan mencoba mengetahui apa yang terjadi. Tiba-tiba aku mendengar “Siapa pembunuhnya?”, “Siapa orang yang tega melakukan semua ini?”, dan seterusnya. Aku pun berlari dengan perasaan setengah takut. AKu tahu bukan aku pelakunya, aku tidak melakukan apa-apa. Mana mungkin aku bisa melakukannya. Aku hanyalah orang yang terasing, orang yang tidak punya apa-apa, tentunya taka da seorang pun yang mau melihat aku, aku merasa bahwa aku ini tidak ada, tidak berbentuk, tidak berwujud. Sedih rasanya.
                Ketika aku membuka mata, sang fajar telah menyambut kepulangan diriku dari dunia mimpi. Aku duduk sejenak merenung. “Sekarang apa lagi?”, “Kemana aku akan pergi?”,”Apa yang harus aku lakukan?”. Beberapa menit kemudian, aku teringat kejadian-kejadian kemarin. Aku merasa tidak enak saja mengingatnya. Aku memutuskan untuk pergi dari desa ini.
                Setelah seharian aku tersesat berputar-putar didesa, akhirnya aku menemukan jalan keluar. Mungkin sebuah pintu masuk ke jalan baru, suatu gurun yang entah berujung atau tidak. Karena sudah malam, aku tidur terlebih dahulu.
Dipagi hari yang jauh lebih dingin dari desa suhunya, aku mulai perjalanan, memasuki daerah keputus-asaan, suatu gurun yang aku harap dapat menghilangkan semua penderitaan.
                Satu minggu kemudian, aku tiba disebuah desa yang jauh lebih maju, desa yang lebih indah, dan lebih luas. Orang-orang disini sangat berbeda dengan orang-orang didesa seberang gurun. Disini, aku merasa bahwa hatiku semakin terobati. Aku bertemu seorang anak yang sedang membaca buku disamping ibunya, ia berkata pada ibunya “Bu, siapa orang hebat ini?”,”Aku ingin jadi sepertinya, ia hebat sekali!” dengan senyum penuh kegembiraan diwajah anak itu, aku pun secara tak sadar ikut tersenyum. Aku juga melihat bapak-napak yang sedang membaca koran, mereka berbincang-boncang mengenai seseorang yang disorot berita, “Siapa pemenangnya?”, “Orang ini”, “Waah hebat sekali dia..”, itulah kata-kata yang aku dengar dari mereka.
                Hari berganti-hari, terus begitu berulang kali, aku merasa bahwa disini aku sudah terobati, meskipun terkadan juga terlukao, namun aku merasa lebih baik saja disini, diantara orang-orang yang lebih beradab, lebih berpengetahuan, dan lebih maju. Namun, seperti sebe;um-sebelumnya, dibandingkan mereka, siapa aku?