Semua berawal dari mimpi




“Apa ini?”
Telingaku berdengung begitu kencang, pandanganku kabur, nafasku sesak, aku terbatuk beberapa kali.
Di pagi yang semestinya cerah dan penuh semangat ini, entah mengapa aku mendengar suara tembakan sniper, machine gun, ledakan granat, hingga dentuman peluru yang  ditembakkan tank-tank yang membumi ratakan bangunan-bangunan kota.
"Aduuh"
Aku merasakan sakit di sekitar tubuhku
"Darah?"
Aku melihat tubuhku berlumuran darah, lalu aku mencoba untuk bangun dari puing-puing atap rumah dengan susah payah.
Dari lantai dua ini, dengan segera aku menuju tangga untuk turun ke bawah melarikan diri keluar rumah, aku khawatir rumah ini tak lama lagi akan roboh. Tapi, ketika seperempat tangga baru kulewati, suara dobrakan pintu yang kasar membuatku berbalik arah dengan tergesa-gesa. Kemudian aku masuk lemari bajuku yang cukup besar untuk bersembunyi.
Kudengar suara nafasku yang tengah terengah-engah, diteruskan suara langkah demi langkah yang mencengkram.
Aku pun bersandar tak berdaya pada dinding lemari, tubuhku bergetar, jantungku serasa berhenti berderak, bernafas pun terasa sulit tuk ku lakukan. Beberapa detik kemudian aku tak ingat apa-apa lagi.
Yang aku lihat, dengar, dan rasakan saat ini hanyalah kegelapan, keheningan, dan kesunyian.
Ketika aku membuka mata, aku berbicara dalam hati sambal menarik nafas dalam-dalam.
"Oh... Jadi aku masih hidup ternyata"
"Aduuh"
Aku merasakan sakit. Ternyata rasa sakit di tubuhku ini masih ku rasakan, hanya saja sudah sedikit berkurang dan darah yang menempel di bajuku pun telah kering.
"Dimana ini?"
Seketika aku bingung dengan tempat yang asing bagiku, sebuah ruangan gelap seperti ruang operasi.
Beberapa saat kemudian aku menyadari kalau aku tengah terbaring disebuah kasur yang sama sekali tidak empuk menghadap ke sebuah lampu redup yang berada tepat di atasku.
Saat itu aku ingin sekali memberontak untuk melepaskan lilitan logam yang melilit tubuhku ini. Namun, tubuh yang tak berdaya ini tak kuasa berbuat apa-apa, hanya bisa merasakan seseorang datang mendekatiku.
Beberapa menit kemudian dengan perlahan kepalaku terjatuh menghadap ke sebelah kiri lalu secara perlahan kelopak mataku menjadi tak bertenaga dan akhirnya perlahan-lahan pula aku menutup mata. Sebelum mataku tertutup secara sempurna, sekilas aku melihat sebuah tulisan yang tertempel di dinding ruangan, "100 bal ,tcejorp erutuf"
Setelah entah berapa lama kemudian. Saat aku tersadar, aku tidak bisa melihat apapun. Tak lama aku menyadari saat ini aku sedang berada di dalam suatu ruangan yang sangat sempit, hanya muat satu orang, tidak salah lagi ini adalah lemari bukan ruangan.
Aku membuka pintu lemari dengan segera dan ternyata sungguh mengherankan. Saat aku keluar, aku berada di sebuah ruang santai di suatu apartemen 30 lantai, dari sana terlihat bangunan-bangunan pencakar langit yang sangat futuristik. Banyak sekali menara-menara yang terbuat dari logam dan kaca, bangunan-bangunan aneh yang tidak pernah ada sebelumnya. "Sky City" itulah tulisan yang tertera disebuah hologram biru raksasa diantara tiga menara biru yang sangat tinggi di tengah-tengah kota, aku berpikir bahwa ini bukan zaman ku, ini pasti berpuluh-puluh tahun atau mungkin ratusan tahun kemudian dari zamanku.
Tunggu dulu, jangan-jangan lemari itu adalah suatu portal ruang waktu atau semacam mesin waktu. Aku menoreh kebelakang memandang lemari yang semula sebuah kayu tua berwarna coklat berbentuk lemari namun sekarang sebuah lemari canggih yang terbuat dari logam dengan beberapa perangkat teknologi yang hi-tech seperti sensor, auto control, dan masih banyak lagi.
Aku pun menghampiri lemari tersebut karena penasaran, "Apa benar ini sebuah portal atau mesin waktu?" Kemudian aku membuka lemari tersebut namun ternyata kosong taka da apa-apa sama sekali.
"Tidak ada apa-apa ternyata" pikirku.
Aku pun semakin penasaran, kuselidiki secara detail lemari itu, tapi tidak ada yang aneh, hanya bahan dan penampilan saja yang berubah dan beberapa fitur baru yang sebenarnya biasa saja, hanya fitur yang berhubungan dengan data dan kontrol, bekerja secara mekanik dan elektrik, tak ada yang berhubungan dengan hal-hal yang berbau ruang waktu, mesin waktu, dan sebagainya semisal elektromagnetik seperti pada film-film bertema time travel. Namun, ada satu hal yang sedikit aneh yang sepertinya aku pernah melihatnya, sebuah tulisan kecil bertuliskan "100 bal ,tcejorp erutuf".
“Tulisan apa ini? Aku tak mengerti, rasanya aku pernah melihatnya, tapi aku tidak yakin apakah aku benar-benar pernah melihatnya atau itu hanya sebuah déjà vu, namun jika memang pernah, kapan dan dimana?”
Setelah bosan bermain-main dengan lemari yang terduga sebuah mesin waktu, aku berjalan menuju sofa untuk beristirahat. Disana aku melihat sebuah laptop berbentuk kertas yang tergeletak di meja logam transparan disamping sofa. Saat aku hendak mengambilnya, laptop tersebut menyala dengan sendirinya dan berkata "Hello, how are you? Are you okay?" Aku balas "Hmmm..No! I'm confused".
Kemudian kami pun berbincang-bincang untuk dalam beberapa waktu kedepan.
"Can you tell me where are we?" "In Sky city, United Galaxy" "Is it in Earth?" "No, earth has been destroyed 128.381 years ago" "What? You must be kidding!" "No, I am right, you are sent here by 'Next Generation Teleporter Device 1000' from "100 bal ,tcejorp erutuf", It's a top secret lab that did a research about space and time"  "How do you know that?" "I am a super high intelligence computer with special Artificial Intelligence, so I know everything who happened before" "So, I am moved here by a space and time machine device?" "Yes" "Can I go back?"
Suatu saat entah mengapa layar laptop itu tiba-tiba mati, bersamaan dengan lampu ruangan dan juga semua lampu kota yang mati seketika. Saat itu aku benar-benar ketakutan, berada di lantai 20 di tengah malam di suatu tempat asing dengan kondisi gelap tanpa cahaya.
Tiba-tiba telepon ruangan berdering.
"Kok bisa? Padahal tidak ada listrik".
Dering itu tidak berhenti walau sudah 2 menit berlangsung.
Karena aku semakin merinding, aku pun mengangkat telpon itu. Tiba-tiba aku mendengar suara
"..............."
Suara itu terdengar seperti sebuah sinyal yang frekuensinya berubah-ubah, aku sama sekali tidak mengerti apa maksud dari suara itu.
Tiba-tiba, kaca ruagan ini pecah seketika seperti dihantam oleh sebuah benda yang besar, jantungku berdetak begitu kencang karena kaget, dan saat aku melirik kearah jendela, dari jarak sekitar 100 meter aku melihat sebuah pesawat berbentuk kubus dengan ukuran kira-kira sebesar gunung fuji Jepang sedang bergerak ke arah apartemenku.
Aku sangat ketakutan, kemudian tiba-tiba laptop tadi menyala dengan sendirinya, kali ini tanpa suara, hanya muncul tulisan "The sound in the phone means : I found you!"
Setelah itu laptop tersebut mati lagi.
Saat ku kembali melihat jendela, pesawat itu sudah berada 10 meter di depanku.
Setelah itu terjadi ledakan super dahsyat yang setara dengan 1000 kali gabungan ledakan bom atom Hiroshima dan Nagasaki. Kota tersebut hancur seketika, lenyap tak meninggalkan jejak.
---
Ketika aku membuka mata, aku memutar kepala ke sebelah kiri, melihat kea rah jendela yang berada tepat disebelah kiri bangkuku.
Kulihat mentari sore hari menyinari ruangan kelas yang telah sepi ini,
"Jadi, aku ketiduran lagi ya?"
Lalu saat ku menoleh ke depan kelas, aku melihat pak guru sedang merapikan buku-bukunya, setelah selesai ia pun menghampiriku lalu berkata sambil tersenyum
"Apakah kamu sudah selesai mengisi kuesioner itu?"
"Kuesioner? Gawat, aku lupa!"
Sebelum kelas dimulai, kami diberi selembaran untuk memilih apa yang akan kita lakukan setelah tamat dari SMA ini dan kuesioner ini tentunya sangat penting sebab akan menentukan masa depanku.
Aku menjawab "Belum", aku bingung harus mengisi apa, dari dulu aku masih belum tahu apakah aku akan langsung kerja atau lanjut perguruan tinggi. Meskipun saat ini tinggal beberapa hari lagi menuju kelulusan dari SMA ini, aku tetap belum memiliki gambaran akan masa depanku.
Karena aku terlihat begitu kebingungan, pak guru pun memberi beberapa patah nasihat.
"Pilihlah apa saja yang engkau inginkan muridku. Namun, engkau harus yakin bahwa pilihanmu itu adalah pilihan yang tepat, pilihan yang akan memberimu manfaat bagimu dan orang sekitarmu, pilihan yang akan membuatmu menjadi seseorang di masa yang akan datang, dan yang pasti, pilihan yang akan memberimu kesuksesan dunia akhirat. Muridku…Yakinlah bahwa Allah telah merencanakan masa depan yang terbaik bagimu. Kau tak perlu khawatir, jalan mana pun yang engkau lalui, asalkan engkau serius dan bersungguh-sungguh dalam menapakinya, engkau pasti akan mendapatkan hasil yang baik. Ingatlah itu!"
Setelah mendengar nasihat bijaksana dari guruku yang hobi baca kitab-kitab karya ulama dan buku-buku nasihat serta motivasi dan inspirasi ini, aku pun mendapat ilham, kemudian aku menulis pilihan  berdasarkan keinginan hatiku, sesuai yang aku inginkan sejak dulu dan yang orang tuaku harapkan dariku.
Sepuluh tahun kemudian.
Aku sengaja mengunjungi SMA yang meninggalkan kenangan ini untuk menemui seseorang yang mungkin sangat berarti bagiku.
Ketika bel istirahat berdering, siswa-siswi kelas XII keluar dari kelas yang saat ini menjadi mantan kelasku. Hingga akhirnya seseorang yang aku tunggu-tunggu muncul dihadapanku.
Tak lama kemudian ia menyadari siapa orang yang berdiri dihadapannya itu.
Awalnya ia terlihat tak percaya, namun kemudian ia pun menghampirinya dengan wajah tersenyum tulus, entah itu senyum kagum atau senyum rindu.
---
Apakah yang terjadi selanjutnya? Apa yang telah aku capai? Apakah aku telah menjadi seseorang? Seseorang yang sukses? Seseorang yang hebat?
Semua masih menjadi misteri!