Malam itu, perutku memintaku
untuk membeli sesuatu. Aku pun bergegas mencari tempat akan yang menjual
makanan yang bisa dimakan. Hingga akhirnya, perjuangan ku hampir membuahkan
hasil, namun belum berhasil. Meskipun saat ini aku berada diantara warung soto,
sate, dan bakso, aku masih bimbang untuk
menentukan makanan apa yang harus aku beli. Aku terus memikirkannya selama
beberapa menit. Apa yang akan aku beli?. Aku pun mulai memikirkan metode yang
harus aku gunakan untuk memilih makanan karena aku tidak mau menentukan pilihan
yang salah. Aku harus berhati-hati dalam memilih, harus memilih dengan bijak,
dan dengan alasan yang kuat. Namun aku bingung, atas dasar apa aku menentukan
makanan yang akan ku makan. Kebutuhan?, keinginan?, harga?, rasio? Bisikan hati?
Aku tidak tahu. Tiba-tiba aku teringat beberapa penggalan kata yang aku rasa
pernah aku dengar ketika akku kecil, “malu bertanya sesat dijalan”. Aku pun
merasa yakin, mungkin ini solusi dari masalahku saat ini. Baiklah, aku akan
bertanya.
“Pak,
menurut pandangan bapak, makanan apakah yang harus saya beli mala ini? Soto,
sate, atau bakso?” Ia menjawab “Sate” lalu aku mempertanyakannya “Kenapa sate?”
Namun sepertinya ia tidak tahu harus menjawab apa, mungkin ia keheranan akan
adanya di dunia ini seseorang yang menanyakan makanan yang akan dimakannya dan
meminta alasan mengapa emilih makanan tersebut. Untuk mepersingkat waktu saya
persilakan mulut saya untuk mengatakan “Pak saya pesan satu porsi, dimakan
disini”. Aku pun duduk dikursi dekat meja yang telah disediakan bapak penjual
sate itu bagi pelanggannya.
5 menit… kemudian…
Ketika
ku buka mataku setelah menutup mata akibat proses berkedip, aku melihat
beberapa sate terbang menghampiriku. Keren, ada sate terbang! Naun setelah
dipikir-pikir, ini bukanlah terbang menurutku, konyol sekali jika sate bisa
terbang. Pasti piringnya yang terbang. Ya benar, sate yang naik piring terbang
itu akhirnya mendarat di meja yang ada di depanku. “Inilah saatnya..” pikirku.
Pada
saat aku menggigit sate di tusuk yang ke-5, aku merasa ada yang janggal. Ko
susah yang, berulang kali aku mencoba menggigit potongan daging sebelah kanan,
urutan ke-4 dari kiri, dan menarik dengan lemah lembut tusuk sate ke arah
kanan, tetap saja susah. Namun aku tidak pernah menyerah. Aku teringat
perkataan kakakku sepuluh tahun yang lalu saat aku berusia 5 tahun, dia 7
tahun, saat itu kami sedang di panta miembuat istana dari pasir. Saat itu, aku
merasa sebutiran debu yang berada dipojok ruangan, aku merasa tak bisa apa-apa.
Jika kamu bisa melihat ingatanku ini, kamu akan tahu betapa bedanya istana
buatanku dengan buatan kakakku. Ia membuat istana yang sangat indah, detail,
dan membuat orang-orang yang berjalan melewati kami mmelirik ke arah istananya
dengan tampang kagum, tak heran sebab istananya seperti sungguhan, pintunya,
jendelanya, pola-pola pada dindingnya, jebatan, sungai, Menara, hingga puteri
yang sedang berdiri didekat jendela Menara pun terpampang di istananya,
sedangkan punyaku, hanyalah seperti ember terbalik yang diberi pintu dan jendela.
Ketika aku berdiri untuk enyerah, kakakku yang memiliki kapasitas otak luar
biasa dengan visi yang akurat dan jelas itu menatapku dan berkata padaku “Jangan
menyerah adikku! kamu pasti bisa membuat sesuatu sepertiku, hanya saja butuh
waktu dan kerja keras. Teruslah mencoba dan bekerja keraslah! Ingatlah bahwa
suatu saat nanti, kerja keras akan menjadi salah satu kehebatan yang akan
sangat berguna di masa depan.” Aku berpikir, mungkin ini yang dimaksud kakakku,
dengan semangat dan rasa percaya diri yang eningkat, aku mulai bekerja keras
menarik potongan daging itu, hingga, ssrrrrttt… “Akhirnya..” Aku berhasil yay.
Hingga
suatu saat, tiba-tiba ada angin kencang yang menggerakkan tisu ke baju ku, dan
saat aku hendak mengambil tisu itu, aku terkaget setengah hidup. “A..a..apa
ini…?”. Setelah kupikir masalah telah berakhir. Tertanya pikiran itu ilusi.
“Aku rasa bukan ini yang dimaksud kakakku. Mungkin yang ia maksud adalah kerja
keras dalam eraih impian seperti masuk universitas favorit, atau kerja keras untuk
menjadi ahli disuatu keterampilan, dsb”. Kuambil tisu bersih, lalu kusapu noda hitam
yang membandal itu dari baju putihku, namun tak kunjung berhasil. Awalnya aku
akan panik, tapi.. “By the way baju ini kan bakalan dicuci besok sesuai
jadwal pencucian pakaian sistematis yang aku buat. Santai aja kali” Aku pun
dengan santainya melupakan kejadian tersebut, laksana bayi yang polos tak
bersalah, ku abil uang 20.000 dari saku kiri ku sambal berjalan menuju sang
penjual. Namun…, ditengah perjalanan menuju penjual, aku melihat tepat
disebelah kanan kursi tempat aku makan tadi, ada dua orang pengawal yang sedang
melakukan sesuatu. Yang pertama mengelap bumbu di baju dan dasinya, yang
satunya lagi melepaskan jas hitam yang kotor akibat bumbu sate dari seseorang
yang sedang duduk manis itu. Ketika aku berada diposisi dalam mebentuk huruf T
dengan mereka, tiba-tiba ketiganya menatapku. Aku gelisah, jangan-jangan itu
adalah kepingan bumbu sate milikku, keringatku pun bercucuran, air ludahku pun
sulit ku telan, kakiku pun sulit melangkah. Aku berpikir “Apakah ini akhir
kisahku?”,”dalam cerita ini maksudnya”. Dengan susah payah aku engatakan
“Ma..ma..ma..maaf!” Setelah itu aku pasrah dan setelah itu akupun menutup
mataku.
Saat ku
buka mataku yang kututup akibat takut, ketiga orang tadi telah hilang dari
depan ku. “Kemana mereka? Apakah yang tadi itu mimpi? Tidak mungkin sih, aku
kan tidak tidur tadi. Bodo amat sih, ngapain dipikirin” Akupun embayar
makananku dan pergi meninggalkan tepat itu dengan kondisi seperti diparagraf
sebelumnya, Aku pun dengan santainya melupakan kejadian tersebut, laksana bayi
yang polos tak bersalah. Ditengah perjalanan pulang aku berpikir “Gak seru ih,
ko ga ada aksi-aksi kaya di film-film, si pengawalnya menghadang si terdakwa,
lalu sang terdakwa mencoba kabur, setelah berhasil kabur, ia dikejar-kejar
mereka, berlari-lari sepanjang hari, melewati kolong jembatan, atap gedung,
gang-gang sempit, pasar, desa, sungai, gunung, dll.”